Selasa | 3 Maret 2026 | Pukul | 18:10 | WIB
Mediapatriot.co.id | Jakarta | Berita Terkini – Hubungan historis antara Amerika Serikat dan Inggris kembali menjadi sorotan tajam dunia internasional.
Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengeluhkan apa yang ia sebut sebagai merenggangnya relasi transatlantik kedua negara, menyusul perbedaan sikap terkait konflik di Timur Tengah.
Dalam wawancara dengan surat kabar Inggris The Sun, Trump mengaku terkejut dengan sikap pemerintah Inggris yang dinilai tidak sepenuhnya mendukung langkah militer Washington bersama Israel terhadap Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan atas serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran yang memicu perdebatan global.
“Ini adalah hubungan yang paling solid dari semuanya.
Dan sekarang kita memiliki hubungan yang sangat kuat dengan negara-negara lain di Eropa,” ujar Trump, seraya menyebut Prancis dan Jerman sebagai mitra yang dinilainya semakin kooperatif.
Kecewa pada Sikap Downing Street
Kekecewaan Trump secara spesifik diarahkan kepada Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Ia menyoroti keputusan awal Starmer yang menolak mengizinkan penggunaan pangkalan militer Inggris oleh pasukan Amerika Serikat dalam operasi militernya terhadap Iran.
Trump menilai sikap tersebut sebagai bentuk ketidakharmonisan dalam hubungan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai “special relationship”.
“Dia tidak membantu.
Saya tidak pernah berpikir akan melihat itu.
Saya tidak pernah berpikir akan melihat itu dari Inggris. Kami mencintai Inggris,” kata Trump.
Meski kemudian pemerintah Inggris memberikan izin penggunaan pangkalan dengan syarat tertentu, Trump menilai keputusan tersebut datang terlambat.
“Berguna, tetapi membutuhkan waktu terlalu lama,” ujarnya.
Sehari sebelumnya, dalam wawancara terpisah dengan The Daily Telegraph, Trump bahkan menyebut reaksi Starmer sebagai “sangat mengecewakan”.
Dunia Berubah, Aliansi Pun Bergeser?
Pernyataan Trump bukan sekadar ungkapan emosional, melainkan sinyal diplomatik yang sarat makna geopolitik.
Hubungan AS–Inggris selama ini menjadi tulang punggung stabilitas blok Barat, terutama dalam kerangka NATO dan kebijakan luar negeri kolektif menghadapi krisis global.
Namun dinamika politik domestik Inggris pasca-Brexit serta pendekatan multilateral yang lebih berhati-hati di bawah kepemimpinan Starmer tampaknya menghadirkan nuansa baru dalam relasi tersebut.
London terlihat lebih mempertimbangkan legitimasi internasional dan stabilitas kawasan sebelum memberi dukungan penuh terhadap aksi militer unilateral.
Bagi Washington, terutama di bawah kepemimpinan Trump yang dikenal dengan pendekatan tegas dan transaksional, loyalitas sekutu tradisional memiliki makna strategis yang mendalam.
Ketidaksinkronan sikap dinilai bukan sekadar perbedaan pandangan, tetapi berpotensi menggerus fondasi kepercayaan jangka panjang.
“Ini dunia yang berbeda, sebenarnya. Ini jenis hubungan yang jauh berbeda dari yang pernah kita miliki dengan negara Anda sebelumnya,” tutur Trump, menggambarkan perubahan atmosfer diplomatik yang ia rasakan.
Dampak terhadap Tatanan Global
Retaknya komunikasi politik antara dua kekuatan Barat ini dapat memunculkan implikasi luas.
Di tengah konflik yang melibatkan Iran dan dinamika Timur Tengah yang sensitif, soliditas blok Barat menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan kekuatan global.
Pengamat hubungan internasional menilai bahwa pernyataan Trump mencerminkan tekanan internal dan eksternal yang sedang dihadapi aliansi tradisional.
Ketika kepentingan nasional masing-masing negara semakin menonjol, konsep solidaritas kolektif menjadi lebih kompleks untuk diwujudkan.
Di sisi lain, sikap Inggris yang lebih berhitung dapat dibaca sebagai upaya menjaga stabilitas regional serta menghindari eskalasi yang tidak terkendali.
London tampaknya berusaha menempatkan diri sebagai penyeimbang, bukan sekadar pengikut kebijakan Washington.
“Special Relationship” di Persimpangan Jalan
Sejak era Perang Dunia II, hubungan AS–Inggris kerap disebut sebagai kemitraan paling istimewa dalam sejarah diplomasi modern.
Kerja sama intelijen, pertahanan, hingga perdagangan menjadi pilar utama hubungan kedua negara.
Namun pernyataan Trump bahwa “hubungan itu jelas tidak seperti dulu” menjadi refleksi bahwa aliansi historis pun tidak kebal terhadap perubahan zaman.
Di tengah lanskap geopolitik yang semakin multipolar, loyalitas tradisional diuji oleh realitas baru: kepentingan ekonomi, tekanan domestik, serta persepsi publik terhadap konflik global.
Apakah keluhan Trump akan menjadi sekadar dinamika retorika politik, atau justru penanda babak baru dalam hubungan transatlantik?
Dunia kini menanti bagaimana Washington dan London merajut kembali kepercayaan yang selama ini menjadi simbol persahabatan dua bangsa.
Yang jelas, dalam diplomasi internasional, tidak ada hubungan yang benar-benar statis. Bahkan yang paling “istimewa” sekalipun, dapat berubah seiring waktu dan kepentingan.
(RML | Redaksi | Mediapatriot.co.id)
