ESDM Pacu Lifting Minyak 610 Ribu BPH di 2026, EOR, Sumur Rakyat, dan Ancaman Cabut Izin Jadi Senjata Negara Perkuat Ketahanan Energi

Kamis | 22 Januari 2026 | Pukul | 10:30 | WIB

Mediapstriot.co.id | Jakarta | Indonesia | Berita Terkini — Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan energi nasional dengan memacu produksi siap jual (lifting) minyak bumi hingga mencapai target 610.000 barel per hari (bph) pada tahun 2026.


Baca Juga: Pemimpin Umum Mediapatriot.co.id Hamdanil Asykar Tegaskan Pentingnya UKW bagi Wartawan


Informasi Iklan / Advertorial Klik redaksi@mediapatriot.co.id

Target ambisius ini tidak hanya menjadi indikator kinerja sektor hulu migas, tetapi juga cerminan posisi strategis Indonesia dalam menjaga kedaulatan energi di tengah dinamika geopolitik dan volatilitas harga minyak global.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menekankan bahwa capaian lifting merupakan tolok ukur utama kekuatan energi nasional.

Menurutnya, keberhasilan memenuhi target produksi akan berdampak langsung terhadap stabilitas pasokan dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak mentah.

“Kalau kita tetap lifting. Lifting dulu itu yang paling penting. Karena itu indikator pertahanan kita ada di situ,” ujar Laode saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (22/1/2026).

Target Berjenjang, Strategi Berlapis
Laode memaparkan bahwa pada tahun 2025, pemerintah mematok target lifting minyak di level 605.000 bph.

Angka tersebut kemudian dinaikkan menjadi 610.000 bph pada 2026, sebagai bagian dari langkah progresif dan berkelanjutan untuk memperbaiki kinerja sektor hulu migas yang selama satu dekade terakhir menghadapi tantangan penurunan produksi alami (natural decline) dari sumur-sumur tua.

Untuk mengejar target tersebut, pemerintah melanjutkan berbagai strategi yang telah dirintis sejak tahun sebelumnya, termasuk optimalisasi teknologi, percepatan proyek-proyek migas strategis, serta pelibatan masyarakat dalam produksi minyak berskala kecil.

Salah satu pilar utama kebijakan tersebut adalah penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR), yakni metode peningkatan produksi minyak melalui intervensi teknologi pada sumur-sumur eksisting.

Teknologi ini dinilai mampu mengangkat kembali potensi cadangan yang sebelumnya tidak ekonomis untuk diproduksikan.

“Kemudian ada EOR juga sudah dimulai. Nah ini kita mau lakukan lagi di beberapa lokasi.

Kemudian sumur masyarakat sudah dimulai. Kita upayakan akan nambah lagi,” kata Laode.

EOR Jadi Ujung Tombak Teknologi Migas

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa EOR menjadi salah satu senjata utama pemerintah dalam menjaga dan meningkatkan produksi minyak nasional.

Dalam forum Investor Daily Summit 2025, Bahlil menyampaikan bahwa intervensi teknologi adalah keniscayaan untuk menghadapi kenyataan bahwa sebagian besar lapangan minyak Indonesia telah memasuki fase mature.

“Yang pertama sumur-sumur yang ada sekarang, kita harus intervensi dengan teknologi. Dengan EOR, salah satu di antara teknologi yang menjadi pilihan,” ujar Bahlil, Kamis (9/10/2025).

Metode EOR, seperti injeksi uap, gas, maupun bahan kimia, diyakini mampu meningkatkan perolehan minyak dari reservoir hingga beberapa persen.

Dalam konteks produksi nasional, tambahan kecil tersebut dapat berkontribusi signifikan terhadap total lifting harian.

Percepatan Lapangan POD dan Tekanan terhadap Operator
Strategi kedua yang ditempuh pemerintah adalah mempercepat produksi dari lapangan-lapangan migas yang telah mengantongi persetujuan Plan of Development (POD).

Saat ini, terdapat lebih dari 300 lapangan yang masih berada dalam berbagai tahap persetujuan dan persiapan pengembangan.

Bahlil menyoroti lambannya realisasi sejumlah proyek strategis, salah satunya Blok Masela di Laut Arafura, yang telah mendapatkan persetujuan POD namun belum kunjung berproduksi secara komersial.

Ia bahkan menyampaikan peringatan tegas kepada Inpex selaku operator proyek tersebut agar segera merealisasikan komitmen pengembangan.

“Saya kasih surat peringatan. Kalau ente nggak mau, saya cabut izinnya, peringatan pertama. Begitu surat cinta keluar, langsung tender FEED-nya. Dan target produksi kita itu di 2028–2029,” tegas Bahlil.

Pernyataan tersebut mencerminkan sikap pemerintah yang ingin memastikan bahwa setiap kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) tidak hanya memegang izin, tetapi juga menunjukkan keseriusan dalam mengelola sumber daya migas demi kepentingan nasional.

Sumur Tua dan Idle Wells Kembali Dioptimalkan

Strategi ketiga adalah pemanfaatan kembali sumur-sumur yang selama ini tidak aktif (idle wells) serta sumur tua yang masih memiliki potensi produksi.

Menurut Bahlil, Indonesia memiliki hampir 40 ribu sumur minyak, di luar sumur yang dikelola masyarakat.
“Total sumur kita itu kurang lebih sekitar 39 sampai 40 ribu sumur,” katanya.

Pemerintah menilai bahwa dengan pendekatan teknologi dan kemitraan yang tepat, sumur-sumur tersebut dapat kembali memberikan kontribusi terhadap lifting nasional.

Selain itu, pengelolaan sumur minyak oleh masyarakat juga dipandang sebagai langkah pemberdayaan ekonomi lokal, sekaligus memperluas basis produksi minyak nasional.

Ketahanan Energi di Tengah Tantangan Global

Kebijakan agresif pemerintah dalam mendorong lifting minyak tidak dapat dilepaskan dari situasi global yang sarat ketidakpastian.

Konflik geopolitik, fluktuasi harga energi, serta tekanan transisi menuju energi bersih menjadi faktor eksternal yang memengaruhi kebijakan energi nasional.

Dalam konteks tersebut, pemerintah memandang bahwa menjaga tingkat produksi minyak domestik tetap menjadi kebutuhan strategis, terutama untuk menopang sektor transportasi dan industri yang masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil.

Menjaga Keseimbangan Investasi dan Kedaulatan

Langkah tegas terhadap operator migas dan dorongan percepatan proyek juga mencerminkan upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara iklim investasi dan kedaulatan negara atas sumber daya alam.

Di satu sisi, Indonesia tetap membuka pintu bagi investor global.

Namun di sisi lain, negara menegaskan bahwa setiap kontrak harus memberikan manfaat nyata bagi kepentingan nasional.

Dengan kombinasi EOR, percepatan lapangan POD, optimalisasi sumur tua, serta pelibatan masyarakat, pemerintah optimistis target lifting 610.000 bph pada 2026 dapat tercapai.

Lebih dari sekadar angka, target tersebut menjadi simbol tekad Indonesia untuk berdiri tegak dalam menjaga ketahanan energi di tengah pusaran perubahan global.

(Redaksi | Mediapatriot.co.id)



Wartawan di lapangan dibekali Kode Sandi untuk membuka DAFTAR WARTAWAN >>>


Tentang Kami

Mediapatriot.co.id adalah portal berita online nasional yang menyajikan informasi aktual, terpercaya, dan berimbang. Kami hadir untuk memberikan akses berita cepat dan akurat.

Didirikan oleh jurnalis senior Hamdanil Asykar, Mediapatriot.co.id berkomitmen menjaga integritas jurnalistik dan menjunjung tinggi Kode Etik Dewan Pers. Dengan jaringan kontributor di berbagai daerah, kami menghadirkan berita lokal dengan cakupan nasional.

Misi kami adalah menjadi media digital yang membangun kesadaran publik melalui berita edukatif, mendalam, dan bebas hoaks.

Untuk pertanyaan, saran, atau kerja sama media, silakan hubungi kami melalui halaman Kontak.


>

Informasi Iklan / Advertorial Klik redaksi@mediapatriot.co.id