**mediapatriot.co.id | Denpasar | Berita Terkini | -** Kisah inspiratif datang dari seorang remaja bernama Raden Nabila Cantika. Di usianya yang baru menginjak 12 tahun, Nabila telah menunjukkan semangat kemandirian dan jiwa kewirausahaan yang patut menjadi teladan bagi generasi muda. Berbekal kedisiplinan, kerja keras, serta pendidikan karakter yang ditanamkan sejak kecil oleh orang tuanya, Nabila berhasil membangun usaha sendiri di Bali dari hasil tabungan yang dikumpulkannya selama menempuh pendidikan sekolah dasar.

R
aden Nabila Cantika lahir di Makassar 12 tahun lalu. Sejak berusia tiga bulan, ia telah terbiasa mengikuti aktivitas ibunya yang berjuang membangun usaha dari nol. Dalam kesehariannya, Nabila tumbuh di lingkungan yang mengajarkan pentingnya kerja keras, tanggung jawab, dan kemandirian.
Sang ibu memiliki pola pendidikan yang sederhana namun sarat makna. Nabila diajarkan untuk tidak bergantung pada pemberian tanpa usaha. Setiap uang yang diterimanya harus diperoleh melalui tanggung jawab dan aktivitas yang bernilai. Tujuannya agar ia memahami bahwa setiap rupiah memiliki proses dan perjuangan.
Menurut keluarganya, pendidikan karakter tersebut diberikan bukan untuk membatasi keinginan anak, melainkan untuk membentuk mental yang kuat sejak dini. Nabila diajarkan bahwa kesuksesan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi.
Sejak duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar hingga menyelesaikan pendidikan kelas 6, Nabila menjalani kebiasaan hidup sederhana. Ia membawa bekal dari rumah dan mengurangi kebiasaan membeli jajanan di sekolah. Kebiasaan tersebut bukan semata-mata untuk berhemat, tetapi juga sebagai bagian dari pola hidup sehat yang diajarkan keluarganya.
Uang yang seharusnya digunakan untuk jajan setiap hari dipilih untuk disimpan dan ditabung. Sedikit demi sedikit, kebiasaan tersebut menjadi bagian dari rutinitas yang dijalankan dengan penuh disiplin. Meskipun terlihat sederhana, kebiasaan tersebut membutuhkan komitmen yang kuat, terutama bagi anak seusianya.
Perjalanan Nabila tidak selalu berjalan mudah. Selama masa sekolah, ia mengaku pernah menghadapi berbagai komentar dari teman-temannya. Karena tidak pernah terlihat membeli jajanan dan selalu membawa bekal dari rumah, sebagian teman menganggap dirinya berasal dari keluarga yang tidak mampu.
Situasi tersebut sempat membuatnya merasa sedih. Namun dukungan keluarga, khususnya sang ibu, menjadi sumber kekuatan yang membuatnya tetap bertahan pada prinsip yang telah diajarkan sejak kecil. Ia belajar bahwa penilaian orang lain tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan kebiasaan baik yang sedang dijalani.
Seiring berjalannya waktu, kebiasaan menabung yang dilakukan secara konsisten mulai menunjukkan hasil. Selama enam tahun menjalani pendidikan dasar, uang yang berhasil dikumpulkan Nabila terus bertambah. Disiplin yang dijalankannya setiap hari menjadi fondasi yang kuat dalam mengelola keuangan sejak usia dini.
Ketika menyelesaikan pendidikan sekolah dasar, jumlah tabungan yang berhasil dikumpulkan mencapai sekitar Rp120 juta. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan sesuatu yang besar.
Alih-alih menggunakan tabungan tersebut untuk memenuhi berbagai keinginan pribadi, Nabila memilih langkah yang berbeda. Ia memutuskan memanfaatkan uang hasil tabungannya sebagai modal usaha. Keputusan tersebut lahir dari pengalaman hidup yang sejak kecil akrab dengan dunia usaha dan perjuangan membangun bisnis.
Dengan modal yang dimiliki, Nabila mulai merintis usaha ATM mini dan wahana bermain anak atau playground di Bali. Usaha tersebut dijalankan secara bertahap dengan pendampingan keluarga. Meski masih berusia muda, ia menunjukkan keseriusan dalam memahami proses usaha dan pengelolaannya.
Langkah yang diambil Nabila mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Di tengah kecenderungan anak-anak seusianya yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk hiburan, Nabila justru memilih membangun usaha yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi masyarakat.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang untuk belajar berwirausaha. Dengan bimbingan yang tepat, anak-anak dapat dikenalkan pada konsep pengelolaan keuangan, tanggung jawab, dan pentingnya memiliki tujuan jangka panjang.
Kisah Nabila juga menjadi contoh bahwa pendidikan karakter yang dimulai dari keluarga memiliki peran besar dalam membentuk masa depan anak. Nilai-nilai seperti disiplin, kesederhanaan, kerja keras, dan keberanian mengambil keputusan menjadi bekal penting dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Selain menjadi pengusaha muda, Nabila juga dikenal sebagai sosok yang tetap rendah hati dan fokus pada pendidikan. Ia menyadari bahwa kesuksesan usaha harus berjalan beriringan dengan prestasi akademik dan pembentukan karakter yang baik.
Pengalaman hidup yang dijalaninya sejak kecil membuat Nabila memahami bahwa keberhasilan bukan hanya tentang memiliki banyak uang, tetapi juga tentang kemampuan mengelola kesempatan dan memanfaatkan hasil kerja keras secara bijaksana.
Kisah Raden Nabila Cantika menjadi inspirasi bagi banyak keluarga bahwa pendidikan kemandirian dapat dimulai sejak usia dini. Melalui kebiasaan sederhana seperti menabung, hidup hemat, dan menghargai setiap proses, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan memiliki mental kuat.
Perjalanan Nabila juga membuktikan bahwa kerja keras, disiplin, dan kesabaran merupakan investasi berharga yang hasilnya dapat dirasakan di masa depan. Dengan semangat tersebut, ia kini menjadi salah satu contoh generasi muda yang berhasil mengubah kebiasaan sederhana menjadi langkah nyata dalam membangun masa depan.
(Sumber: Keluarga Raden Nabila Cantika)

