JAKARTA โ Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) menegaskan kembali komitmen dan sikap publiknya terhadap krisis ekologi dan pelestarian lingkungan hidup. Dalam Kuliah Umum yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Teologi Publik Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta, Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan, M.S.T., menyampaikan pandangan teologis serta refleksi pengalaman praksis gereja dalam membela keadilan lingkungan.
Mengangkat topik “Sikap Publik Gereja dalam Menghadapi Isu Lingkungan Hidup”, Pdt. Victor menekankan bahwa perawatan terhadap bumi bukanlah sekadar program sampingan gereja, melainkan bagian integral dari panggilan iman Kristen. Menurutnya, tidak ada kasih sejati kepada Allah tanpa penghormatan terhadap ciptaan-Nya.
Melampaui Suara: Nyali dan Perilaku Kenabian
Dalam pemaparannya, Pdt. Victor menyoroti pentingnya gereja keluar dari ruang-ruang wacana semata. Ia menegaskan bahwa perjuangan ekologis memerlukan tiga pilar kenabian yang tak terpisahkan:
* Suara Kenabian: Keberanian menyampaikan kebenaran berbasis fakta dan data ilmiah.
* Nyali Kenabian: Keteguhan hati dan keberanian tulus untuk mengambil sikap tegas demi keadilan lingkungan tanpa tawar-menawar kompromistis.
* Perilaku Kenabian: Bekerja nyata dan mengintegrasikan gaya hidup ramah lingkungan ke dalam praksis kehidupan sehari-hari.
Konkretisasi 5R dan Transformasi Gereja
Guna merespons afluensa (penyakit kerakusan manusia) dan krisis iklim global, Eporus HKBP mengajak gereja-gereja menerapkan prinsip 5R: Repent (Pertobatan teologis dan gaya hidup), Reduce (Mengurangi konsumsi), Reuse (Menggunakan kembali), Recycle (Mendaur ulang), dan Replant (Menanam kembali).
HKBP sendiri telah melakukan langkah-langkah konkret, seperti merevisi liturgi doa pengakuan dosa yang memasukkan penyesalan atas pengrusakan alam, gerakan memilah sampah dan pengelolaan minyak jelantah di distrik-distrik, hingga menggelar Minggu Ekologi secara berkala.
Refleksi Gerakan Sosial Berbasis Data dan Doa
Membahas sejarah panjang perjuangan penutupan PT Toba Pulp Lestari (TPL) dan pelestarian kawasan Danau Toba, Pdt. Victor menceritakan dinamika gerakan ekologi yang dijalankan dengan memadukan spiritualitas doa, aksi damai tanpa kekerasan, pertimbangan data akademis, serta pelibatan berbagai elemen lintas agama dan masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa keputusan-keputusan ekologis sering kali berhadapan dengan dilema, tetapi keadilan sosial dan masa depan generasi mendatang harus menjadi prioritas utama.
Sebagai penutup, Eporus HKBP memberikan tagline reflektif yang menggugah seluruh peserta kuliah umum: “Tanggung jawab kita kepada generasi mendatang adalah mewariskan mata air, bukan air mata.”
Red Irwan Hasiholan.



