Minggu | 22 Februari 2026 | Pukul | 15:15 | WIB
Mediapatriot.co.id | Langkat, Sumatera Utara | Berita Terkini – Pemandangan berbeda tersaji di halaman Mapolres Langkat, jajaran Polres Langkat, yang berada di bawah naungan Polda Sumatera Utara.
Tidak ada sekat kaku antara aparat dan warga binaan “Tutur AKBP David Triyo Prasojo, S.H., S.I.K., M.Si (21/2/2026)
Tidak terdengar nada perintah yang menekan.
Yang tampak justru kehangatan: para personel duduk melingkar, menyantap hidangan bersama para tahanan dalam suasana penuh kekeluargaan.
Di ruang yang biasanya identik dengan pengamanan ketat dan prosedur formal, momen itu menghadirkan nuansa berbeda.
Makan bersama bukan sekadar agenda seremonial, melainkan simbol kuat bahwa hukum dapat ditegakkan tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.
Kegiatan tersebut menjadi cerminan pendekatan humanis yang kini terus diperkuat di lingkungan kepolisian.
Penegakan hukum, sebagaimana dipahami secara konstitusional, memang menuntut ketegasan dan kepastian.
Namun, di balik itu, terdapat nilai yang tak kalah penting: empati dan pembinaan.
Dalam konteks sosial, para tahanan adalah individu yang tengah berhadapan dengan proses hukum. Status tersebut tidak serta-merta menghapus hak dasar mereka sebagai manusia.
Prinsip inilah yang tampaknya hendak ditegaskan melalui kegiatan sederhana namun sarat makna tersebut.
Secara psikologis, interaksi yang egaliter antara aparat dan tahanan mampu menciptakan ruang refleksi.
Duduk bersama, berbagi makanan, dan berkomunikasi secara terbuka menjadi medium membangun kesadaran bahwa proses hukum bukanlah akhir dari segalanya.
Ada kesempatan untuk berbenah, memperbaiki diri, dan kembali menjadi bagian produktif dari masyarakat.
Pendekatan humanis dalam institusi penegak hukum bukanlah bentuk pelonggaran terhadap aturan.
Justru sebaliknya, ia memperkuat legitimasi moral lembaga. Ketika aparat mampu menempatkan diri tidak hanya sebagai penegak aturan, tetapi juga sebagai pembina, maka kepercayaan publik akan tumbuh secara organik.
Momentum makan bersama itu juga mematahkan stigma bahwa ruang tahanan adalah ruang yang sepenuhnya terasing dari nilai-nilai sosial.
Dalam suasana hangat tersebut, batas psikologis antara “penjaga” dan “yang dijaga” mencair, tanpa menghilangkan batas struktural yang tetap dijaga secara profesional.
Langkah yang dilakukan Polres Langkat ini menjadi pesan penting bagi masyarakat luas:
bahwa hukum bukan sekadar instrumen represif, melainkan juga sarana korektif dan edukatif.
Nilai keadilan tidak hanya diukur dari seberapa tegas sanksi dijatuhkan, tetapi juga dari seberapa besar peluang perubahan diberikan.
Di tengah sorotan publik terhadap berbagai isu penegakan hukum, inisiatif seperti ini menjadi oase.
Ia menunjukkan bahwa institusi kepolisian terus berupaya membangun wajah yang lebih humanis dan responsif terhadap dinamika sosial.
Tentu, tantangan penegakan hukum di era modern tidaklah ringan.
Kompleksitas kasus, ekspektasi masyarakat yang tinggi, hingga tekanan arus informasi digital menuntut profesionalitas tanpa cela.
Namun, di balik semua itu, sentuhan empati tetap menjadi fondasi yang tak boleh ditinggalkan.
Makan sepiring bersama tahanan mungkin terlihat sederhana.
Tetapi dalam perspektif sosial dan moral, ia adalah pernyataan sikap: bahwa setiap manusia, betapapun ia tersandung masalah hukum, tetap memiliki martabat yang harus dihormati.
Polres Langkat, melalui momen tersebut, seolah ingin menegaskan satu hal—penegakan hukum yang berkeadaban tidak pernah kehilangan ketegasannya.
Ia justru menemukan kekuatannya ketika dijalankan dengan hati.
(Kabiro Langkat | Mediapatriot.co.id)











Komentar