Mediapatriot.co.id, – Kebumen – Rumah itu belum berdiri sempurna. Dindingnya masih setengah terbuka, rangkanya masih telanjang, dan atapnya belum sepenuhnya memeluk langit.
Namun di balik setiap papan yang terpasang dan setiap paku yang tertanam, harapan mulai menemukan bentuknya. Itulah rumah milik Bapak Sarikin, yang kini tengah berjuang bangkit melalui sentuhan tangan-tangan pengabdian.
Di sudut tenang Desa Somagede, prajurit dari Kodim 0709 Kebumen hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari perjuangan itu sendiri.
Dalam program TMMD, mereka menjadi perantara harapan, membantu merehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik Bapak Sarikin yang selama ini berdiri rapuh melawan waktu.
Pagi demi pagi, langkah-langkah mereka kembali datang, membawa semangat yang tak pernah surut.
Kayu-kayu diangkat dengan keteguhan, semen diaduk dengan kesabaran, dan setiap sudut rumah disentuh dengan ketulusan. Dentingan palu menggema seperti detak jantung pengabdian, menandakan bahwa kehidupan baru sedang diperjuangkan.
Rumah itu memang belum selesai. Namun bagi Bapak Sarikin, setiap perubahan kecil adalah cahaya. Setiap dinding yang mulai terpasang adalah bukti bahwa ia tidak lagi sendirian.
Matanya mengikuti setiap gerakan prajurit TNI, menyimpan rasa haru yang tak terucap, namun terasa begitu dalam.
“Terimakasih Bapak TNI,” ujar Sarikin dengan suara datar saat membantu mengangkat kayu lapuk bekas tiang rumahnya, Jum’at 27 Februari 2026.
Keringat yang jatuh ke tanah bukan sekadar lelah, melainkan janji. Janji bahwa negara hadir, janji bahwa rakyat tidak ditinggalkan.
Di balik seragam loreng yang mereka kenakan, ada ketulusan yang bekerja tanpa pamrih, mengubah keterbatasan menjadi harapan yang perlahan nyata.
Proses rehabilitasi ini masih berjalan. Rumah itu masih dalam perjalanan menuju bentuk terbaiknya.
Diantara rangka yang berdiri dan debu yang beterbangan, satu hal sudah pasti—harapan telah kembali menyala.
Di wilayah Kebumen, TMMD bukan sekadar program pembangunan. Ia adalah jembatan antara pengabdian dan kehidupan. Karena bagi prajurit, setiap rumah yang diperjuangkan adalah simbol bahwa mereka tidak hanya menjaga negeri, tetapi juga menjaga harapan yang hidup di dalamnya.
Dan di rumah Bapak Sarikin, meski belum selesai, masa depan itu kini sedang dibangun—perlahan, pasti, dan penuh makna.
Rie











Komentar