JAKARTA โ Pertumbuhan bisnis laundry di Indonesia terus membuka ruang bagi model usaha berbasis kemitraan dan teknologi. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Laundry 24 Jam, yang dalam waktu kurang dari dua tahun sejak berdiri telah berkembang menjadi jaringan dengan 50 cabang dan sekitar 200 karyawan.
Perkembangan tersebut disampaikan Co-Founder Laundry 24 Jam, Riyanti, S.E., saat menghadiri ajang Indonesia Business Laundry Awards (IBLA) 2026 dalam rangkaian Festival Laundry & UMKM 2026 di Gedung SMESCO, Jakarta, Minggu (13/9/2026).
Riyanti mengatakan, pertumbuhan jaringan Laundry 24 Jam tidak terlepas dari pengalaman para pendirinya yang telah lama berkecimpung di industri laundry. Perusahaan ini dibangun oleh tiga praktisi, yakni Anton Agusta, Yesi Elvira, dan Riyanti, yang masing-masing memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam membangun konsep bisnis yang tidak hanya berorientasi pada operasional gerai, tetapi juga memberikan peluang kepada masyarakat dan investor melalui skema kemitraan atau franchise.
โKami mendirikan Laundry 24 Jam dengan membuka peluang kemitraan (franchise) bagi para investor. Daya tarik utamanya adalah Return on Investment (ROI) yang tergolong sangat cepat,โ ujar Riyanti.
Menurut dia, respons positif dari mitra menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan jumlah cabang. Sejumlah investor yang telah menjalankan cabang pertama disebut kembali memperluas usahanya dengan membuka cabang berikutnya.
Pola tersebut kemudian menciptakan efek berantai yang mempercepat perluasan jaringan Laundry 24 Jam di berbagai daerah.
Bangun Teknologi IoT Sendiri
Tidak hanya mengandalkan model kemitraan, Laundry 24 Jam juga berupaya memperkuat bisnis melalui inovasi teknologi. Perusahaan mengembangkan sistem Internet of Things (IoT) secara internal yang diberi nama TORU.
Riyanti menjelaskan, TORU dikembangkan secara mandiri agar dapat menyesuaikan dengan kebutuhan operasional Laundry 24 Jam. Dengan sistem tersebut, perusahaan dapat mengintegrasikan kebutuhan pengelolaan bisnis sekaligus memperoleh kontrol terhadap data operasional secara lebih optimal.
โKami membangun sistem TORU secara mandiri tanpa bergantung pada teknologi pihak ketiga. Sistem ini dikembangkan khusus sesuai dengan kebutuhan operasional unik di Laundry 24 Jam,โ ungkapnya.
Pengembangan teknologi internal tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi, pemantauan operasional secara real-time, serta pengelolaan dan keamanan data.
SOP Jadi Fondasi Pengelolaan 50 Cabang
Pertumbuhan jaringan yang cepat tentu membawa tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga standar pelayanan. Karena itu, Laundry 24 Jam menempatkan Standard Operating Procedure (SOP) sebagai salah satu fondasi utama dalam pengelolaan bisnis.
Perusahaan juga membangun struktur kepemimpinan yang dirancang untuk menjaga pengawasan tetap efektif. Dalam sistem yang diterapkan, seorang kepala cabang memiliki tanggung jawab mengawasi maksimal 10 cabang dalam satu wilayah.
Struktur tersebut diharapkan mampu menjaga kualitas pelayanan sekaligus memastikan standar operasional tetap konsisten ketika jumlah jaringan terus bertambah.
Bagi Riyanti, ekspansi bisnis bukan semata-mata persoalan menambah jumlah outlet. Pertumbuhan jaringan harus diikuti dengan sistem pengelolaan, sumber daya manusia, teknologi, serta standar kerja yang mampu menopang operasional dalam skala besar.
Bidik 1.000 Cabang
Dengan capaian 50 cabang dan lebih dari 200 karyawan, Laundry 24 Jam kini mulai membidik target yang jauh lebih besar. Perusahaan menargetkan pembangunan jaringan hingga 1.000 cabang di seluruh Indonesia.
โTarget kami tentunya membuka cabang lebih banyak lagi di seluruh Indonesia. Kami bermimpi bisa mencapai 1.000 cabang di masa depan,โ tegas Riyanti.
Target tersebut menjadi gambaran ambisi Laundry 24 Jam untuk membangun jaringan laundry berskala nasional dengan mengandalkan perpaduan antara pengalaman industri, kemitraan, standardisasi operasional, dan teknologi yang dikembangkan sendiri.
Kehadiran Laundry 24 Jam juga menunjukkan bahwa industri laundry tidak lagi sekadar dipandang sebagai bisnis jasa konvensional. Dengan penerapan teknologi dan model kemitraan yang terstruktur, sektor ini semakin berkembang menjadi peluang usaha yang dapat dikembangkan dalam skala jaringan.
Laundry 24 Jam didirikan pada 2024/2025 oleh tiga praktisi industri dengan pengalaman gabungan lebih dari 45 tahun. Saat ini perusahaan mengoperasikan 50 cabang dengan dukungan lebih dari 200 karyawan, serta terus mempersiapkan ekspansi jaringan menuju berbagai wilayah di Indonesia.
Red Irwan Hasiholan



