Ketika Sungai Serayu Menjadi Pengantin dalam Bisik Serayu Festival 2026

mediapatriot.co.id | Banyumas | Berita Hari Ini | –

BANYUMAS – Sungai Serayu menjadi ruang pertunjukan simbolik dalam Bisik Serayu Festival 2026 yang digelar di Desa Kaliori, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu sore, 29 Agustus 2026. Salah satu pertunjukan utama dalam festival tersebut adalah Manten Gethek, sebuah pertunjukan berbasis air yang mempertemukan manusia, gethek, dan Sungai Serayu dalam sebuah prosesi perkawinan simbolik.

Prosesi dimulai dari daratan. Sepasang laki-laki dan perempuan yang mengenakan busana serta riasan pengantin diarak menuju tepian sungai. Keduanya kemudian menaiki gethek dan dibawa perlahan menuju tengah aliran Serayu.

Namun, pasangan tersebut bukan sekadar pengantin dalam pengertian perkawinan manusia. Manten Gethek menjadi simbol hubungan antara manusia dan Sungai Serayu. Pertunjukan tersebut digagas oleh Rianto, penari dan koreografer Lengger Lanang Banyumas, sekaligus penggagas Bisik Serayu Festival.

Rianto menyebut Manten Gethek sebagai water-based performance yang memvisualisasikan sebuah “pernikahan suci” antara manusia dan Sungai Serayu. Menurutnya, pertunjukan tersebut bukan hanya menghadirkan tontonan visual, tetapi juga membawa gagasan mengenai laku spiritual dan kosmologi Banyumasan.

“Pertunjukan itu bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah laku spiritual dan kosmologi Banyumasan,” ungkap Rianto.

Dari Kaliori ke Tokyo

Perjalanan Rianto memiliki kaitan erat dengan Kaliori. Ia lahir di desa tersebut dan tumbuh dalam lingkungan kesenian Banyumas sebelum kemudian membawa Lengger Lanang hingga ke Jepang.

Bersama istrinya, penari Jepang Miray Kawashima, Rianto mendirikan Dewandaru Dance Company di Tokyo. Pada Bisik Serayu Festival 2026, Dewandaru kembali hadir di Kaliori dan tampil berdampingan dengan sang pendirinya.

Festival tersebut juga menghadirkan seniman dari berbagai negara, antara lain Florence Boyer, penari, koreografer sekaligus peneliti seni asal Prancis, Thamizhavanan Narayanasamy dari Malaysia, serta kelompok Yamato No Tamashii dari Jepang.

Kehadiran para seniman dari berbagai latar belakang menjadikan Serayu sebagai ruang perjumpaan antara kesenian lokal Banyumas dengan pengalaman seni dari luar negeri.

Sungai Serayu sebagai Ruang Hidup

Sungai Serayu berhulu di kawasan Pegunungan Dieng, Wonosobo, kemudian mengalir melewati Banjarnegara, Purbalingga dan Banyumas, sebelum menuju Cilacap dan bermuara di Samudra Hindia.

Dalam perjalanan panjangnya, Serayu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sungai tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan air, tetapi juga pertanian, permukiman, mobilitas, interaksi sosial dan kebudayaan masyarakat di sepanjang alirannya.

Hubungan masyarakat Banyumas dengan kesenian juga memiliki jejak sejarah panjang. Serat Centhini pada awal abad XIX mencatat pertunjukan tayuban dan ronggèng dalam episode perjalanan Cebolang di Wirasaba.

Catatan lain dalam jurnal kolonial tahun 1886 menyebut Karsijah sebagai ronggèng yang sekitar 30 tahun sebelumnya sangat terkenal di Purbalingga. Sementara dalam kehidupan desa pada awal abad XX, gamelan dan terbang juga menjadi bagian dari pesta perkawinan dan sunatan.

Kesenian pada masa itu tidak selalu hadir di atas panggung khusus. Seni tumbuh bersama kehidupan sehari-hari masyarakat.

Ketika Air Menghasilkan Bunyi

Salah satu contoh kedekatan masyarakat dengan Serayu dapat ditemukan dalam tradisi Kunclungan di Desa Plana. Dahulu, setelah bekerja di sawah, warga turun ke sungai untuk mandi dan beristirahat.

Dari aktivitas sederhana tersebut kemudian muncul permainan bunyi. Gerakan tangan yang ditepukkan dan digerakkan di permukaan air menghasilkan irama tertentu.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sungai bukan sekadar sumber air. Serayu juga menjadi tempat masyarakat bertemu, bermain dan menciptakan bunyi. Batas antara aktivitas sehari-hari dengan kesenian pun menjadi sangat tipis.

Bisik Serayu Festival mencoba membuka kembali ruang kebudayaan semacam itu. Pada 2024, Kunclungan dibawa kembali ke dalam festival. Setahun berikutnya, sungai menjadi ruang ruwatan, labuhan dan pengingatan terhadap Blabur Banyumas, yakni peristiwa banjir besar akibat meluapnya Serayu pada 1861.

Pada 2026, hubungan manusia dengan sungai tersebut kembali dirumuskan melalui Manten Gethek.

Tradisi dan Perjumpaan Seniman

Bisik Serayu tidak hanya menghadirkan kesenian lokal. Sejumlah sanggar, komunitas, kelompok ketoprak, sastra, seniman nasional hingga seniman internasional ikut hadir dalam festival.

Di antaranya Ketoprak Kaliori, Serat Centini, Komunitas Anak Sawah, serta kolaborasi Dewandaru Dance Company dari Jepang dengan Rianto dan Agung Gunawan melalui pertunjukan Kulu-kulu dan Lengger Lanang.

Rianto merumuskan festival tahun ini melalui tiga pilar, yakni “Bisik Air (Svara Tirta), Pijak Bumi (Prajna Pertiwi), dan Temu Rasa (Manunggaling Warga).”

Perspektif tersebut mendapat resonansi dari Siti Mukaromah, anggota DPR RI yang hadir dalam festival. Ia menyebut Bisik Serayu membawa esensi falsafah Banyumas yang bertumpu pada Gunung Slamet, Sungai Serayu dan karakter blakasuta.

“Gununge mulang kukuh, Serayune mulang mili, serta Blakasuta mulang jujur,” kata Siti.

Menurutnya, Gunung mengajarkan keteguhan, Serayu mengajarkan keluwesan untuk terus mengalir, sedangkan blakasuta mengajarkan keberanian untuk berkata jujur.

Membaca Kembali Hubungan Manusia dengan Alam

Nisa Roiyasa, pegiat budaya sekaligus dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), juga hadir bersama relawan Rumah Cibun, komunitas pelestari tradisi maca Babad Pasir Luhur di Grumbul Cibun, Desa Sunyalangu.

Nisa menilai Bisik Serayu merupakan bentuk ekspresi estetik dari rasa cinta terhadap alam, khususnya Sungai Serayu yang sejak lama menopang kehidupan masyarakat.

Menurut Nisa, Banyumas memiliki dua ekosistem kebudayaan besar, yakni Gunung Slamet dan Sungai Serayu.

“Saya berharap ke depan kedua ekosistem ini bisa berkolaborasi,” katanya, “sehingga kita dapat menyusun cerita yang lebih utuh tentang peradaban Banyumas kuno.”

Dalam konteks tersebut, Manten Gethek memperoleh makna yang lebih luas. Pertunjukan itu tidak harus dipahami sebagai ritual kuno yang sejak dahulu dilakukan dalam bentuk yang sama. Festival justru mencoba membaca kembali simbol-simbol mengenai hubungan manusia dengan sungai dan memberinya bentuk baru.

Gethek yang dahulu digunakan masyarakat untuk menyeberangi sungai kini menjadi bagian dari prosesi yang membawa manusia mendekat ke sungai. Sepasang figur yang didandani seperti pengantin memperkuat simbol “manten”, sementara air menjadi ruang berlangsungnya pertunjukan.

Perjalanan Rianto juga seolah mengulang gerak yang sama. Dari Kaliori, kesenian Lengger membawanya ke dunia. Setelah berkiprah di Jepang dan berbagai panggung internasional, ia kembali ke Kaliori dengan membawa pengalaman, jejaring serta bentuk kolaborasi baru.

Tradisi dalam konteks tersebut tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang beku. Ia terus bergerak, beradaptasi dan menemukan bentuk baru sesuai dengan zaman.

Serayu sendiri jauh lebih tua daripada Bisik Serayu Festival. Sungai tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat jauh sebelum festival, panggung modern maupun istilah revitalisasi kebudayaan hadir.

Bisik Serayu setidaknya mencoba mengingatkan kembali bahwa sungai pernah menjadi bagian yang sangat dekat dengan kehidupan manusia—tempat bekerja, beristirahat, bermain, berdoa, bercerita dan menciptakan kesenian.

Di Kaliori, hubungan itu kembali diucapkan melalui tubuh, bunyi, gethek, ritual dan sebuah perkawinan simbolik.

Kali ini, Serayu menjadi pengantin.

(Redaksi)

(Sumber: mediapatriot.co.id)

📱 Unduh & Install Aplikasi Resmi MediaPatriot.co.id Baca berita Media Patriot lebih mudah di Android.
⬇️ UNDUH APK

Baca Juga: Berita Global, Jakarta, Bandung, Kota Bekasi, Aceh, Mesuji Lampung, Berita Artis, Berita Bisnis, Tentang Backlink Termurah.




🇮🇩 Galeri Ucapan HUT RI Ke-81 🇮🇩

Dirgahayu Republik Indonesia Ke-81

BACA JUGA: Kerjasama Media di EKATALOG INAPROC LKPP untuk DISKOMINFO dan SKPD Lainnya


Informasi Iklan / Advertorial Klik
mediapatriot.co.id@gmail.com
atau Hubungi WhatsApp kami
08999208174


IKUTI CHANNEL MEDIAPATRIOT.CO.ID DI PONSELMU
Ikuti saluran Channel MediaPatriot.CO.ID di WhatsApp

Wartawan di lapangan dibekali Kode Sandi untuk membuka DAFTAR WARTAWAN >>>


Tentang Kami

Mediapatriot.co.id adalah portal berita online nasional yang menyajikan informasi aktual, terpercaya, dan berimbang. Kami hadir untuk memberikan akses berita cepat dan akurat.

Didirikan oleh jurnalis senior Hamdanil Asykar, Mediapatriot.co.id berkomitmen menjaga integritas jurnalistik dan menjunjung tinggi Kode Etik Dewan Pers. Dengan jaringan kontributor di berbagai daerah, kami menghadirkan berita lokal dengan cakupan nasional.

Misi kami adalah menjadi media digital yang membangun kesadaran publik melalui berita edukatif, mendalam, dan bebas hoaks.

Untuk pertanyaan, saran, atau kerja sama media, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak.


>

Informasi Iklan / Advertorial Klik redaksi@mediapatriot.co.id