Minggu | 22 Februari 2026 | Pukul | 19:20 | WIB
Mediapatriot.co.id | Depok | Berita Terkini – Di tengah denyut Ramadan yang selalu identik dengan lonjakan konsumsi, negara memilih hadir lebih awal.
Bukan sekadar melalui rapat-rapat koordinasi, melainkan dengan menjejak langsung lantai pasar tradisional.
Minggu (22/2/2026), jajaran Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan) melakukan inspeksi mendadak (sidak) di dua simpul ekonomi rakyat Kota Depok, yakni Pasar Depok Jaya dan Pasar Kemiri Muka.
Langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, yang menegaskan bahwa stabilitas harga pangan selama Ramadan hingga Idulfitri bukan sekadar target administratif, melainkan komitmen moral negara terhadap rakyatnya.
“Kami terus memperkuat koordinasi. Jika ditemukan kenaikan harga yang tidak wajar, pemerintah bersama aparat terkait akan segera mengambil langkah penanganan,” tegasnya dalam keterangan resmi.
Harga Ayam dan Telur Tetap Rasional
Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan bahwa komoditas peternakan—yang lazim menjadi indikator awal gejolak harga—masih berada dalam batas wajar.
Di Pasar Depok Jaya, telur ayam ras dijual sekitar Rp32.000 per kilogram, sementara daging ayam ras bertengger di kisaran Rp37.000 per kilogram.
Situasi serupa terlihat di Pasar Kemiri Muka.
Telur ayam ras diperdagangkan pada kisaran Rp31.000 per kilogram, sedangkan daging ayam ras berada di rentang Rp37.000 hingga Rp40.000 per kilogram.
Untuk daging sapi, harga terpantau sekitar Rp140.000 per kilogram—angka yang dinilai masih stabil dengan ketersediaan pasokan yang mencukupi.
Direktur Pakan Kementan, Tri Melasari, menegaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan rantai pasok komoditas peternakan berjalan relatif normal.
“Harga daging ayam rata-rata masih berada di kisaran Rp37.000–Rp40.000 per ekor. Ini menunjukkan pasokan dan harga tetap terjaga,” ujarnya.
Stabilitas ini menjadi penanda bahwa upaya penguatan produksi, distribusi, dan pengawasan yang dilakukan pemerintah mulai menunjukkan hasil konkret di tingkat pasar.
Antisipasi Lonjakan dan Pengawasan Ketat
Meski demikian, pemerintah tidak menutup mata terhadap dinamika komoditas lain.
Minyak goreng bersubsidi “Minyakita”, bawang merah, serta cabai merah tercatat mengalami kenaikan harga.
Fenomena ini terus dipantau secara intensif melalui koordinasi lintas kementerian dan aparat penegak hukum.
Dalam perspektif ekonomi pangan, Ramadan selalu menghadirkan tekanan permintaan yang lebih tinggi dibanding bulan-bulan biasa.
Tanpa intervensi dan pengawasan yang konsisten, disparitas harga dapat terjadi dalam waktu singkat.
Karena itu, sidak bukan sekadar agenda simbolik, melainkan instrumen pengendalian berbasis data lapangan.
Kementan juga mencatat pasokan ayam di tingkat pedagang relatif melimpah.
Namun percepatan distribusi tetap menjadi perhatian utama guna mencegah potensi bottleneck yang dapat memicu kenaikan harga di tingkat konsumen.
Negara Hadir di Tengah Pasar Rakyat
Bagi masyarakat kecil, stabilitas harga bukan sekadar angka statistik.
Ia menyentuh dapur, menentukan kualitas gizi keluarga, dan menjaga daya beli di tengah tekanan ekonomi.
Dalam konteks inilah, kehadiran pemerintah di pasar tradisional memiliki makna lebih dalam:
memastikan bahwa mekanisme pasar tetap adil dan tidak dimanfaatkan oleh praktik spekulatif.
Sidak rutin yang dilakukan selama Ramadan menjadi bagian dari strategi menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan keberlanjutan usaha petani serta peternak.
Negara tidak hanya mengawal harga agar tetap terjangkau, tetapi juga memastikan produsen memperoleh margin usaha yang layak.
Melalui langkah pengawasan yang berkelanjutan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas pangan nasional hingga Idulfitri.
Di tengah potensi gejolak global dan dinamika domestik, pasar rakyat di Depok menjadi saksi bahwa ketahanan pangan tidak lahir dari retorika, melainkan dari kerja nyata—langsung menyentuh denyut ekonomi masyarakat.
Ramadan pun berjalan dengan lebih tenang.
Sebab di balik riuh tawar-menawar dan aroma bumbu dapur, ada kepastian bahwa harga masih berpihak pada kewarasan—dan pada rakyat.
(RML | Redaksi | Mediapatriot.co.id)

