TEGAL – Media Patriot Nasional – Malam Minggu kemarin, Media Patriot Nasional secara tak sengaja menemukan sebuah mutiara berharga di Desa Sidakaton, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal. Mutiara itu bukan benda, melainkan sosok guru taman kanak-kanak yang penuh kreativitas dan dedikasi terhadap seni budaya daerah. Ia adalah Ibu Friti, guru TK Pertiwi Desa Sidakaton yang berhasil menciptakan karya tari bertajuk Tari Petik Melati.
Ibu Friti, demikian ia akrab disapa, merupakan putri dari seorang guru asal Yogyakarta yang sejak tahun 1980-an mengabdi dan menetap di Desa Sidakaton. Sejak kecil, ia telah menunjukkan kecintaannya pada dunia seni tari. Gerak tubuhnya yang luwes dan ketertarikannya pada seni tradisi membuatnya bercita-cita melanjutkan pendidikan di akademi tari.
Namun takdir berkata lain. Keinginannya untuk melanjutkan studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta belum terwujud. Meski demikian, kegagalan tersebut tidak membuatnya patah semangat. Justru ia memilih jalan pengabdian dengan meneruskan perjuangan ibunya sebagai guru taman kanak-kanak.
“Setelah pensiun, ayah saya kembali ke Yogyakarta dan ibu tentu ikut beliau. Karena saya tidak jadi kuliah di ISI Yogya, akhirnya saya melanjutkan pekerjaan ibu menjadi guru TK Pertiwi Desa Sidakaton ini,” ungkap Ibu Friti dengan penuh keikhlasan.
Saat ini, TK Pertiwi Desa Sidakaton memiliki lebih dari 180 siswa yang berasal dari Desa Sidakaton dan sekitarnya. Di sela-sela aktivitas mengajar, Ibu Friti tak pernah meninggalkan kecintaannya pada seni tari. Ia bukan hanya mengajarkan gerakan tari kepada anak-anak didiknya, tetapi juga menciptakan karya tari sendiri.
Salah satu karya yang kini menjadi kebanggaannya adalah Tari Petik Melati. Tarian ini terinspirasi dari potensi daerah Kabupaten Tegal, khususnya tanaman melati yang banyak dibudidayakan masyarakat di wilayah Suradadi dan Warureja.
“Saya senang menari. Selain mengajari anak-anak, saya juga menciptakan tarian. Namun untuk musiknya, sementara ini masih menggunakan musik yang tersedia di TikTok karena belum digarap secara khusus,” jelasnya.
Ibu Friti berharap ada seniman dan pemusik dari Kabupaten Tegal yang bersedia membantu menggarap musik pengiring secara profesional. Ia meyakini bahwa jika dikemas dengan serius, Tari Petik Melati bisa menjadi ikon budaya daerah.
Lebih jauh, ia juga memiliki gagasan untuk menciptakan Tari Medang, sebuah tarian yang mengangkat tradisi minum teh khas masyarakat Tegal. Kabupaten Tegal dikenal sebagai salah satu penghasil teh terbaik, dan tradisi minum teh telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakatnya.
“Saya ingin Tari Medang menceritakan kebahagiaan masyarakat Tegal dalam tradisi minum teh. Tapi tentu musiknya harus digarap serius oleh pakar musik tari,” tambahnya.
Ibu Friti bahkan memiliki harapan besar agar Pemerintah Kabupaten Tegal dapat mendukung pentas kolosal Tari Petik Melati dan Tari Medang. Menurutnya, jika Bupati Tegal berkenan memberikan dukungan, kerja sama bisa melibatkan tiga pabrik teh besar di Kabupaten Tegal untuk mendukung pembiayaan pertunjukan tersebut.
Ia membayangkan pementasan kolosal itu dapat digelar pada momen penting seperti Hari Santri Nasional atau puncak peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2026 mendatang.
“Harapan saya, Bupati Tegal mempercayakan kepada saya untuk menggarap tari khas Kabupaten Tegal secara kolosal dengan iringan gamelan dan dukungan para seniman dari Dewan Kesenian Kabupaten Tegal,” ujarnya penuh harap, didampingi sang suami yang merupakan pamong Desa Sidakaton.
Karya Ibu Friti sebenarnya bukan tanpa apresiasi. Pada tahun 2022, karyanya pernah mendapat perhatian dari Ibu Bupati Tegal saat itu, Ummi Azizah. Tarian yang mengangkat potensi tanaman melati tersebut mendapat respons positif karena dinilai mampu mempromosikan kekayaan lokal melalui seni pertunjukan.
Tak hanya itu, mahasiswa IBN Slawi yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sidakaton juga memberikan ruang bagi Ibu Friti untuk kembali menampilkan karyanya dalam acara puncak kegiatan mereka. Penampilan tersebut mendapat sambutan meriah dari masyarakat setempat.
Pertemuan Ibu Friti dengan seniman Paro Wulan semakin memotivasinya untuk terus berkarya dan menularkan kecintaannya terhadap seni kepada generasi muda. Baginya, seni bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pendidikan karakter dan pelestarian budaya daerah.
Kini, ia tidak lagi memikirkan masa lalu yang belum sempat diperjuangkan hingga puncak karier seni. Fokusnya adalah berkarya untuk Kabupaten Tegal dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak didiknya.
Di tengah kesederhanaannya sebagai guru TK desa, Ibu Friti membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal batas. Dari ruang kelas kecil di Desa Sidakaton, lahir gagasan besar tentang tari khas daerah yang berpotensi menjadi identitas budaya Kabupaten Tegal.
Harapannya sederhana namun penuh makna: agar Tari Petik Melati dan Tari Medang dapat menjadi kebanggaan bersama masyarakat Tegal serta mendapat dukungan nyata dari pemerintah daerah dan para pelaku seni.
(Nurdibyo)










