Sabtu | 9 Mei 2026 | Pukul | 07:10 | WIB
Mediapatriot.co.id | Jakarta | Berita Terkini – Dunia kembali dihadapkan pada ancaman besar perubahan iklim global.
Setelah berbagai negara mengalami cuaca ekstrem, badai mematikan, kekeringan berkepanjangan hingga suhu panas yang memecahkan rekor, kini para ilmuwan internasional memperingatkan potensi terbentuknya fenomena “Super El Nino” yang disebut-sebut dapat menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah modern.
Peringatan serius itu muncul setelah lembaga prakiraan iklim dunia seperti National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat dan European Center for Medium-Range Weather Forecasts mengeluarkan prediksi terbaru mengenai peningkatan suhu permukaan laut di kawasan Samudra Pasifik ekuator.
Fenomena tersebut diperkirakan akan berkembang kuat dalam beberapa bulan mendatang dan berpotensi bertahan hingga akhir tahun 2026.
Para pakar iklim menyebut, apabila prediksi ini benar-benar terjadi, maka dunia bisa menghadapi lonjakan suhu global yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2027.
Kondisi itu tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat mengguncang sektor pangan, ekonomi, kesehatan, hingga stabilitas sosial di berbagai negara.
El Nino sendiri merupakan fenomena alam yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik ekuator.
Dalam kondisi normal, suhu laut di kawasan tersebut relatif stabil. Namun ketika El Nino muncul, suhu air laut meningkat secara signifikan dan memengaruhi pola cuaca global.
Fenomena ini sering menjadi pemicu berbagai bencana hidrometeorologi.
Mulai dari musim kemarau ekstrem, kebakaran hutan, kekeringan panjang, gagal panen, hingga peningkatan badai tropis di sejumlah wilayah dunia.
Dalam laporan terbaru pusat prakiraan cuaca Eropa, suhu permukaan laut di kawasan tengah Samudra Pasifik diprediksi dapat mencapai hingga 3 derajat Celsius di atas rata-rata pada musim gugur mendatang. Angka tersebut jauh melampaui ambang batas El Nino biasa dan masuk kategori “Super El Nino.”
Dikutip dari NBC, Super El Nino didefinisikan sebagai kondisi ketika suhu air laut di Samudra Pasifik berada sedikitnya 2 derajat Celsius di atas normal.
Fenomena ini tergolong langka, namun dampaknya sangat besar terhadap sistem cuaca dunia.
NOAA juga melaporkan bahwa pemanasan suhu permukaan laut kini telah meluas ke sebagian besar wilayah Pasifik ekuator sejak pertengahan April.
Kondisi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa fase El Nino sedang berkembang menuju level yang lebih serius.
Kekhawatiran dunia internasional bukan tanpa alasan. Sejarah mencatat, Super El Nino tahun 2015 menjadi salah satu bencana iklim global paling merusak dalam beberapa dekade terakhir.
Saat itu, Ethiopia mengalami kekeringan parah yang memicu krisis pangan besar-besaran.
Puerto Riko bahkan harus menerapkan kebijakan penjatahan air akibat menurunnya cadangan air bersih secara drastis.
Tidak hanya itu, aktivitas siklon tropis di kawasan Pasifik tengah melonjak tajam.
Sedikitnya 16 siklon tropis terbentuk atau melintasi wilayah tersebut dalam satu tahun, termasuk tiga badai kategori 4 yang terjadi hanya dalam kurun akhir Agustus.
Fenomena serupa kini dikhawatirkan akan kembali terulang dengan intensitas yang lebih besar karena diperparah oleh pemanasan global akibat aktivitas manusia.
Para ilmuwan menilai perubahan iklim telah membuat fenomena alam
seperti El Nino menjadi lebih destruktif dibanding dekade sebelumnya.
Di Amerika Serikat bagian selatan dan barat, El Nino biasanya berkaitan dengan suhu lebih panas dan kondisi udara yang lebih lembap.
Di sejumlah wilayah lain, fenomena ini dapat memicu kekeringan ekstrem yang mengancam pertanian dan ketersediaan air bersih.
Sementara itu di Asia Tengah, Asia Selatan, hingga sebagian kawasan Timur Tengah, El Nino justru sering menyebabkan curah hujan meningkat drastis yang berpotensi memicu banjir besar dan tanah longsor.
Indonesia sendiri termasuk negara yang sangat rentan terhadap dampak El Nino.
Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa fenomena ini sering menyebabkan musim kemarau lebih panjang, penurunan produksi pertanian, meningkatnya titik kebakaran hutan dan lahan, serta ancaman krisis air di berbagai daerah.
Para pengamat iklim mengingatkan bahwa masyarakat dan pemerintah harus mulai meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.
Langkah mitigasi seperti penguatan ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya air, pencegahan kebakaran hutan, hingga edukasi publik dinilai sangat penting guna mengurangi dampak yang mungkin terjadi.
Fenomena Super El Nino juga menjadi pengingat keras bahwa bumi sedang menghadapi tekanan ekologis yang semakin berat.
Ketika suhu global terus meningkat akibat emisi karbon dan kerusakan lingkungan, maka fenomena cuaca ekstrem diperkirakan akan semakin sering terjadi dan sulit diprediksi.
Kini dunia menanti, apakah Super El Nino benar-benar akan mencapai puncaknya dalam beberapa bulan mendatang.
Namun satu hal yang pasti, alam sedang mengirimkan pesan serius kepada umat manusia: bahwa keseimbangan bumi tidak lagi bisa diabaikan.
(RML | Redaksi | Mediapatriot.co.id)

