Jakarta, 7 April 2026 – Dalam situasi gejolak harga energi dunia akibat perang Iran melawan US dan Israel, Asosiasi Pertekstilan Indonesia meminta seluruh pemangku kepentingan tekstil dan produk tekstil tetap bersikap optimis menghadapi potensi gejolak harga energi di dalam negeri yang mempengaruhi ketersediaan rantai pasok bahan baku produksi dan distribusi ekspor produk tekstil garmen.
Asosiasi menyampaikan dukungan kepada Menteri Koordinator Perekonomian terkait upaya pemerintah dalam menjaga harga BBM subsidi dan biosolar tidak mengalami kenaikan sampai akhir tahun, dan langkah penghematan konsumsi BBM melalui perubahan budaya kerja dengan skema WFH sehari dalam satu minggu. Asosiasi juga menyampaikan apresiasi atas keputusan kenaikan harga tiket airline untuk menyesuaikan lonjakan harga aftur dunia.
Optimisme ini disampaikan oleh Danang Girindra, Direktur Eksekutif API menyambut manuver pemerintah untuk menyikapi gejolak harga energi akibat perang Iran dengan AS dan Israel. “Kita mendukung upaya upaya strategik Menko Perekonomian untuk mengatasi permasalahan harga energi dunia yang sudah pasti berdampak ke industri dalam negeri”
Danang Girindra berpendapat bahwa “Jika upaya penghematan itu dilakukan secara benar dan masif antara kantor pemerintah dan dunia usaha, akan mendapatkan hasil pengurangan subsidi yang lumayan untuk upaya penghematan.”
Salah satu hal lain yang harus dilakukan untuk mendukung upaya hemat energi adalah dengan inovasi inovasi terhadap mesin mesin produksi tekstil dan produk tekstil. Asosiasi menyampaikan kesiapannya untuk modernisasi dan bekerja sama dengan berbagai negara yang memiliki tehnologi permesinan yang lebih hemat energi.
“Hal ini perlu didukung pemerintah, sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan jutaan tenaga kerja di industri padat karya, tekstil dan garmen di Indonesia. Industri padat karya perlu dipertahankan demi membuka lapangan kerja seluas luasnya, sejajar dengan kepentingan strategik pemerintah untuk menuntaskan angka pengangguran yang semakin menaik setiap tahun.” Penjelasan Danang Girindra.
Salah satu program modernisasi di industri TPT adalah menyusun rencana kerjasama API dengan India ITME Society. Sebagaimana dikenal luas tehnologi permesinan tekstil India cukup maju, sehingga diharapkan bisa sinergis dengan kepentingan pemerintah Indonesia dan industri TPT dalam negeri.
Danang Girindra menyampaikan bahwa “Dukungan penghematan energi, selain roadmap pengurangan energi fosil, musti dilakukan melalui upgrading tehnologi permesinan juga, jadi perlu upaya besar untuk memperkuat kolaborasi antar negara di sektor tekstil.”
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari 2026 nilai ekspor produk tekstil Indonesia masih didominasi oleh sektor hilir, di mana ekspor pakaian jadi (konveksi) mencapai sekitar US$609,4 juta, jauh melampaui ekspor benang pintal yang tercatat sebesar US$78,3 juta. Kondisi ini menunjukkan bahwa produk dengan nilai tambah lebih tinggi seperti garmen tetap menjadi penopang utama kinerja ekspor tekstil nasional, sementara produk hulu seperti benang pintal berperan sebagai bagian penting dalam mendukung keberlanjutan rantai pasok industri tekstil secara keseluruhan.
Dalam waktu dekat, API akan bersama sama delegasi India ITME society untuk membahas perkenalan dengan perusahaan-perusahaan terkemuka India di bidang mesin dan teknologi tekstil yang mencakup sektor spinning, weaving, processing, dyestuff & chemicals, digital printing, technical textiles, hingga sportstech. “Hal ini adalah peluang untuk menjajagi potensi peningkatan kerjasama antara Indonesia dengan India di sektor tekstil dan produk tekstil”, demikian Danang Girindra menjelaskan.
Indonesia dengan basis manufaktur tekstil yang kuat serta kemampuan ekspor yang terus berkembang, memiliki sinergi yang sangat baik dengan keunggulan India di bidang rekayasa dan teknologi tekstil. Kolaborasi ini diyakini akan membuka peluang besar dan berkelanjutan dalam memperkuat perdagangan bilateral, mendorong inovasi, serta membangun ekosistem industri tekstil Asia yang lebih kompetitif.
Red Irwan Hasiholan

