Selasa | 5 Mei 2026 | Pukul | 11.10 WIB
Mediapatriot.co.id | Jakarta | Internasional | Geopolitik Dunia | Berita Terkini – Di tengah bara konflik Timur Tengah yang belum juga menunjukkan tanda-tanda padam, dunia kembali disuguhi babak baru pertarungan geopolitik antara tiga kekuatan besar: Amerika Serikat, China, dan Iran.
Namun kali ini, perang tidak hanya berlangsung melalui rudal, kapal perang, dan blokade laut—melainkan juga melalui tuduhan ekonomi yang tajam, tekanan diplomatik yang dingin, serta perebutan legitimasi di panggung internasional.
Amerika Serikat secara terbuka menuding China sebagai pihak yang selama ini “menghidupi napas perlawanan Iran” melalui pembelian energi dalam jumlah masif.
Tuduhan tersebut dilontarkan langsung oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, saat Washington sedang berpacu dengan waktu untuk membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz—urat nadi perdagangan minyak dunia yang kini lumpuh akibat blokade Teheran.
Pernyataan itu bukan sekadar komentar ekonomi.
Ia adalah pesan politik yang sangat dalam: Washington sedang berusaha menggeser beban krisis dari pundaknya ke meja diplomasi Beijing.
Selat Hormuz: Luka Dunia yang Tidak Pernah Sepele
Selat Hormuz bukan hanya jalur air sempit di antara Teluk Persia dan Laut Arab. Ia adalah jantung distribusi energi global.
Setiap gangguan kecil di kawasan ini selalu berujung pada gejolak harga minyak, kecemasan pasar internasional, serta ancaman inflasi yang menjalar hingga ke negara-negara berkembang.
Ketika Iran memutuskan menutup selat tersebut sebagai respons atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu, dunia sebenarnya sedang menyaksikan pesan keras Teheran: bahwa perang tidak hanya dibalas dengan senjata, tetapi juga dengan mencekik ekonomi global.
Lebih dari 300 kapal dagang dan tanker dilaporkan terdampak perlambatan lalu lintas.
Harga minyak merangkak naik, biaya asuransi pelayaran melonjak, dan banyak negara pengimpor energi mulai menahan napas menghadapi ketidakpastian pasokan.
Dalam kondisi seperti itu, Amerika Serikat tidak ingin sekadar terlihat sebagai polisi dunia yang marah.
Washington ingin tampil sebagai penyelamat jalur perdagangan internasional.
Maka lahirlah operasi yang mereka sebut sebagai “Project Freedom”, sebuah misi pengawalan kapal-kapal yang terjebak di kawasan Hormuz.
Namun, ada satu masalah besar: operasi itu tidak akan efektif tanpa menekan Iran dari sisi ekonomi dan diplomatik.
Di sinilah nama China tiba-tiba didorong ke garis depan.
Tuduhan Scott Bessent: “China Membiayai Sponsor Terorisme”
Scott Bessent menyampaikan tuduhan yang sangat keras.
Menurutnya, China membeli sekitar 90 persen energi Iran, yang berarti Beijing secara tidak langsung menjadi sponsor finansial bagi negara yang oleh Washington disebut sebagai sponsor utama terorisme dunia.
Kalimat itu sesungguhnya lebih dari sekadar retorika.
Amerika sedang mengirim dua sinyal sekaligus.
Pertama, kepada publik global bahwa Iran tidak berdiri sendiri.
Bahwa kekuatan ekonomi China selama ini menjadi penyangga ketahanan Teheran di tengah sanksi bertubi-tubi.
Kedua, kepada Beijing bahwa jika China ingin tetap diakui sebagai kekuatan dunia yang bertanggung jawab, maka ia tidak boleh hanya menikmati minyak murah Iran sambil membiarkan dunia menanggung dampak krisis Hormuz.
Scott Bessent bahkan secara terang-terangan mendesak Beijing untuk menggunakan pengaruhnya agar Iran membuka kembali selat tersebut.
Dengan kata lain, Washington kini sedang memainkan kartu diplomasi tekanan: jika China menikmati energi Iran, maka China juga harus ikut memikul biaya politik dari perilaku Iran.
Pertemuan Trump–Xi Jinping: Diplomasi yang Sarat Bara
Pernyataan Bessent muncul hanya beberapa hari menjelang kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping.
Pertemuan ini semula dipandang sebagai kelanjutan stabilisasi hubungan dagang pasca gencatan perang tarif.
Namun krisis Hormuz mengubah total agenda.
Kini, isu energi, Iran, keamanan maritim, dan dominasi pengaruh di Timur Tengah menjadi kartu tawar utama.
Washington ingin Xi Jinping datang bukan sebagai mitra dagang, tetapi sebagai mediator yang mampu menekan Iran.
Sementara Beijing berada dalam posisi yang sangat dilematis.
Di satu sisi, China adalah importir energi terbesar dari Timur Tengah dan tentu sangat berkepentingan agar Selat Hormuz kembali aman.
Tetapi di sisi lain, Iran adalah salah satu sekutu strategis Beijing dalam menghadapi dominasi geopolitik Barat.
Maka jika China terlalu menekan Iran, ia berisiko merusak poros anti-Barat yang selama ini dibangunnya bersama Teheran dan Moskow.
Sebaliknya, jika China pasif, Amerika akan menggunakan momentum ini untuk menggiring opini dunia bahwa Beijing adalah bagian dari penyebab krisis global.
Rusia dan China Veto Resolusi PBB: Dunia Kian Terbelah
Ketegangan makin dalam ketika Amerika Serikat mendorong Dewan Keamanan PBB untuk mengeluarkan resolusi yang mengecam blokade Iran atas Selat Hormuz.
Namun upaya tersebut kandas setelah China dan Rusia menolak draft yang dinilai hanya menyalahkan Teheran tanpa menyinggung akar konflik berupa serangan militer AS-Israel terhadap Iran.
Di sinilah terlihat bahwa krisis Hormuz bukan lagi soal kapal yang tertahan.
Ia telah berubah menjadi panggung pertarungan narasi:
Amerika menyebut Iran agresor maritim,
Iran menyebut dirinya korban intervensi,
China menuntut narasi yang seimbang,
Rusia memanfaatkan perpecahan Barat.
Dunia kini tidak hanya terbelah oleh blok militer, tetapi juga oleh blok penafsiran terhadap siapa sebenarnya pemantik konflik.
Tekanan Maksimum Trump: Menjerat Iran, Menyudutkan China
Sejak kembali memegang tampuk kekuasaan, Donald Trump menghidupkan kembali doktrin lama yang ia sebut sebagai “maximum pressure” atau tekanan maksimum terhadap Iran.
Sanksi ekonomi diperketat, terminal minyak yang diduga terkait perdagangan Iran dibidik, bahkan fasilitas transaksi mata uang Iran ikut disasar.
Tetapi kebijakan itu ternyata melahirkan efek samping besar.
Iran tidak runtuh secepat yang diharapkan.
Sebaliknya, Iran menggunakan kartu Hormuz untuk menekan balik.
Dan kini, Washington mulai sadar bahwa tanpa memutus jalur pembelian energi Iran oleh China, strategi “tekanan maksimum” hanya akan menjadi slogan mahal.
Artinya, tuduhan Bessent kepada Beijing bukanlah ledakan emosi spontan, melainkan bagian dari desain tekanan baru: membuat China ikut merasa bersalah atas krisis energi dunia.
Dunia Menunggu: Diplomasi atau Ledakan Lebih Besar?
Situasi saat ini ibarat bom waktu yang terus berdetak.
Jika China berhasil membujuk Iran melunak, maka Beijing akan tampil sebagai penengah dunia baru—sebuah kemenangan diplomasi yang dapat mempermalukan Amerika.
Namun jika China memilih diam atau bahkan membela Iran, maka Washington kemungkinan besar akan menaikkan level konfrontasi, baik melalui sanksi sekunder terhadap perusahaan China maupun pengerahan kekuatan maritim yang lebih agresif.
Selat Hormuz hari ini bukan sekadar jalur minyak.
Ia telah menjadi cermin betapa rapuhnya perdamaian global ketika energi, ego negara adidaya, dan kepentingan militer saling bertubrukan.
Dan di tengah benturan itu, rakyat dunia kembali menjadi pihak yang harus membayar mahal: melalui lonjakan harga minyak, ketidakpastian ekonomi, dan ancaman perang yang sewaktu-waktu dapat berubah dari diplomasi dingin menjadi ledakan panas.
Sebab pada akhirnya, sejarah selalu mengajarkan satu hal:
ketika minyak dijadikan alat tawar, maka kemanusiaan sering kali hanya menjadi angka di laporan pasar.
(RML | Redaksi | Mediapatriot.co.id)
