Minggu | 12 April 2026 | Pukul | 21:40 | WIB
Mediapatriot.co.id | Langkat | Sumatera Utara | Berita Terkini — Di tengah semilir angin pesisir yang menyapu permukaan air Desa Pematang Cengal, Kecamatan Tanjung Pura, denyut kehidupan masyarakat nelayan kembali beresonansi dalam sebuah perhelatan budaya yang sarat makna.
Lomba Dayung Sampan Tradisional yang digelar pada Minggu (12/04/2026) bertempat Di dusun X Dusun Paluh Gusta Desa Pematang Cengal,kecamatan Tanjung pura Langkat bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan refleksi mendalam atas nilai kebersamaan, kerja keras, dan rasa syukur yang tumbuh dari kehidupan bahari.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Komandan Pos TNI Angkatan Laut (Posal) Kwala Serapuh, Letda Laut (P) Faisal Iqbal, bersama personel Babinpotmar.
Kehadiran aparat TNI AL tersebut tidak hanya sebagai bentuk dukungan moral, tetapi juga penegasan komitmen dalam membina masyarakat pesisir melalui pendekatan sosial dan budaya.
Perlombaan dayung sampan ini merupakan inisiatif Kelompok Nelayan Putra Koli, binaan Posal Kwala Serapuh.
Dalam narasi yang lebih dalam, kegiatan ini lahir dari kesadaran kolektif para nelayan untuk mensyukuri hasil laut yang mereka peroleh.
Dengan semangat gotong royong, mereka menyisihkan sebagian rezeki dari hasil melaut selama kurun waktu satu tahun, hingga akhirnya mampu mewujudkan sebuah perhelatan yang mempertemukan semangat sportivitas dan nilai tradisional.
Puluhan peserta dari berbagai wilayah di Kabupaten Langkat turut ambil bagian dalam perlombaan ini, di antaranya dari Tanjung Pura, Pangkalan Berandan, Gebang, hingga Secanggang.
Keikutsertaan lintas daerah ini menjadi bukti bahwa tradisi lokal memiliki daya tarik yang mampu menyatukan beragam komunitas dalam satu ruang kebersamaan.
Dalam sambutannya, Danposal Kwala Serapuh menegaskan bahwa lomba dayung sampan tradisional bukan hanya sekadar perlombaan fisik di atas air.
Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan simbol kehidupan masyarakat pesisir yang sarat dengan nilai-nilai keberanian, kekompakan, ketahanan, serta kerja sama tim.
Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi utama dalam menghadapi tantangan hidup di laut yang tidak selalu bersahabat.
“Dayung sampan bukan hanya tentang siapa yang tercepat mencapai garis akhir, tetapi tentang bagaimana kita menjaga ritme, membangun kekompakan, dan saling percaya satu sama lain.
Inilah cerminan kehidupan masyarakat pesisir Langkat,” ungkapnya dengan penuh makna.
Lebih lanjut, ia berharap agar kegiatan ini dapat dijadikan agenda rutin tahunan.
Selain sebagai sarana pelestarian budaya, lomba dayung sampan juga berpotensi menjadi daya tarik wisata lokal yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.
Momentum ini sekaligus memperlihatkan bagaimana sinergi antara aparat negara dan masyarakat mampu melahirkan kegiatan yang tidak hanya bernilai hiburan, tetapi juga edukatif dan inspiratif.
Di tengah arus modernisasi yang kian deras, tradisi seperti ini menjadi jangkar yang menjaga identitas lokal agar tetap kokoh.
Lomba dayung sampan di Kwala Serapuh pun akhirnya tidak sekadar meninggalkan jejak riak air di sungai, tetapi juga menggoreskan pesan mendalam tentang arti kebersamaan, ketekunan, dan rasa syukur—nilai-nilai yang akan terus mengalir, sebagaimana arus sungai yang tak pernah berhenti menuju muara.
(Kabiro Langkat | Mediapatriot.co.id)

