Mediapatriot.co.id | BANYUWANGI | Pertanian | Di tengah fluktuasi harga sejumlah komoditas pertanian, peluang usaha mulai muncul dari tanaman rempah yang selama ini belum banyak dilirik masyarakat. Cabai jamu (Piper retrofractum) menjadi salah satu tanaman yang dimanfaatkan sebagai sumber penghasilan tambahan oleh petani di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Tanaman yang memiliki karakter merambat dan menyerupai sirih ini dapat dibudidayakan di lahan terbatas, termasuk pekarangan rumah. Salah satunya dilakukan Sinto, petani di Dusun Pekulo, RT 04/RW 03, Desa Kepundungan, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang mengembangkan cabai jamu di kebun kecil miliknya.
Sinto, yang akrab disapa Pak Sinto, mengatakan cabai jamu memiliki bentuk tanaman yang sederhana. Daunnya menyerupai daun sirih, sedangkan buahnya berukuran kecil dan memanjang. Menurutnya, cabai jamu masih belum sepopuler cabai merah maupun cabai rawit di kalangan masyarakat. Padahal, tanaman tersebut memiliki potensi ekonomi apabila dibudidayakan dan dikelola dengan baik.
โTanaman ini memang kecil, merambat, dan daunnya sangat menyerupai daun sirih. Buahnya juga kecil-kecil memanjang,โ ujar Sinto saat ditemui di kebunnya, Sabtu (26/9/2026).
Ia menjelaskan, salah satu keunggulan cabai jamu adalah perawatannya yang relatif sederhana. Tanaman tersebut dapat dikembangkan di lahan terbatas dan tidak membutuhkan perlakuan khusus seperti sejumlah tanaman hortikultura lainnya. Cabai jamu juga dapat memanfaatkan pupuk organik dari kotoran hewan sehingga dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan lahan pekarangan yang belum produktif.
Pascapanen Jadi Kunci Kualitas
Sinto menilai keberhasilan budidaya cabai jamu tidak hanya ditentukan dari proses penanaman, tetapi juga penanganan setelah panen. Menurutnya, kualitas buah harus tetap dijaga agar hasil panen memiliki nilai jual yang baik. Salah satu cara yang ia terapkan adalah mencelupkan buah cabai jamu sebentar ke dalam air hangat sebelum proses penjemuran.
โPenanganan pascapanen sangat penting. Sebelum dijemur, buah cabai jamu sebaiknya dicelup sebentar ke air hangat agar kualitasnya tetap terjaga,โ jelasnya.
Langkah tersebut, menurut Sinto, dilakukan untuk membantu menjaga kondisi buah dan mengurangi risiko munculnya bercak putih yang dapat memengaruhi kualitas hasil panen. Penanganan pascapanen yang baik menjadi bagian penting agar cabai jamu kering tetap memiliki kualitas sesuai kebutuhan pasar.
Potensi Harga dan Pasar
Cabai jamu yang telah dikeringkan memiliki nilai ekonomi yang menarik bagi petani. Harga di tingkat petani dapat berbeda-beda, bergantung pada kualitas, kondisi hasil panen, serta wilayah pemasaran. Permintaan terhadap cabai jamu antara lain berasal dari kebutuhan industri jamu dan produk herbal.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi petani di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, untuk menjadikan cabai jamu sebagai salah satu komoditas tambahan. Dengan lahan yang tidak terlalu luas, masyarakat dapat mencoba mengembangkan tanaman tersebut secara bertahap sesuai kemampuan dan kondisi lingkungan.
Bagi Sinto, budidaya cabai jamu menunjukkan bahwa lahan pekarangan tidak harus dibiarkan kosong. Dengan pemanfaatan yang tepat, lahan terbatas dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.
Ia berharap semakin banyak masyarakat mengenal tanaman cabai jamu dan melihat peluang budidayanya secara lebih luas. Selain memiliki nilai ekonomi, tanaman tersebut juga menjadi bagian dari kekayaan rempah Nusantara yang dapat terus dikembangkan.
Budidaya cabai jamu di pekarangan menjadi salah satu alternatif diversifikasi usaha pertanian. Dengan perawatan, pengelolaan pascapanen, dan akses pasar yang baik, tanaman rempah tersebut berpotensi memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Reporter: Triwantoro | mediapatriot.co.id
(Redaksi)



