Disaksikan Presiden Prabowo di Washington, Pertamina–Halliburton Teken MoU Strategis: Nafas Baru Lapangan Minyak Tua, Harapan Baru Ketahanan Energi Bangsa

Minggu | 22 Februari 2026 | Pukul | 10:15 | WIB

Mediapatriot.co.id | Washington D.C., USA | Berita Terkini – Di tengah dinamika geopolitik dan tekanan transisi energi global, Indonesia mengirimkan pesan tegas dari jantung kekuatan ekonomi Amerika Serikat.

Di ruang pertemuan bergengsi U.S. Chamber of Commerce, Washington D.C., PT Pertamina (Persero) resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama pemulihan lapangan minyak (oilfield recovery) dengan raksasa jasa energi dunia, Halliburton.

Penandatanganan dilakukan langsung oleh Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, dan President Director Halliburton Indonesia, Ankush Balla, serta disaksikan oleh Prabowo Subianto.

Momentum ini menjadi bagian dari 11 kesepakatan investasi dalam rangkaian Indonesia–US Business Summit, sebuah forum strategis yang mempertemukan pemimpin pemerintahan dan pelaku usaha dari dua negara.

Lebih dari sekadar seremoni diplomatik, kesepakatan ini memuat pesan strategis: Indonesia tidak tinggal diam menghadapi penurunan produksi migas nasional.

Negara hadir, BUMN bergerak, dan kolaborasi global diorkestrasi demi memastikan kedaulatan energi tetap berdiri tegak.

Menghidupkan Kembali yang Hampir Redup

Kerja sama ini difokuskan pada pemulihan lapangan-lapangan minyak yang telah mengalami penurunan produksi alami (natural decline).

Dalam terminologi industri, lapangan mature bukanlah aset usang, melainkan sumber daya yang membutuhkan sentuhan teknologi lanjutan untuk kembali produktif.

Simon Aloysius Mantiri menegaskan bahwa kolaborasi dengan Halliburton merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi domestik melalui penerapan teknologi oilfield recovery dan enhanced oil recovery (EOR).

Pendekatan ini bukan sekadar meningkatkan angka produksi, melainkan juga memperkuat fondasi ketahanan energi nasional.

“Dengan dukungan teknologi dan pengalaman global, kami optimistis lapangan-lapangan mature dapat kembali memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi nasional,” tegas Simon.

Di balik pernyataan tersebut, tersirat kalkulasi ekonomi dan geopolitik yang matang.

Ketergantungan pada impor energi bukan hanya isu neraca perdagangan, melainkan juga soal daya tawar bangsa dalam percaturan global.

Setiap barel yang berhasil dipulihkan dari dalam negeri adalah penguatan posisi strategis Indonesia.

Transfer Teknologi dan SDM: Investasi Tak Kasat Mata

Kerja sama ini juga memuat dimensi yang lebih dalam: transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Halliburton, sebagai salah satu pemain utama dalam layanan pengeboran dan teknologi EOR, membawa pengalaman global yang diharapkan mampu mempercepat adopsi standar operasi kelas dunia di lingkungan Pertamina.

Sinergi ini membuka peluang peningkatan kompetensi tenaga kerja nasional, memperluas pemahaman terhadap praktik terbaik industri, serta memperkuat ekosistem energi berbasis inovasi.

Dalam konteks pembangunan jangka panjang, transfer pengetahuan jauh lebih berharga dibanding sekadar tambahan produksi. Ia adalah investasi intelektual yang menentukan daya saing bangsa di masa depan.

Diplomasi Energi dan Keseimbangan Perdagangan

Dalam forum US–Indonesia Exclusive Business Roundtable, Presiden Prabowo menyampaikan optimismenya terhadap masa depan hubungan bilateral kedua negara.

Ia menekankan bahwa kunjungan ini membawa agenda strategis, termasuk penyelesaian perjanjian dagang besar yang telah dinegosiasikan secara intensif selama beberapa bulan terakhir.

“Kita telah mencapai kesepakatan yang solid dalam banyak isu,” ujar Presiden.

Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan diplomasi ekonomi yang progresif.

Kesepakatan energi tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi menjaga keseimbangan perdagangan sekaligus memperluas peluang investasi.

Dalam lanskap global yang semakin kompetitif, kemitraan strategis menjadi instrumen penting untuk memperkuat stabilitas ekonomi nasional.

Energi sebagai Pilar Kedaulatan

Kerja sama Pertamina–Halliburton menandai babak baru dalam upaya Indonesia mengelola sumber daya energi secara lebih adaptif dan berkelanjutan.

Ketika lapangan-lapangan tua diberi kesempatan kedua melalui teknologi modern, yang dipulihkan bukan hanya produksi minyak—tetapi juga harapan terhadap kemandirian energi.

Bagi Pertamina, langkah ini merupakan afirmasi komitmen terhadap agenda pemerintah dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional.

Bagi Indonesia, ini adalah sinyal bahwa transformasi sektor migas tidak lagi dapat ditunda.

Di Washington, kesepakatan telah diteken.

Namun maknanya melampaui batas ruang pertemuan. Ia menyentuh hulu industri, menyentuh neraca perdagangan, dan pada akhirnya menyentuh kehidupan rakyat yang menggantungkan stabilitas ekonomi pada kepastian energi.

Di tengah tantangan global, Indonesia memilih untuk tidak menyerah pada natural decline. Sebaliknya, bangsa ini memilih bangkit—dengan teknologi, kolaborasi, dan keyakinan bahwa energi adalah denyut nadi kedaulatan.

(RML | Redaksi | Mediapatriot.co.id)