Disusun oleh :
Adzka Nur Fatiha
Adha Istiqomah
Bilqis Adinda Putri
Mia Afrilia Solichaningrum
Zenny Prita Laudya Putri
Tahun :
2026
- Pneumothorax dan Pentingnya Pemeriksaan Thorax AP
Pneumothorax merupakan kondisi penumpukan udara di dalam rongga pleura yang dapat menyebabkan paru-paru mengalami kolaps. Pneumothorax dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kelainan genetik, kebiasaan merokok, kelainan paru, hingga karakteristik individu yang memiliki postur tinggi dan kurus karena tekanan pada apeks paru lebih besar dibandingkan basal paru.

Pneumothorax ditandai dengan nyeri dada yang tajam dan sesak napas akut. Pada pemeriksaan fisik biasanya ditemukan penurunan suara napas pada sisi yang terdampak, peningkatan resonansi, napas dan denyut jantung yang lebih cepat, serta penurunan saturasi oksigen.
Pada suatu kasus dijumpai seorang laki-laki berusia 30 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan keluhan nyeri dada kiri yang muncul secara tiba-tiba disertai sesak napas. Pasien memiliki postur tubuh tinggi dan kurus serta riwayat merokok aktif selama 13 tahun. Dokter menemukan adanya suara napas yang lebih lemah pada paru kiri dan mencurigai adanya pneumothorax sehingga pasien dirujuk ke instalasi radiografi untuk menjalani pemeriksaan Thorax AP.
Pemeriksaan Thorax AP merupakan pemeriksaan yang umum digunakan pada pasien dengan keluhan nyeri dada dan sesak napas akut. Melalui hasil radiografi, dokter dapat mengidentifikasi adanya pneumothorax dari garis batas paru, hilangnya gambaran pembuluh darah paru, serta area yang tampak lebih gelap pada foto rontgen akibat penumpukan udara di rongga pleura.
Pemeriksaan Thorax AP membantu menegakkan diagnosis dan menilai derajat kerusakan paru sehingga dapat menjadi pedoman dalam menentukan terapi yang tepat. Selain itu, pemeriksaan ini juga berperan dalam memantau perkembangan penyakit, mengevaluasi keberhasilan terapi, serta mendeteksi komplikasi yang mungkin terjadi.
Radiografi Thorax AP memiliki kelebihan berupa proses pemeriksaan yang cepat, biaya yang relatif lebih murah, serta dosis radiasi yang lebih rendah dibandingkan CT Scan.
- Prosedur Pemeriksaan Radiografi Thorax AP
Pada pemeriksaan Radiografi Thorax AP, langkah pertama yang dilakukan adalah persiapan pasien dengan memverifikasi identitas pasien menggunakan pertanyaan terbuka. Selanjutnya radiografer menjelaskan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan dan mengarahkan pasien untuk melepas benda logam yang dapat menimbulkan artefak pada citra radiografi. Posisi pasien kemudian disesuaikan dengan kondisi klinis dan tingkat kesulitan bernapas yang dialami.
Alat dan bahan yang digunakan dalam pemeriksaan Radiografi Thorax AP meliputi:
- Pesawat Sinar-X
- Image Receptor
- Grid
- Apron Timbal
- Marker
Sebelum melakukan eksposi, radiografer harus memastikan penerapan prinsip ALARA (As Low As Reasonably Achievable) guna menjaga dosis radiasi serendah mungkin tanpa mengurangi kualitas citra diagnostik.
Penerapan prinsip ALARA dilakukan dengan:
- Menggunakan kolimasi yang tepat sesuai area pemeriksaan.
- Memilih faktor eksposi yang optimal.
- Memastikan posisi pasien dan peralatan sudah benar untuk menghindari pengulangan penyinaran.
Selain itu, radiografer juga harus memperhatikan keselamatan diri sendiri dan orang lain di sekitar area pemeriksaan dengan menerapkan prinsip Waktu, Jarak, dan Perisai (Shielding).
- Teknik Pemeriksaan Thorax AP
Pada pemeriksaan Thorax AP (Antero-Posterior), posisi pasien dapat berupa:
- Erect (berdiri)
- Semi erect (setengah duduk)
- Supine (terlentang)
Posisi dipilih sesuai kemampuan dan kondisi pasien.
Pastikan bidang midsagital pasien berada tepat pada garis tengah meja pemeriksaan atau detektor. Bahu pasien diproyeksikan ke depan untuk membuka scapula sehingga meminimalkan superimposisi.
Parameter pemeriksaan Thorax AP meliputi:
- Tegangan tabung (kVp): 70–80 kVp
- Arus dan waktu penyinaran (mAs): 16–20 mAs
- Jarak fokus ke detektor: 120–140 cm
Grid harus dipasang dan digunakan secara efektif untuk meningkatkan kualitas citra.
- Analisis Gambaran Radiografi Thorax AP pada Pneumothorax
4.1 Kriteria Gambaran Anatomi
Radiografi Thorax AP pada kasus pneumothorax harus menampilkan seluruh lapangan paru mulai dari apeks hingga basis paru, termasuk sinus kostofrenikus, trakea, dan mediastinum.
Ketercakupan anatomi yang lengkap sangat penting untuk menilai lokasi, luas, dan derajat pneumothorax karena udara intrapleura dapat terakumulasi sesuai posisi pasien.
Apeks paru sering menjadi lokasi awal akumulasi udara pada pasien dengan posisi tegak. Sinus kostofrenikus berperan dalam mendeteksi tanda pneumothorax pada pasien supine seperti deep sulcus sign dan membedakannya dari efusi pleura atau hemothorax.
Visualisasi trakea dan mediastinum juga diperlukan untuk mengevaluasi kemungkinan deviasi akibat peningkatan tekanan intrapleura, khususnya pada tension pneumothorax, serta mendeteksi komplikasi intratorakal lainnya.
4.2 Kualitas Citra
Kualitas citra Thorax AP harus memenuhi beberapa aspek penting yaitu:
- Densitas yang optimal
- Kontras yang memadai
- Ketajaman citra yang baik
- Distorsi dan magnifikasi yang minimal
Densitas yang optimal memungkinkan visualisasi yang jelas antara jaringan paru, rongga pleura berisi udara, dan struktur toraks sehingga garis pleura viseral dapat terlihat dengan baik.
Kontras yang memadai diperlukan untuk membedakan paru yang masih mengembang dengan area pneumothorax yang tampak lebih radiolusens.
Ketajaman citra sangat penting untuk memperlihatkan garis pleura viseral yang tipis tanpa gangguan motion blur.
Distorsi geometrik dan magnifikasi harus diminimalkan melalui posisi pasien yang tepat serta penyelarasan tabung sinar-X dengan detektor.
4.3 Temuan Radiografi pada Pneumothorax
Karakteristik utama pneumothorax pada radiografi Thorax AP ditandai dengan terlihatnya garis pleura viseral yang jelas sebagai batas paru yang mengalami kolaps akibat masuknya udara ke rongga pleura.
Di luar garis tersebut tidak tampak corakan vaskular paru karena area tersebut hanya berisi udara bebas sehingga membentuk daerah hiperlusen yang lebih gelap dibandingkan jaringan paru normal.
Luas area hiperlusen biasanya berkorelasi dengan volume udara intrapleura dan dapat digunakan untuk memperkirakan ukuran pneumothorax.
Seiring meningkatnya jumlah udara, paru akan mengalami retraksi ke arah hilus dan hemitoraks.
Pada kasus tension pneumothorax dapat ditemukan:
- Deviasi trakea
- Pergeseran mediastinum ke sisi kontralateral
- Pelebaran sela iga
- Depresi hemidiafragma ipsilateral
Temuan tersebut menunjukkan kondisi kegawatdaruratan akibat peningkatan tekanan intrapleura.

(Sumber: Alodokter)

(Sumber: Radiology Masterclass)
KESIMPULAN
Pneumothorax merupakan kondisi yang perlu diwaspadai karena dapat mengganggu fungsi pernapasan dan berkembang menjadi keadaan gawat darurat apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.
Gejala yang sering muncul berupa nyeri dada yang terjadi secara tiba-tiba, sesak napas, atau kesulitan bernapas sehingga tanda-tanda tersebut tidak boleh diabaikan.
Apabila mengalami keluhan tersebut, masyarakat dianjurkan untuk segera memeriksakan diri ke tenaga kesehatan guna mendapatkan evaluasi klinis dan penanganan yang sesuai.
Salah satu pemeriksaan yang berperan penting dalam mendeteksi pneumothorax adalah Radiografi Thorax AP karena mampu memberikan gambaran kondisi paru secara cepat, membantu menegakkan diagnosis, dan menentukan pengobatan yang tepat.
Dengan deteksi dan penanganan dini, risiko komplikasi dapat diminimalkan dan peluang pemulihan pasien dapat meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Louw EH, Shaw JA, Koegelenberg CFN. (2021). New Insights into Spontaneous Pneumothorax: A Review. African Journal of Thoracic and Critical Care Medicine, 27(1). doi:10.7196/AJTCCM.2021.v27i1.054.
Huan NC, Sidhu C, Thomas R. (2021). Pneumothorax: Classification and Etiology. Clinical Chest Medicine, 42(4), 711–727. doi:10.1016/j.ccm.2021.08.007.
Iqbal T, Shaukat A, Akram MU, et al. (2021). Automatic Diagnosis of Pneumothorax From Chest Radiographs: A Systematic Literature Review. IEEE Access.
Bontrager KL, Lampignano JP. (2022). Textbook of Radiographic Positioning and Related Anatomy. 10th Edition. St. Louis: Elsevier.

