Penemuan jasad membusuk di dalam rumah warga pada dini hari mengguncang Kelurahan Jati Makmur.
Temuan bekas seretan serta jejak darah di lokasi membuka ruang penyelidikan serius atas kemungkinan adanya unsur pidana di balik kematian korban.
Minggu | 26 April 2026 | Pukul | 21:40 | WIB
Mediapatriot.co.id | Binjai Utara | Sumatera Utara | Berita Terkini – Suasana dini hari di kawasan Jalan T. Amir Hamzah, Gang Setia, Kelurahan Jati Makmur, Kecamatan Binjai Utara, mendadak berubah mencekam setelah warga digegerkan dengan penemuan sesosok mayat dalam kondisi telah membusuk di dalam sebuah rumah, Minggu (26/4/2026) sekira pukul 01.32 WIB.
Penemuan jenazah tersebut bermula dari kecurigaan warga yang sejak malam hari mencium aroma busuk menyengat berasal dari dalam rumah korban.
Bau yang semakin kuat dan tidak lazim itu memancing perhatian masyarakat sekitar untuk melakukan pengecekan.
Saat beberapa warga mendekati sumber bau dan melihat ke dalam rumah, mereka sontak dikejutkan oleh pemandangan mengenaskan:
Tubuh korban ditemukan sudah tidak bernyawa, dalam kondisi membusuk, serta tertutup terpal.
Peristiwa ini seketika memantik kepanikan dan kerumunan warga.
Informasi menyebar cepat ke lingkungan sekitar hingga aparat kepolisian menerima laporan dan langsung turun ke lokasi untuk melakukan pengamanan serta olah tempat kejadian perkara (TKP).
Namun, penemuan jasad dalam kondisi membusuk itu bukan satu-satunya fakta yang membuat kasus ini menjadi perhatian serius.
Dari hasil pengecekan awal di dalam rumah, ditemukan adanya bekas seretan pada lantai yang tampak cukup jelas.
Jejak tersebut disertai bercak darah yang memanjang mengikuti arah seretan, menimbulkan tanda tanya besar terkait kronologi sebenarnya sebelum korban ditemukan meninggal dunia.
Temuan inilah yang memunculkan dugaan awal bahwa kematian korban tidak dapat serta-merta disimpulkan sebagai kematian biasa.
Situasi di dalam rumah mengindikasikan adanya kemungkinan peristiwa lain yang mendahului kematian korban, sehingga penyelidikan mendalam mutlak diperlukan guna mengungkap apakah terdapat unsur kekerasan atau tindakan pidana.
Menurut informasi yang dihimpun dari warga sekitar, korban selama ini diketahui tinggal berdua bersama anak kandungnya.
Anak korban disebut-sebut memiliki kondisi kejiwaan yang kurang stabil dan dalam kesehariannya kerap memperlihatkan perilaku yang membuat warga merasa waspada.
Beberapa warga mengaku sering melihat anak korban berjalan membawa senjata tajam jenis kelewang di sekitar lingkungan tempat tinggal.
Meski selama ini masyarakat memilih menghindar dan tidak terlalu banyak berinteraksi, perilaku tersebut rupanya menjadi salah satu fakta sosial yang kini ikut disorot setelah ditemukannya korban meninggal dalam kondisi mencurigakan.
“Memang selama ini anaknya sering kelihatan bawa parang panjang atau kelewang.
Orang-orang sini kalau lihat biasanya memilih diam dan menjauh,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Keterangan warga tersebut tentu belum dapat dijadikan dasar kesimpulan hukum.
Namun dalam perspektif penyelidikan kriminal, seluruh fakta lingkungan, kebiasaan penghuni rumah, relasi korban dengan orang terdekat, hingga kondisi fisik TKP menjadi variabel penting untuk direkonstruksi oleh penyidik.
Aparat kepolisian yang tiba di lokasi langsung memasang garis polisi dan membatasi akses masyarakat guna menjaga keutuhan barang bukti.
Tim Inafis melakukan identifikasi terhadap jasad korban serta memeriksa sejumlah titik di dalam rumah yang diduga berkaitan dengan jejak seretan dan bercak darah.
Jenazah selanjutnya dievakuasi untuk kepentingan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Langkah ini penting dilakukan guna memastikan waktu kematian, penyebab biologis korban meninggal, serta kemungkinan adanya luka-luka akibat benda tumpul maupun benda tajam yang mungkin tidak terlihat secara kasat mata akibat kondisi jenazah yang telah mengalami pembusukan.
Kasus ini menyisakan sejumlah pertanyaan krusial.
Mengapa jasad korban dibiarkan tertutup terpal di dalam rumah hingga membusuk?
Bagaimana jejak seretan dan darah bisa muncul di lokasi?
Apakah korban meninggal secara alami lalu dipindahkan, atau terdapat rangkaian tindakan tertentu yang sengaja dilakukan untuk menyembunyikan kematian tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kini menjadi fokus utama aparat penegak hukum.
Secara kriminalistik, keberadaan mayat yang tertutup terpal dalam ruang tertutup menunjukkan adanya tindakan pasca-kematian yang patut dicermati.
Dalam banyak kasus, upaya menutup tubuh korban sering kali berhubungan dengan respons psikologis pelaku, kepanikan, atau usaha menghambat terdeteksinya kematian oleh lingkungan sekitar.
Meski demikian, semua itu masih sebatas hipotesis yang harus diuji melalui pembuktian ilmiah dan pemeriksaan saksi.
Penyidik juga disebut akan mendalami keberadaan anak korban sebagai orang yang paling dekat dan tinggal serumah, termasuk menelusuri kondisi psikisnya, aktivitas beberapa hari terakhir, serta kemungkinan mengetahui secara langsung peristiwa yang terjadi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih bekerja mengumpulkan alat bukti dan meminta keterangan dari sejumlah warga sekitar.
Belum ada pernyataan resmi terkait identitas lengkap korban maupun kesimpulan penyebab kematian.
Peristiwa tragis ini tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga menyentakkan kesadaran publik bahwa kematian di ruang domestik—terutama yang melibatkan individu rentan dan keluarga dengan problem sosial-psikologis—sering kali menyimpan lapisan persoalan yang jauh lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan.
Kini, Gang Setia yang biasanya tenang berubah menjadi pusat perhatian.
Warga menunggu satu hal yang sama: terungkapnya kebenaran di balik kematian misterius yang menyisakan bau busuk, jejak darah, dan segudang tanda tanya.
(Red)
