JAKARTA — Partai Kebangkitan Bangsa melalui agenda Temu Nasional Pondok Pesantren bertema “Gerakan Pesantren Anti Kekerasan Seksual” yang digelar pada 18–19 Mei 2026 di Grand Mercure Jakarta Kemayoran menjadi momentum penting untuk memperkuat perlindungan santri sekaligus menjaga marwah pesantren sebagai pusat pendidikan moral, akhlak, dan keadaban.
Dalam forum tersebut, KH. Sa’dulloh, SQ., M.M.Pd., pimpinan Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah menyampaikan apresiasi kepada Partai Kebangkitan Bangsa atas inisiatif menggelar gerakan nasional anti kekerasan seksual di lingkungan pesantren.
Menurutnya, kasus kekerasan seksual yang belakangan viral di masyarakat tidak boleh digeneralisasi seolah-olah seluruh pesantren memiliki persoalan serupa.
“Tidak semua pesantren seperti itu. Mungkin hanya oknum-oknum tertentu saja. Saya berharap kegiatan ini bisa membuka pemahaman masyarakat bahwa pesantren tetap menjadi tempat pendidikan yang menjaga akhlak dan moral,” ujar KH. Sa’dulloh.
Ia menegaskan bahwa penanganan kasus kekerasan seksual harus dilakukan secara cepat dan tegas oleh aparat penegak hukum agar tidak menimbulkan kemarahan publik yang meluas.
“Kalau sejak awal ditangani langsung sesuai aturan hukum, mungkin tidak akan menjadi viral dan menimbulkan keresahan besar di masyarakat,” katanya.
KH. Sa’dulloh juga menyoroti pentingnya seleksi ketat dalam pendirian pondok pesantren. Menurutnya, pemerintah tidak boleh sembarangan memberikan izin pendirian pesantren tanpa melihat latar belakang dan kapasitas pendirinya.
“Pendiri pesantren harus benar-benar seorang kiai yang memiliki keilmuan jelas, akhlak yang baik, dan pernah menempuh pendidikan pesantren. Keilmuannya harus bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Ia kemudian menceritakan sistem pengasuhan di pesantren yang dipimpinnya. Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah yang berdiri sejak tahun 1970-an itu kini membina sekitar seribu santri dan menerapkan sistem pemisahan ketat antara santri laki-laki dan perempuan.
“Santri perempuan diasuh oleh istri saya bersama guru-guru perempuan lainnya. Saya sendiri fokus mengurus santri laki-laki. Jadi tidak ada pencampuran,” jelasnya.
Selain itu, pesantren menerapkan pembinaan berlapis mulai dari pembimbing kamar, pembimbing kompleks, pengasuh asrama, hingga melibatkan masyarakat sekitar dalam pengawasan lingkungan pesantren.
Menurut KH. Sa’dulloh, pihaknya juga rutin menghadirkan aparat kepolisian dan kejaksaan untuk memberikan edukasi hukum kepada para santri dan pengurus pesantren, termasuk pemahaman mengenai hak tubuh, kesehatan reproduksi, serta langkah yang harus dilakukan apabila terjadi tindakan yang melanggar hukum.
“Kami sampaikan kepada santri bahwa kalau ada perlakuan yang tidak pantas atau pemaksaan, harus segera melapor dan tidak boleh diam,” ujarnya.
Melalui Gerakan Pesantren Anti Kekerasan Seksual ini, para tokoh pesantren berharap kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan pesantren semakin kuat, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan bermartabat bagi seluruh santri di Indonesia.
Mediapatriot.co.id adalah portal berita online nasional yang menyajikan informasi aktual, terpercaya, dan berimbang. Kami hadir untuk memberikan akses berita cepat dan akurat.
Didirikan oleh jurnalis senior Hamdanil Asykar, Mediapatriot.co.id berkomitmen menjaga integritas jurnalistik dan menjunjung tinggi Kode Etik Dewan Pers. Dengan jaringan kontributor di berbagai daerah, kami menghadirkan berita lokal dengan cakupan nasional.
Misi kami adalah menjadi media digital yang membangun kesadaran publik melalui berita edukatif, mendalam, dan bebas hoaks.
Untuk pertanyaan, saran, atau kerja sama media, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak.