Selat Hormuz Membara, Dunia Tercekik: Harga Minyak Tembus US$ 80 dan Terancam Melonjak ke US$ 100, Indonesia Waspada Dampak Berantai

Judul Halaman
%%footer%%

Senin | 2 Maret 2026 | Pukul | 10:30 | WIB

Mediapatriot.co.id | Jakarta | Berita Terkini – Gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang sendi-sendi ekonomi global.

📲 Simak Berita Terpercaya Langsung di Ponselmu!

Ikuti MediaPatriot.CO.ID lewat WhatsApp Channel resmi kami:
👉 Klik di sini untuk bergabung

Harga minyak mentah dunia melonjak hingga 10 persen dan menyentuh level US$ 80 per barel pada Minggu, dipicu eskalasi konflik pascaserangan militer Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran.

Lonjakan harga ini bukan sekadar reaksi sesaat pasar.

Para analis memperingatkan, jika ketegangan terus berlanjut dan jalur distribusi energi global terganggu, harga minyak berpotensi menembus US$ 100 per barel—sebuah ambang psikologis yang dapat memicu efek domino terhadap inflasi, biaya logistik, hingga stabilitas ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Penutupan Selat Hormuz: Titik Tekan Krisis Energi Global

Faktor kunci yang mendorong lonjakan harga bukan semata serangan militer, melainkan langkah Iran menutup Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia.

Sekitar 20 persen pasokan minyak global melintasi selat sempit tersebut setiap hari.

Direktur Energi dan Penyulingan ICIS, Ajay Parmar, menyatakan bahwa dampak terbesar terhadap harga berasal dari gangguan distribusi, bukan hanya ketegangan militer.

Penutupan Selat Hormuz menciptakan kekhawatiran nyata terhadap kelangkaan pasokan, yang secara instan diterjemahkan pasar sebagai risiko besar terhadap stabilitas energi global.

Sejumlah perusahaan pelayaran, pemilik kapal tanker, dan raksasa perdagangan minyak dunia dilaporkan menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, hingga gas alam cair melalui jalur tersebut.

Iran bahkan telah memperingatkan kapal-kapal asing untuk tidak melintas demi alasan keamanan.

Jika penutupan berlangsung berkepanjangan, dunia diperkirakan kehilangan pasokan minyak mentah sebesar 8–10 juta barel per hari akibat keterlambatan dan gangguan distribusi.

Sebuah angka yang cukup untuk mengguncang fondasi keseimbangan pasar energi internasional.

Ancaman US$ 100 per Barel: Bukan Sekadar Spekulasi

Analis memproyeksikan bahwa pembukaan perdagangan minyak selanjutnya dapat bergerak mendekati US$ 100 per barel, bahkan melampaui level tersebut apabila gangguan distribusi terus terjadi.

Kenaikan tajam ini mencerminkan bukan hanya persoalan suplai, melainkan juga sentimen ketidakpastian yang menyelimuti pasar global.

Ekonom energi dari Rystad Energy, Jorge Leon, menjelaskan bahwa sebagian aliran minyak memang dapat dialihkan melalui jalur alternatif seperti pipa Timur–Barat Arab Saudi dan jaringan pipa Abu Dhabi.

Namun kapasitas infrastruktur tersebut tidak sepenuhnya mampu menggantikan volume besar yang biasanya melewati Selat Hormuz.

Artinya, pasar global tetap berada dalam tekanan signifikan selama jalur strategis tersebut belum kembali normal.

Dampak Berantai ke Asia dan Indonesia

Sebagai negara pengimpor minyak bersih, Indonesia berpotensi merasakan dampak langsung dari lonjakan harga ini.

Tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), risiko kenaikan harga BBM nonsubsidi, serta potensi inflasi pada sektor transportasi dan pangan menjadi tantangan yang perlu diantisipasi secara serius.

Lebih jauh, pelemahan nilai tukar akibat tekanan eksternal dapat memperparah beban impor energi.

Di tengah upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional, pemerintah dituntut memperkuat diplomasi energi, mempercepat transisi energi terbarukan, serta mengoptimalkan cadangan strategis nasional.

Dunia di Persimpangan

Krisis ini menjadi pengingat bahwa stabilitas energi global sangat rapuh ketika geopolitik memasuki fase konfrontatif.

Konflik yang bermula dari rivalitas politik dan militer dapat menjelma menjadi krisis ekonomi lintas benua dalam hitungan hari.

Ketika Selat Hormuz membara, bukan hanya negara-negara yang berkonflik yang terdampak.

Dunia ikut menanggung konsekuensinya.

Harga energi yang melonjak berarti beban hidup masyarakat meningkat, industri tertekan, dan pemulihan ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih kembali terancam.

Kini, harapan tertuju pada jalur diplomasi dan de-eskalasi.

Sebab jika konflik terus melebar, lonjakan harga minyak hanyalah awal dari guncangan yang lebih besar—baik bagi pasar internasional maupun bagi dapur-dapur rumah tangga di berbagai penjuru dunia.

(RML | Redaksi | Mediapatriot.co.id)


Wartawan di lapangan dibekali Kode Sandi untuk membuka DAFTAR WARTAWAN Dibawah ini: DAFTAR WARTAWAN >>>





Tentang Kami

Mediapatriot.co.id adalah portal berita online nasional yang menyajikan informasi aktual, terpercaya, dan berimbang.

Didirikan oleh jurnalis senior Hamdanil Asykar, Mediapatriot.co.id berkomitmen menjaga integritas jurnalistik sesuai Kode Etik Dewan Pers.

Misi kami adalah menjadi media digital yang membangun kesadaran publik melalui berita edukatif, mendalam, dan bebas hoaks.

Untuk pertanyaan, saran, atau kerja sama media, silakan kunjungi halaman Kontak.

📲 Simak Berita Terpercaya Langsung di Ponselmu!

Ikuti MediaPatriot.CO.ID lewat WhatsApp Channel resmi kami:
👉 Klik di sini untuk bergabung

Posting Terkait

Jangan Lewatkan