Di Balik Sunyi Subuh Sulawesi Tengah, Densus 88 Merobek Jejak Radikalisme Digital Jaringan JAD Afiliasi ISIS

Rabu | 6 Mei 2026 | Pukul | 18:30 | WIB

Mediapatriot.co.id | Jakarta | Sulteng | Berita Terkini — Ketika sebagian besar masyarakat masih terlelap dalam keheningan dini hari, aparat antiteror bergerak senyap menembus lorong-lorong pemukiman di Sulawesi Tengah.

Dalam operasi terukur yang berlangsung hanya dalam rentang dua jam, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri berhasil menciduk delapan orang terduga teroris yang diduga merupakan bagian dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok yang selama ini diketahui memiliki irisan ideologis dengan organisasi teror global ISIS.

Operasi penegakan hukum tersebut dilaksanakan pada Rabu dini hari, sekitar pukul 01.30 hingga 03.30 WITA, dengan sasaran dua wilayah yang selama ini masuk dalam peta pemantauan aparat keamanan nasional, yakni Kabupaten Poso dan Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Dua daerah ini bukan sekadar titik geografis biasa, melainkan kawasan yang dalam sejarah panjang penanganan terorisme pernah menjadi simpul persemaian ideologi kekerasan berbasis ekstremisme.

Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana, menegaskan bahwa penindakan ini merupakan bagian dari langkah berkelanjutan negara dalam menutup setiap ruang tumbuhnya paham radikal yang dapat mengancam stabilitas keamanan nasional.

“Densus 88 AT Polri telah melakukan kegiatan penegakan hukum terhadap delapan orang jaringan Jamaah Ansharut Daulah yang terafiliasi kepada jaringan global ISIS di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah,” ungkap Mayndra dalam keterangannya kepada awak media, Rabu.

Delapan orang yang diamankan masing-masing berinisial R (32), AT (29), RP (32), ZA (37) yang ditangkap di Kabupaten Poso, serta A (43), A (46), S (47), dan DP (39) yang ditangkap di Kabupaten Parigi Moutong.

Seluruhnya kini berada dalam pemeriksaan intensif guna mendalami tingkat keterlibatan mereka dalam jaringan terorisme domestik yang berafiliasi lintas negara.

Radikalisme Tak Lagi Bergerilya di Hutan, Tapi Menyusup dari Layar Gawai

Yang membuat operasi ini memiliki dimensi strategis bukan semata jumlah terduga yang diamankan, melainkan pola ancaman yang mereka bangun.

Berdasarkan hasil penyelidikan awal, kedelapan terduga tidak hanya diduga memiliki keterhubungan dengan jaringan lama Jamaah Ansharut Daulah, namun juga aktif melakukan penyebaran propaganda radikal melalui media sosial.

Mereka disebut menggunakan akun-akun digital pribadi untuk mengunggah gambar, tulisan, narasi ideologis, hingga video yang mengandung dukungan terhadap paham kekerasan, anti-negara, serta glorifikasi terhadap jaringan ISIS.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa wajah terorisme Indonesia kini telah mengalami metamorfosis.

Jika dahulu perekrutan dilakukan melalui pertemuan tertutup, baiat rahasia, atau pelatihan fisik di lokasi terpencil, maka hari ini radikalisme tumbuh lebih halus—masuk melalui telepon genggam, menyusup melalui algoritma, dan mengendap dalam ruang-ruang percakapan digital masyarakat.

Ancaman tersebut menjadi jauh lebih berbahaya karena propaganda digital tidak mengenal batas usia, profesi, maupun latar belakang sosial.

Ia dapat menjangkau pelajar, pekerja, ibu rumah tangga, bahkan masyarakat awam yang sebelumnya tidak memiliki keterkaitan dengan ideologi ekstrem.

Inilah yang membuat operasi Densus 88 di Sulawesi Tengah sesungguhnya bukan hanya penangkapan delapan individu, melainkan pemutusan terhadap mata rantai infiltrasi paham kebencian yang secara perlahan mencoba membangun legitimasi di ruang publik virtual.

Poso dan Parigi Moutong, Luka Lama yang Belum Sepenuhnya Kering

Sulawesi Tengah, khususnya Poso, memiliki catatan historis yang panjang dalam isu konflik komunal dan persembunyian kelompok radikal.

Meski dalam beberapa tahun terakhir situasi keamanan relatif terkendali, aparat keamanan tampaknya tidak ingin kecolongan terhadap tumbuhnya sel-sel baru yang bergerak dengan pola senyap.

Fakta bahwa sebagian terduga teroris ini justru aktif dalam propaganda digital menunjukkan bahwa jaringan lama tidak benar-benar hilang, melainkan sedang beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Terorisme modern tidak lagi membutuhkan ledakan untuk menebar rasa takut; cukup dengan penyebaran doktrin, penguatan kebencian, dan narasi anti-konstitusi secara sistematis, maka bibit disintegrasi sosial dapat tumbuh di tengah masyarakat tanpa disadari.

Karena itu, langkah cepat Densus 88 patut dipandang sebagai alarm dini bahwa negara masih hadir menjaga fondasi kebangsaan dari infiltrasi ideologi transnasional yang ingin merobek persatuan Indonesia.

Negara Sedang Berpacu dengan Waktu

Penangkapan ini juga memberi pesan bahwa perang melawan terorisme bukanlah perang yang selesai dengan penangkapan semata.

Ini adalah perang panjang melawan gagasan, melawan doktrin, melawan propaganda, dan melawan mesin digital yang digunakan kelompok ekstrem untuk merekrut simpatisan baru.

Penyidik Densus 88 saat ini masih melakukan pendalaman terhadap kemungkinan adanya jaringan pendukung lain, aliran dana, komunikasi lintas wilayah, hingga hubungan virtual para tersangka dengan simpatisan ISIS di luar negeri.

Apabila dibiarkan, propaganda semacam ini dapat menjelma menjadi ancaman laten yang jauh lebih sulit dideteksi dibanding aksi teror konvensional.

Sebab bom bisa didengar ledakannya, tetapi indoktrinasi digital sering kali bekerja tanpa suara.

Di sinilah publik perlu memahami bahwa pemberantasan terorisme bukan hanya tugas aparat, melainkan juga tanggung jawab sosial bersama: keluarga harus peka, masyarakat harus waspada, lembaga pendidikan harus aktif membangun literasi kebangsaan, dan ruang digital harus terus dibersihkan dari konten yang menormalisasi kekerasan.

Menjaga Indonesia dari Api yang Menyala dalam Sunyi

Operasi subuh di Sulawesi Tengah itu sesungguhnya menyisakan satu refleksi mendalam: ancaman terhadap bangsa ini sering datang bukan dengan hiruk-pikuk, melainkan dalam diam.

Ia tumbuh di balik akun anonim, di balik unggahan propaganda, di balik percakapan yang tampak biasa, lalu perlahan menggerogoti kesadaran kebangsaan.

Densus 88 mungkin berhasil memborgol delapan orang pada pagi itu, tetapi perjuangan yang lebih besar adalah memborgol ideologi kebencian sebelum sempat beranak-pinak di kepala generasi muda Indonesia.

Karena sesungguhnya, menjaga negeri ini bukan hanya soal menangkap pelaku teror, melainkan memastikan bahwa tidak ada lagi ruang bagi kebencian untuk tumbuh menjadi keyakinan.

(RML | Redaksi | Mediapatriot.co.id)

(Sumber: mediapatriot.co.id)

IKUTI CHANNEL MEDIAPATRIOT.CO.ID DI PONSELMU
Ikuti saluran Channel MediaPatriot.CO.ID di WhatsApp

Wartawan di lapangan dibekali Kode Sandi untuk membuka DAFTAR WARTAWAN >>>


Tentang Kami

Mediapatriot.co.id adalah portal berita online nasional yang menyajikan informasi aktual, terpercaya, dan berimbang. Kami hadir untuk memberikan akses berita cepat dan akurat.

Didirikan oleh jurnalis senior Hamdanil Asykar, Mediapatriot.co.id berkomitmen menjaga integritas jurnalistik dan menjunjung tinggi Kode Etik Dewan Pers. Dengan jaringan kontributor di berbagai daerah, kami menghadirkan berita lokal dengan cakupan nasional.

Misi kami adalah menjadi media digital yang membangun kesadaran publik melalui berita edukatif, mendalam, dan bebas hoaks.

Untuk pertanyaan, saran, atau kerja sama media, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak.


>

Informasi Iklan / Advertorial Klik redaksi@mediapatriot.co.id