Tegal, 25 Februari 2026 – Ratusan mahasiswa Universitas Harkat Negeri Kota Tegal bersama puluhan komunitas seni dan budaya dari Kota Tegal dan sekitarnya menghadiri kegiatan Ngaji Reboan yang digelar di kampus utama Universitas Harkat Negeri, yang berlokasi di sebelah utara Terminal Bus Kota Tegal.
Kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh antusiasme tersebut diprakarsai langsung oleh Rektor Universitas Harkat Negeri. Tema yang diangkat dalam Ngaji Reboan kali ini adalah “Calon Kepemimpinan Publik”, sebuah tema yang dinilai relevan dengan kondisi bangsa dan pentingnya peran generasi muda dalam membangun masa depan Indonesia.
Hadir sebagai pembicara utama, tokoh nasional H. Sudirman Said bersama sastrawan senior sekaligus kiai dan budayawan asal Jawa Tengah, H. Ahmad Tohari. Kehadiran dua tokoh tersebut menjadi magnet tersendiri bagi para mahasiswa dan tamu undangan yang memadati lokasi acara.
Dalam pemaparannya, H. Sudirman Said menekankan pentingnya mahasiswa memiliki sikap, karakter, dan mental kepemimpinan yang kuat. Ia mengajak seluruh mahasiswa Universitas Harkat Negeri untuk membangun jiwa kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai kenabian.
“Mahasiswa harus memiliki sikap dan mental kepemimpinan yang bercermin pada keteladanan para nabi. Kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tetapi tentang integritas, kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab,” ujar Sudirman Said di hadapan peserta Ngaji Reboan.
Menurutnya, nilai-nilai kepemimpinan profetik tersebut sangat penting ditanamkan sejak masa perkuliahan, agar kelak para mahasiswa mampu menjadi pemimpin publik yang amanah dan berpihak kepada masyarakat.
Sementara itu, H. Ahmad Tohari dalam kesempatan tersebut membagikan pandangannya tentang kepemimpinan melalui perspektif sastra dan budaya. Ia dikenal sebagai sastrawan yang karya-karyanya banyak mengangkat tokoh-tokoh dengan karakter kuat dan sarat nilai moral.
Sudirman Said menjelaskan alasan menghadirkan Ahmad Tohari dalam Ngaji Reboan kali ini.
“Pak Kiai Ahmad Tohari dalam cerpen dan karya-karyanya banyak mengisahkan tokoh pemimpin yang mencerminkan sikap kenabian. Karena itu, sangat tepat jika kami mengundang beliau untuk memberikan materi di pengajian kampus kami ini,” jelasnya.
Diskusi berlangsung interaktif, dengan mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan seputar tantangan kepemimpinan generasi muda di era modern. Suasana semakin hangat ketika pembahasan menyentuh peran kaum intelektual dalam menjaga nilai-nilai moral di tengah dinamika sosial dan politik.
Kegiatan Ngaji Reboan tersebut ditutup dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama seluruh peserta yang hadir, menambah keakraban dan semangat kebersamaan di antara civitas akademika dan para tamu undangan.
(Nurdibyo)
