Nama Penyusun:
Marisa Dewi Pertiwi
Dzaky Hendi Nuartha
Dimas Seno Aji Pratama
Icha Firliandita
Hasna Fahria Zahli
Salsabila Aprilia Putri
Dosen pengampu: Ayub Manggala Putra S. Tr. kes., M. Sc.
Universitas Airlangga
Bahu merupakan salah satu sendi yang paling sering digunakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari maupun olahraga. Pada atlet, terutama atlet bulu tangkis, sendi bahu bekerja lebih keras karena harus menopang berbagai gerakan berulang dengan intensitas tinggi. Tidak jarang keluhan berupa nyeri dan keterbatasan gerak pada bahu muncul secara perlahan sehingga sering dianggap sebagai kelelahan otot biasa. Padahal, jika dibiarkan dalam waktu lama, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih serius dan mengganggu performa olahraga maupun aktivitas sehari-hari.
Salah satu kondisi yang dapat menyebabkan keluhan tersebut adalah frozen shoulder atau adhesive capsulitis. Gangguan ini ditandai dengan nyeri yang disertai penurunan rentang gerak sendi bahu secara progresif. Penderita umumnya mengalami kesulitan melakukan gerakan tertentu, terutama saat mengangkat lengan atau memutar bahu.
Frozen shoulder merupakan gangguan nyeri bahu yang disebabkan oleh penebalan dan pengencangan kapsul jaringan ikat di sekitar sendi bahu. Faktor risiko yang paling sering dijumpai adalah usia di atas 40 tahun, perempuan lebih banyak dibanding laki-laki, serta riwayat trauma seperti pembedahan atau fraktur lengan yang menyebabkan imobilisasi selama masa pemulihan. Gejala khas frozen shoulder meliputi kekakuan bahu yang progresif, nyeri hebat terutama pada malam hari, serta hampir hilangnya rotasi aktif maupun pasif pada sendi bahu.
Salah satu contoh kasus dialami seorang atlet bulu tangkis berusia 23 tahun yang datang ke poliklinik ortopedi dengan keluhan nyeri pada bahu kanan sejak sekitar tiga bulan terakhir. Awalnya nyeri hanya muncul setelah latihan intensif, namun secara bertahap semakin berat dan disertai keterbatasan gerak bahu. Pasien mengaku kesulitan melakukan gerakan overhead saat latihan maupun pertandingan. Bahkan aktivitas sederhana seperti mengenakan pakaian dan mengambil barang di tempat tinggi mulai terasa tidak nyaman.
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, dokter menemukan keterbatasan gerak aktif dan pasif pada sendi bahu, terutama pada gerakan abduksi dan rotasi eksternal. Temuan tersebut mengarah pada dugaan frozen shoulder. Untuk membantu evaluasi kondisi sendi bahu serta menyingkirkan kemungkinan kelainan lain yang memiliki gejala serupa, dokter meminta pemeriksaan Radiografi Shoulder Joint dengan proyeksi AP Neutral Rotation di Instalasi Radiologi.
Sebelum pemeriksaan dilakukan, pasien diminta melepaskan seluruh benda logam seperti kalung, rantai, bros, kancing logam, maupun aksesori lain yang dapat menimbulkan artefak pada citra radiografi. Radiografer juga memastikan kondisi pasien sebelum pemeriksaan, terutama pada pasien gawat darurat yang membutuhkan penanganan khusus.
Persiapan pemeriksaan meliputi:
- Persiapan alat dan bahan:
- Pesawat Sinar-X Radiografi dengan Bucky Stand.
- Image Receiver (IR) atau Imaging Plate (IP) ukuran 35 × 35 cm atau 24 × 30 cm.
- Workstation Radiografi.
- Computed Radiography (CR) Reader.
- Operator Console.
- Grid.
- CD/DVD-RW.
- Alat bantu fiksasi.
- Marker radiografi (R/L).
- Apron timbal.
- Kamera dokumentasi.
- Persiapan ruang radiologi:
- Memastikan kebersihan dan kerapian ruangan.
- Suhu ruangan di bawah 25°C.
- Posisi tabung sinar-X pada posisi awal (default).
- Identifikasi data pasien:
- Konfirmasi nama lengkap.
- Tanggal lahir.
- Alamat.
- Indikasi klinis pemeriksaan.
Selanjutnya dilakukan pengaturan posisi pasien, objek, tabung sinar-X, serta faktor eksposi. Pada kasus frozen shoulder digunakan proyeksi AP Neutral Rotation karena mampu memperlihatkan anatomi shoulder joint secara optimal dalam posisi netral. Proyeksi ini digunakan untuk mengevaluasi hubungan caput humeri dengan cavitas glenoidalis serta menyingkirkan kemungkinan fraktur, dislokasi, maupun kelainan degeneratif.
Posisi pasien dapat berdiri (erect) maupun terlentang (supine) sesuai kondisi pasien. Posisi berdiri lebih disarankan apabila memungkinkan karena lebih nyaman. Tubuh pasien diposisikan menghadap detektor dengan bahu yang diperiksa menempel pada Image Receiver.
Lengan dibiarkan pada posisi netral di samping tubuh sesuai toleransi pasien. Epikondilus humerus membentuk sudut sekitar 45° terhadap Image Receiver.
Central Ray diarahkan tegak lurus ke pertengahan sendi scapulohumeral, sekitar 2 cm inferior dan sedikit lateral dari processus coracoideus.
Parameter eksposi yang umum digunakan:
- Tegangan tabung: 70–80 kVp.
- Arus: 6–12 mAs.
- SID: 100 cm.
- Menggunakan grid.
Kriteria gambaran radiografi yang baik meliputi:
- Anatomi yang tampak:
- Sepertiga proksimal humerus.
- Cavitas glenoidalis.
- Processus coracoideus.
- Acromion.
- Bagian lateral clavicula.
- Bagian superior scapula.
- Hubungan anatomis caput humeri dengan cavitas glenoidalis tampak jelas.
Pada kasus frozen shoulder umumnya tidak ditemukan kelainan tulang yang spesifik karena gangguan utama berada pada kapsul sendi dan jaringan lunak. Namun radiografi tetap penting untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti:
- Osteoartritis.
- Dislokasi.
- Fraktur.
- Tendinitis kalsifik.
- Kelainan degeneratif sendi akromioklavikular.
- Posisioning:
Tidak terdapat rotasi tubuh maupun rotasi bahu yang berlebihan. Hubungan anatomi bahu terlihat baik, scapula dan clavicula tampak simetris, serta kolimasi mencakup seluruh shoulder joint. - Kualitas citra:
- Densitas optimal.
- Kontras baik.
- Ketajaman tinggi.
- Tidak terdapat motion blur.
- Bebas artefak logam maupun artefak digital.
Penerapan proteksi radiasi dilakukan dengan prinsip ALARA (As Low As Reasonably Achievable) untuk meminimalkan dosis radiasi. Kolimasi hanya mencakup area shoulder joint sehingga paparan radiasi pada jaringan di luar area pemeriksaan dapat dikurangi.
Faktor eksposi dipilih secara optimal agar tidak perlu dilakukan pengulangan penyinaran. Pasien diminta tetap diam selama eksposi berlangsung. Radiografer berada di balik pelindung radiasi, sedangkan apabila diperlukan pendamping maka pendamping wajib menggunakan apron timbal.
Dengan penerapan teknik pemeriksaan yang benar, kualitas citra radiografi dapat dipertahankan sehingga dokter radiolog memperoleh informasi diagnostik yang akurat. Pemeriksaan Radiografi Shoulder Joint proyeksi AP Neutral Rotation menjadi pemeriksaan awal yang sangat penting dalam evaluasi frozen shoulder karena mampu menyingkirkan berbagai kelainan tulang maupun sendi yang memiliki gejala serupa. Hasil pemeriksaan ini menjadi dasar bagi dokter dalam menentukan diagnosis, terapi, serta rencana penanganan yang tepat sehingga pasien dapat segera memperoleh pengobatan dan kembali beraktivitas secara optimal.


