Oleh: Tommy Karwur, M.A.
PENGANTAR
Setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang unik. Ada yang berjalan di jalan yang datar, ada pula yang harus menembus badai, melintasi lembah, mendaki gunung, dan menghadapi berbagai pergolakan zaman. Saya termasuk dalam mereka yang merasakan langsung bagaimana sejarah bangsa berkelindan dengan perjalanan hidup pribadi.
Saya lahir dari keluarga sederhana yang menjunjung tinggi nilai iman, pendidikan, pengabdian, dan kerja keras. Sejak kecil saya telah belajar bahwa kehidupan bukanlah tentang kemudahan, melainkan tentang bagaimana seseorang tetap berdiri teguh ketika diterpa berbagai ujian.
Perjalanan hidup saya membawa saya dari Poso ke Palu, dari pengungsian akibat pergolakan Permesta ke bangku pendidikan di Makassar dan Jakarta, dari aktivitas perjuangan Angkatan 1966 hingga dunia profesional di industri minyak dan gas yang saya geluti selama puluhan tahun.
Memoar ini saya tuliskan bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, melainkan sebagai catatan sejarah keluarga dan saksi perjalanan zaman yang saya alami secara langsung. Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa kerja keras, ketekunan, keberanian, dan iman kepada Tuhan akan selalu membuka jalan di tengah berbagai kesulitan hidup.
BAB 1
AKAR KELUARGA DAN PERPINDAHAN KE LEMBAH PALU
Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai kekristenan, pendidikan, dan pelayanan kepada sesama.
Ayah saya bernama David Charel Karwur, seorang pendidik sekaligus pelayan gereja yang sangat dihormati masyarakat. Ibu saya, Wilhelmina Mapaliey, adalah sosok perempuan penuh kasih yang menjadi sumber kekuatan keluarga kami.
Saya tumbuh bersama saudara-saudara yang saya cintai, yaitu Rossali Karwur, Betsy Karwur, Piet Yan Karwur, dan Lusye Karwur.
Tahun 1954 menjadi tonggak penting dalam sejarah keluarga kami. Saat itu keluarga memutuskan meninggalkan Kota Poso menuju Palu. Perjalanan tersebut tidak mudah. Kami harus menempuh jalur laut melintasi Teluk Tomini dan melanjutkan perjalanan darat dengan bermalam di Parigi sebelum akhirnya tiba di Palu.
Pada tahun 1955, ayah mendapatkan amanah sebagai Kepala Pendidikan Masyarakat (PENMAS) di Palu. Selain itu, beliau juga melayani sebagai Pendeta GPID (Gereja Protestan Indonesia Donggala).
Di kota inilah saya menghabiskan masa kecil dan remaja.
Sejak usia muda saya telah belajar melayani. Ketika Bapak Kusoy dipanggil Tuhan, saya dipercaya menggantikannya sebagai Kostor Gereja.
Tugas saya cukup beragam. Saya membersihkan gereja, menyiapkan perlengkapan ibadah, membunyikan lonceng gereja karena saat itu listrik belum tersedia, serta memotong rumput halaman gereja menggunakan cangkul.
Upah yang saya terima hanya Rp200 per bulan, namun pengalaman itu mengajarkan saya arti tanggung jawab dan pengabdian.
Pendidikan dasar saya tempuh di SD Negeri 1 Palu, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Palu.
Tidak pernah terbayang bahwa masa sekolah saya akan menjadi saksi pergolakan besar dalam sejarah Sulawesi.
BAB 2
DESINGAN PELURU PERMESTA DAN PENGUNGSIAN KE KULAWI
Ketika saya duduk di kelas tiga SMP sekitar tahun 1956–1957, situasi politik Indonesia sedang bergolak.
Pemberontakan Permesta mulai mengguncang Sulawesi.
Kota Palu yang sebelumnya tenang berubah menjadi daerah yang mencekam.
Saya masih mengingat dengan jelas satu-satunya jembatan peninggalan Belanda yang membelah kota. Di satu sisi berjaga pasukan tentara setempat dan CPM, sementara di sisi lain pasukan pusat di bawah Letkol Franz Karangan melakukan operasi militer.
Suara tembakan terdengar hampir setiap hari.
Situasi semakin menegangkan ketika kapal tentara pusat yang berlabuh di Pelabuhan Donggala dibom oleh pesawat Permesta yang dipiloti Alan Pope.
Rumah kami yang berada di Jalan Maesa menjadi kawasan yang tidak lagi aman.
Demi keselamatan keluarga, kami harus mengungsi.
Menggunakan mobil PU-2 yang dikemudikan almarhum Arnold Pongoh, kami menuju Sibalaya.
Di sana kami berlindung di sebuah gubuk sederhana bersama keluarga Nelwan dan keluarga Sahetapy.
Perjalanan belum berakhir.
Kami terus bergerak melewati Kalawara, Pandere, Jembatan Gumbasa, Omu, Gunung Potong, hingga akhirnya tiba di Kulawi.
Di daerah pegunungan yang sejuk itu kami bersembunyi di rumah penduduk yang tersembunyi di balik hutan.
Suatu hari terdengar suara rentetan tembakan yang sangat keras dari arah Gunung Potong.
Kami mengira pertempuran besar sedang berlangsung.
Panik melanda.
Semua orang berlarian mencari perlindungan.
Anak-anak terpisah dari orang tua.
Keluarga tercerai-berai di tengah lembah dan pegunungan.
Belakangan kami mengetahui bahwa suara tembakan tersebut bukanlah pertempuran.
Itu adalah salam perpisahan simbolis antara Mayor Palar dari pihak Permesta dan Mayor Sumadi dari pihak tentara pusat setelah keduanya mencapai kesepakatan damai.
Namun saat itu kami tidak mengetahui hal tersebut.
Ketakutan yang kami rasakan sungguh nyata.
Setelah situasi mereda, ayah bersama keponakan kami, Johny Wangkanusa, berjalan kaki selama dua hari menuju Palu untuk memastikan keamanan kota.
Setelah memperoleh kepastian bahwa keadaan telah kondusif, kami pun kembali ke rumah.
Pengalaman sebagai pengungsi mengajarkan saya arti ketabahan dan pentingnya kedamaian.
BAB 3
MERANTAU, PENDIDIKAN, DAN DUNIA JURNALISTIK
Tahun 1959 saya menamatkan pendidikan SMP dan memutuskan merantau ke Makassar untuk melanjutkan sekolah STM.
Hari keberangkatan itu masih sangat saya ingat.
Pagi hari sekitar pukul enam, ayah mengantar saya menuju Pelabuhan Donggala.
Ibu yang sedang sakit berdiri di depan pintu rumah.
Tatapan matanya begitu dalam.
Saat itu saya menganggapnya sebagai ucapan selamat jalan.
Belakangan saya menyadari bahwa itu adalah perpisahan yang tidak pernah saya duga.
Perjalanan pendidikan membawa saya ke Jakarta pada tahun 1965.
Saya diterima di APP (Akademi Pimpinan Perusahaan) Kementerian Perindustrian Ringan Republik Indonesia.
Akademi tersebut berada di bawah pembinaan Menteri Jenderal M. Jusuf.
Saya sangat bangga karena ijazah diploma saya ditandatangani langsung oleh beliau.
Namun perjuangan kuliah di Jakarta sangat berat.
Saya tinggal di Manggarai dan harus pergi ke Sawah Besar setiap hari.
Karena keterbatasan biaya, saya sering menumpang kereta api tanpa tiket.
Saya memohon pengertian kondektur agar dapat tetap berkuliah.
Bahkan saya sering melompat turun dari kereta karena kereta tidak berhenti tepat di lokasi kampus.
Karena tidak memiliki tempat tinggal yang layak, saya sering tidur di ruang kosong kampus.
Teman-teman mengira saya mahasiswa paling rajin karena selalu berada di kampus pagi dan malam.
Di tengah perjuangan itu, saya menerima kabar yang menghancurkan hati.
Ibu tercinta meninggal dunia.
Saya merasa gagal membalas kasih sayang beliau.
Lebih menyakitkan lagi, saya tidak berada di sampingnya saat beliau menghembuskan napas terakhir.
Ayah juga kemudian meninggal dunia di Manado.
Dua sosok yang paling saya cintai pergi tanpa sempat saya dampingi.
Kesedihan itu menjadi luka yang tetap saya bawa hingga kini.
Selama kuliah saya juga aktif dalam gerakan Angkatan 1966.
Saya bergabung dalam berbagai aktivitas perjuangan mahasiswa serta terlibat dalam Radio Swara Perjuangan sebagai bagian logistik dan operasional.
Saya juga pernah menjadi Wakil Ketua RT di lingkungan Asrama KOSTRAD Banteng Jakarta.
Semua pengalaman tersebut membentuk karakter saya sebagai pribadi yang tangguh dan peduli terhadap kehidupan berbangsa.
BAB 4
KIPRAH PROFESIONAL DI INDUSTRI OIL & GAS
Setelah menyelesaikan pendidikan, saya memasuki dunia profesional.
Tahun 1970 menjadi awal karier saya di industri penunjang minyak dan gas bumi.
Saya memulai pekerjaan di Dowell Schlumberger (Eastern) Inc., perusahaan jasa ladang minyak asal Amerika Serikat yang beroperasi di Cirebon.
Pengalaman itu menjadi fondasi penting bagi perjalanan karier saya.
Pada tahun 1973 saya pindah ke Jakarta dan bergabung dengan PT Indonesia Petroleum Industry (IPI).
Kemudian pada tahun 1975 hingga 1980 saya bekerja bersama perusahaan perdagangan Jepang, Toyo Menka Kaisha Ltd.
Tahun 1980 hingga 2000 merupakan periode terpanjang dalam karier saya.
Selama dua puluh tahun saya mengabdi di PT Imeco Inter Sarana yang bergerak di bidang penyediaan peralatan dan jasa industri energi.
Setelah itu saya melanjutkan karier di PT Cintra Insulindo Abadi (CIA) pada periode 2000–2004.
Perjalanan profesional saya kemudian berlanjut ke dunia internasional.
Pada tahun 2004 hingga 2006 saya menjadi perwakilan NZIS (New Zealand International School) sekaligus menangani berbagai keagenan produk dan peralatan industri minyak dan gas dari Amerika Serikat, Kanada, dan Tiongkok.
Puluhan tahun bekerja di sektor energi memberikan banyak pengalaman berharga.
Saya belajar tentang disiplin, profesionalisme, kepemimpinan, dan pentingnya membangun hubungan baik dengan banyak pihak.
Kini, setelah memasuki masa pensiun, saya tetap aktif sebagai konsultan dan pelaku usaha.
Saya percaya bahwa pensiun bukanlah akhir perjalanan, melainkan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
PENUTUP
Ketika saya menoleh ke belakang, saya melihat perjalanan panjang yang penuh warna.
Dari Poso ke Palu.
Dari pengungsian di Kulawi.
Dari perjuangan mahasiswa Angkatan 1966.
Dari ruang-ruang kelas sederhana hingga perusahaan multinasional.
Semua pengalaman itu membentuk diri saya hari ini.
Saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang selalu menuntun langkah saya dalam setiap musim kehidupan.
Saya juga bersyukur kepada kedua orang tua, keluarga, sahabat, guru, rekan perjuangan, dan semua orang yang pernah hadir dalam perjalanan hidup saya.
Jika ada satu pelajaran yang ingin saya wariskan, maka pelajaran itu adalah:
Jangan pernah menyerah menghadapi kesulitan.
Tetaplah bekerja keras.
Tetaplah beriman.
Karena Tuhan selalu memiliki jalan bagi mereka yang terus melangkah dengan hati yang tulus.
— Tommy Karwur, M.A.

