Kota Bekasi, MPN
Para pengurus Dewan Kemakmuran Masjid dan Mushalla (DKM) se-Kelurahan Bantargebang, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, melakukan perjalanan Studi Tiru yang merupakan bagian dari upaya perwujudan program Masjid Kita Masjid Ramah yang sedang digiatkan LPM Bantargebang. Dua masjid menjadi sasaran kunjungan yang dilaksanakan Sabtu (18/4) ini, yakni ke Masjid Baitul Makmur Telaga Sakinah, Cikarang, Kabupaten Bekasi dan Masjid Sejuta Pemuda, Kota Sukabumi.
Perjalanan Studi Tiru ini diikuti oleh perwakilan utama dari 12 masjid yang berada di Kel. Bantargebang. Total 50 peserta rombongan yang berangkat mengikuti kegiatan ini.
Menurut penjelasan Ketua LPM Kel. Bantargebang, Samsudin Nurseha, kegiatan ini lebih efektif untuk para takmir masjid dalam rangka memaksimalkan program Masjid Ramah Lingkungan dan Keberagaman. “L earning by doing dan seeing is believing. Konsep ini membuat materi yang begitu lama bisa diserap dengan cepat dan mudah,” ujarnya.
“Dengan melihat langsung masjid yang menjalankan aksi ramah lingkungan dan keragaman, peserta akan terbuka pandangannya. Belajar langsung ke lapangan juga memberikan mereka pengalaman nyata. Akan ada beberapa hal yang bisa mereka petik setelah kunjungan lapangan.” imbuh Samsudin.
Pasca-diskusi di Masjid Baitul Makmur, Madrais, salah seorang peserta, menyatakan pentingnya perubahan dan cara pandang pengelolaan masjid. “Tadi pengelola masjid di sini (Baitul Makmur) mempunyai banyak cara untuk mendapatkan dana untuk kesejahteraan masjid. Dari sampah, minyak jelantah, jualan tas (produk) dari bahan bekas, dan lainnya. Tadi juga kita melihat bekas air wudlu bisa diolah lagi untuk menyiram tanaman hidroponik,” pungkasnya.
Senada dengan Madrais, peserta lain atas nama Ahmad, menggarisbawahi pentingnya inovasi dan kesungguhan dalam pengelolaan masjid. Selain kreativitas yang menjadi ciri khas anak muda, ia melihat bahwa marbot Masjid Sejuta Pemuda memang menjadikan masjid sebagai yang utama, bukan tenaga sisa. “Mereka (DKM Masjid Sejuta Pemuda) benar-benar menjadikan masjid sebagai yang utama. Bagi mereka, menjadi pengurus masjid adalah pilihan pertama, bukan sukarela atau tenaga sisa. Mereka juga cerdas dan berani. Kalau di banyak masjid gak boleh tidur, mereka malah kasih bantal,” terangnya.
Pasca Studi Tiru, LPM Kel. Bantargebang mendorong kepada seluruh masjid yang ada di Kelurahan Bantargebang untuk terus memperbaiki tata kelola. Bahkan LPM Kelurahan Bantargebang siap berkolaborasi dengan pihak DKM yang memiliki ide-ide segar dan kontekstual, untuk lebih memakmurkan masjid. Profesionalisme tata kelola dan menjawab kebutuhan jamaah menjadi dua penekanan utama dari LPM. Bantargebang. (Mul)
