Retaknya “Special Relationship”: Trump Tegur Inggris di Tengah Perang Iran, London Dihadapkan pada Dilema Strategis

Minggu | 8 Maret 2026 | Pukul | 09:15 | WIB

Mediapatriot.co.id | Jakarta | Berita Terkini — Hubungan historis yang selama puluhan tahun dikenal sebagai special relationship antara Amerika Serikat dan Inggris kembali diuji di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.


Baca Juga: Pemimpin Umum Mediapatriot.co.id Hamdanil Asykar Tegaskan Pentingnya UKW bagi Wartawan


Informasi Iklan / Advertorial Klik redaksi@mediapatriot.co.id

Ketegangan terbaru muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyindir pemerintah Inggris yang dinilai terlambat menunjukkan dukungan militer dalam perang melawan Iran.

Pernyataan keras tersebut disampaikan Trump setelah pemerintah Inggris mempertimbangkan pengiriman dua kapal induk ke kawasan Timur Tengah.

Namun menurut Trump, langkah tersebut dianggap sudah tidak relevan karena Amerika Serikat mengklaim mampu memenangkan konflik tanpa bantuan London.

Komentar itu memunculkan sinyal retaknya hubungan strategis antara Washington dan London yang selama ini menjadi pilar penting dalam arsitektur keamanan Barat.

Kritik Terbuka Trump kepada London
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyoroti sikap Inggris yang dinilai ragu memberikan dukungan penuh pada fase awal konflik.

Ia bahkan menyatakan akan mengingat sikap London dalam momen krisis tersebut.

Menurut Trump, Inggris yang dahulu dikenal sebagai sekutu paling dekat Amerika kini justru terlihat berhitung sebelum terlibat secara militer.

“Britania Raya, yang dulu merupakan sekutu hebat kita—mungkin yang terbesar dari semuanya—sekarang baru mempertimbangkan mengirim dua kapal induk ke Timur Tengah,” tulis Trump.

Ia kemudian menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak lagi membutuhkan keterlibatan Inggris dalam konflik tersebut.

“Kami tidak membutuhkan mereka lagi. Kami akan mengingatnya. Kami tidak membutuhkan pihak yang baru bergabung dalam perang setelah kami menang,” tambahnya.

Pernyataan tersebut secara tidak langsung ditujukan kepada Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, yang sebelumnya memutuskan untuk tidak memberikan akses awal kepada militer Amerika Serikat menggunakan pangkalan Inggris dalam serangan terhadap Iran.

Inggris Pertimbangkan Pengiriman Kapal Induk

Di sisi lain, pemerintah Inggris memang tengah mempertimbangkan opsi pengiriman kekuatan militernya ke Timur Tengah.

Salah satu aset yang dipersiapkan adalah kapal induk HMS Prince of Wales.

HMS Prince of Wales (R09) disebut telah disiapkan oleh Kementerian Pertahanan Inggris sebagai bagian dari kemungkinan pengerahan militer apabila situasi keamanan regional semakin memburuk.

Meski demikian, seorang pejabat pertahanan Inggris menyebutkan bahwa hingga kini belum ada keputusan final mengenai pengerahan kapal induk tersebut.

Langkah ini menunjukkan bahwa London masih berhati-hati dalam menentukan tingkat keterlibatan militernya di tengah konflik yang berpotensi meluas.

Starmer Tegaskan Prinsip Legalitas Operasi Militer

Perdana Menteri Keir Starmer membela keputusan pemerintahannya yang tidak langsung memberikan akses pangkalan kepada Amerika Serikat pada tahap awal serangan terhadap Iran.

Menurutnya, setiap tindakan militer harus dipastikan memiliki dasar hukum internasional yang jelas serta perencanaan strategis yang matang.

Ia menegaskan bahwa pemerintah Inggris tidak ingin terlibat dalam operasi militer tanpa kepastian legalitas maupun perhitungan risiko yang komprehensif.

Meski demikian, Starmer kemudian memberikan izin terbatas bagi militer AS untuk menggunakan fasilitas Inggris dalam operasi defensif, khususnya untuk menghadapi ancaman rudal Iran yang disimpan di gudang atau fasilitas peluncur.

Keputusan tersebut memperlihatkan upaya Inggris menyeimbangkan komitmen terhadap sekutu strategisnya dengan prinsip kehati-hatian dalam kebijakan luar negeri.

Ketegangan Politik yang Sudah Lama Mengendap

Ketegangan antara Trump dan Starmer sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, kedua pemimpin juga sempat terlibat perbedaan pandangan terkait isu geopolitik.

Awal tahun ini, Starmer secara terbuka mengkritik keinginan Trump untuk membeli wilayah Greenland, yang merupakan teritori otonom milik Denmark.

Selain itu, ia juga mengecam pernyataan Trump yang menyebut pasukan Eropa cenderung menghindari pertempuran garis depan dalam konflik Afghanistan.

Starmer bahkan menyebut komentar tersebut sebagai sesuatu yang “terus terang sangat mengerikan.”

Perbedaan sikap ini menunjukkan adanya perubahan dinamika dalam hubungan politik antara Washington dan London yang selama ini dikenal sangat solid.

Dilema Strategis Inggris di Tengah Konflik Global

Di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, Inggris kini menghadapi dilema strategis yang tidak mudah.

Di satu sisi, London memiliki komitmen historis dan aliansi militer yang kuat dengan Washington.

Namun di sisi lain, pemerintah Inggris juga harus mempertimbangkan stabilitas kawasan, legalitas internasional, serta risiko keterlibatan dalam perang yang berpotensi meluas.

Pengiriman kapal induk ke Timur Tengah, apabila benar-benar dilakukan, akan menjadi sinyal kuat bahwa Inggris tetap ingin memainkan peran dalam menjaga stabilitas keamanan global.

Namun sikap hati-hati pemerintah Starmer juga mencerminkan perubahan pendekatan kebijakan luar negeri Inggris yang kini lebih menekankan pada legitimasi internasional dan kalkulasi strategis jangka panjang.

Situasi ini sekaligus menjadi ujian bagi hubungan “special relationship” yang selama puluhan tahun menjadi fondasi kerja sama politik, militer, dan keamanan antara Amerika Serikat dan Inggris.

Di tengah dinamika geopolitik global

yang semakin tidak menentu, dunia kini menanti apakah kedua sekutu lama tersebut akan kembali berjalan seirama—atau justru semakin menunjukkan perbedaan arah dalam menghadapi konflik internasional.

(RML | Redaksi | Mediapatriot.co.id)



Wartawan di lapangan dibekali Kode Sandi untuk membuka DAFTAR WARTAWAN >>>


Tentang Kami

Mediapatriot.co.id adalah portal berita online nasional yang menyajikan informasi aktual, terpercaya, dan berimbang. Kami hadir untuk memberikan akses berita cepat dan akurat.

Didirikan oleh jurnalis senior Hamdanil Asykar, Mediapatriot.co.id berkomitmen menjaga integritas jurnalistik dan menjunjung tinggi Kode Etik Dewan Pers. Dengan jaringan kontributor di berbagai daerah, kami menghadirkan berita lokal dengan cakupan nasional.

Misi kami adalah menjadi media digital yang membangun kesadaran publik melalui berita edukatif, mendalam, dan bebas hoaks.

Untuk pertanyaan, saran, atau kerja sama media, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak.


>

Informasi Iklan / Advertorial Klik redaksi@mediapatriot.co.id