Rabu | 4 Maret 2026 | Pukul | 09:30 | WIB
Mediapatriot.co.id | Jakarta | Berita Terkini – Langit Iran belum sepenuhnya reda dari gemuruh perang ketika kabar paling mengguncang itu diumumkan: mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, gugur dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran.
Sosok yang selama lebih dari tiga dekade menjadi poros ideologis dan politik Republik Islam Iran itu kini akan dimakamkan di kota suci Mashhad, tempat ayahandanya bersemayam di kompleks makam Imam Reza.
Kantor berita Fars, seperti dilaporkan AFP, menyebut pemerintah Iran telah menetapkan Mashhad sebagai lokasi peristirahatan terakhir Khamenei.
Sebelum prosesi pemakaman digelar, sebuah “upacara perpisahan besar” akan dilangsungkan di Teheran.
Pernyataan itu disampaikan oleh Garda Revolusi melalui saluran resmi mereka.
Hingga kini, tanggal pemakaman belum diumumkan.
Pemerintah Iran menyatakan pertimbangan keamanan menjadi faktor utama dalam menentukan waktu pelaksanaan prosesi kenegaraan tersebut.
Kota Suci dan Simbol Perlawanan
Mashhad bukan sekadar kota terbesar kedua di Iran.
Ia menyandang gelar Kota Suci karena menjadi lokasi berdirinya Kompleks Suci Imam Reza—makam Imam kedelapan dalam tradisi Syiah Dua Belas Imam.
Bagi jutaan penganut Syiah di seluruh dunia, Mashhad adalah pusat spiritual yang memancarkan legitimasi moral dan religius.
Memakamkan Khamenei di kota ini bukan semata pilihan geografis, melainkan keputusan simbolik.
Ia adalah penegasan kesinambungan antara otoritas politik dan legitimasi keagamaan yang selama ini menjadi fondasi Republik Islam Iran.
Dalam tradisi politik Iran modern, simbolisme memiliki daya kohesif yang kuat, terlebih dalam masa krisis.
Gugur di Tengah Eskalasi
Khamenei dilaporkan tewas pada Sabtu (28/2) waktu Iran dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam sejumlah titik strategis di Teheran.
Serangan tersebut menandai eskalasi paling serius dalam konflik yang selama ini berlangsung dalam bayang-bayang perang proksi dan operasi intelijen.
Kematian Khamenei mengakhiri era kepemimpinan yang dimulai sejak 1989, ketika ia menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Di bawah kepemimpinannya, Iran meneguhkan posisi sebagai kekuatan regional dengan pengaruh luas di Timur Tengah, sekaligus menjadi aktor utama dalam poros perlawanan terhadap Barat dan Israel.
Namun, wafatnya sang pemimpin tertinggi juga membuka babak baru yang penuh ketidakpastian.
Transisi Kekuasaan dan Bayang-bayang Ancaman
Seusai kematian Khamenei, kekuasaan sementara dipercayakan kepada sebuah dewan beranggotakan tiga orang, terdiri dari presiden, kepala peradilan, dan seorang ahli hukum dari Dewan Penjaga.
Dewan ini bertugas menjalankan fungsi kepemimpinan hingga Majelis Pakar—lembaga beranggotakan 88 ulama—memilih pemimpin tertinggi yang baru.
Namun situasi keamanan kian memburuk.
Media Iran melaporkan gedung Majelis Pakar di kota suci Qom, selatan Teheran, dihantam serangan pada Selasa (3/3/2026).
Sehari sebelumnya, markas utama lembaga tersebut di Teheran juga menjadi sasaran.
Serangan ini memperlihatkan bahwa bukan hanya simbol militer, tetapi juga institusi politik dan keagamaan menjadi target.
Fars, mengutip pejabat yang mengetahui proses internal, menyebut bahwa “untuk alasan keamanan”, pertemuan terakhir Majelis Pakar kemungkinan ditunda hingga setelah pemakaman Khamenei.
Penundaan ini dapat memperpanjang masa transisi dan membuka ruang spekulasi politik, baik di dalam maupun luar negeri.
Duka Nasional dan Resonansi Global
Di berbagai kota Iran, ribuan warga dilaporkan turun ke jalan menyatakan duka dan kemarahan.
Bagi sebagian besar pendukungnya, Khamenei bukan sekadar pemimpin politik, melainkan simbol keteguhan ideologis dan penjaga identitas revolusi 1979.
Kematian seorang pemimpin tertinggi dalam serangan langsung kekuatan asing juga menimbulkan implikasi hukum dan geopolitik yang luas.
Dunia internasional kini menanti respons Teheran, sementara kekhawatiran terhadap konflik terbuka berskala regional semakin nyata.
Di tengah suasana berkabung, satu hal menjadi jelas:
pemakaman Khamenei di Mashhad bukan sekadar prosesi akhir kehidupan seorang tokoh.
Ia adalah momentum sejarah—penanda berakhirnya satu era dan dimulainya babak baru yang penuh ketegangan bagi Iran dan kawasan Timur Tengah.
Dentuman rudal mungkin telah merenggut nyawa seorang pemimpin. Namun bagi jutaan pengikutnya, ideologi dan warisan politik yang ia tinggalkan diyakini akan terus hidup—menggema dari Teheran hingga Mashhad, dan mungkin melampaui batas-batas geografis Iran sendiri.
(RML | Redaksi | Mediapatriot.co.id)
