Sabtu | 9 Mei 2026 | Pukul | 12:00 | WIB
Mediapatriot.co.id | Jakarta | Berita Terkini — Di saat banyak negara mulai dihantui ancaman perlambatan ekonomi dan krisis energi global, Indonesia justru disebut menjadi salah satu negara dengan tingkat ketahanan ekonomi terbaik di dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, yang mengungkap hasil analisis lembaga keuangan internasional JP Morgan terkait daya tahan negara-negara menghadapi tekanan global.
Dalam pemaparannya pada agenda APBN KiTA di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (5/5/2026), Purbaya menyebut Indonesia berada di posisi kedua negara paling kuat menghadapi krisis energi global.
Posisi tersebut bahkan disebut melampaui sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, China, hingga Australia.
“Walau krisis global kita nomor dua paling kuat dibanding negara-negara lain bahkan di atas Amerika, China, Australia dan lain-lain.
Ini dari JP Morgan,” ujar Purbaya di hadapan para peserta forum ekonomi nasional.
Pernyataan itu menjadi sinyal kuat bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi jauh lebih stabil dibanding berbagai periode krisis sebelumnya.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dunia, lonjakan harga energi, dan tekanan inflasi global, Indonesia dinilai mampu menjaga keseimbangan ekonomi secara lebih terukur.
Tidak hanya berdasarkan kajian JP Morgan, Purbaya juga mengungkap bahwa Asian Development Bank atau ADB memiliki pandangan serupa terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.
Namun menurutnya, hasil penilaian tersebut tidak dipublikasikan secara terbuka karena dikhawatirkan dapat memicu keguncangan psikologis bagi negara-negara dengan posisi lebih rendah.
“Cuma mereka nggak bisa publish, karena kalau mereka publish nanti negara-negara yang di bawah goncang.
Tapi official ADB bilang sama saya kita di atas, mungkin di top dua juga,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia kini tidak lagi dipandang sebagai negara berkembang yang rentan terhadap gejolak ekonomi dunia.
Sebaliknya, Indonesia mulai dilihat sebagai salah satu pilar stabilitas baru di kawasan Asia bahkan global.
Dalam kesempatan itu, Purbaya juga menanggapi berbagai narasi pesimistis yang membandingkan kondisi ekonomi saat ini dengan krisis moneter tahun 1998.
Ia menilai perbandingan tersebut tidak relevan dan tidak didasarkan pada data ekonomi yang akurat.
Menurutnya, kondisi Indonesia saat ini sangat berbeda dibanding masa krisis 1997–1998, ketika ekonomi nasional mengalami kontraksi panjang yang berujung pada instabilitas sosial dan politik.
“Mereka tidak punya data yang akurat. Mungkin 97-98 juga sebagian belum pada lahir tuh.
Terus nganalisa. Tapi tidak lihat pada waktu itu seperti apa yang terjadi di ekonomi kita,” kata Purbaya.
Ia menegaskan, indikator ekonomi nasional saat ini masih menunjukkan ekspansi dan akselerasi pertumbuhan.
Pemerintah juga masih memiliki ruang fiskal yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas nasional di tengah tekanan global.
“98 jatuh pemerintahan setelah ekonomi resesi selama satu tahun penuh. Kita sekarang boro-boro resesi, masih ekspansi, masih akselerasi,” pungkasnya.
Optimisme yang disampaikan pemerintah tersebut sekaligus menjadi pesan penting bagi masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi ketakutan yang berkembang di ruang publik.
Ketahanan ekonomi tidak hanya diukur dari persepsi, tetapi juga dari kekuatan fundamental seperti stabilitas fiskal, konsumsi domestik, pengendalian inflasi, hingga keberlanjutan sektor energi nasional.
Di tengah dunia yang masih dibayangi ketidakpastian, Indonesia kini perlahan menunjukkan dirinya bukan sekadar mampu bertahan, tetapi juga siap menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang diperhitungkan di masa depan.
(RML | Redaksi | Mediapatriot.co.id)
