Kamis | 12 Maret 2026 | Pukul | 10:00 | WIB
Mediapatriot.co.id | Langkat | Sumatera Utara | Berita Terkini – Di tengah narasi besar tentang pertumbuhan ekonomi, pembangunan desa, dan beragam program perlindungan sosial yang digulirkan pemerintah, realitas kehidupan sebagian warga masih menyimpan kisah getir yang nyaris tak terdengar.
Di Dusun IV Tambak Rejo, Desa Tebing Tanjung Selamat, Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, sepasang lansia menjalani hari-hari mereka dalam kondisi yang jauh dari kata layak.
Pasangan tersebut adalah Edi Sumiran (75) dan istrinya Nuraini (65).
Selama kurang lebih 27 tahun, keduanya bertahan hidup di sebuah gubuk kecil beratap ilalang yang berdiri sederhana di tepi kebun.
Bangunan itu bukan hanya jauh dari standar kelayakan hunian, tetapi juga nyaris tidak memiliki fasilitas dasar untuk menunjang kehidupan yang aman dan manusiawi.
Gubuk yang mereka tempati tidak memiliki pintu maupun jendela.
Dindingnya disusun dari bahan seadanya yang sebagian telah lapuk dimakan usia.
Sementara atapnya hanya berupa tumpukan ilalang kering yang mudah bocor ketika hujan turun dan rawan diterpa angin kencang.
Kondisi tersebut menjadikan tempat tinggal itu lebih menyerupai tempat berlindung sementara daripada sebuah rumah.
Namun bagi pasangan lansia ini, gubuk sederhana itu adalah satu-satunya tempat yang mereka miliki untuk menjalani sisa kehidupan.
Pada Kamis (12/3/2026), tim Mediapatriot.co.id kembali mengunjungi kediaman pasangan lansia tersebut untuk melihat langsung kondisi kehidupan yang mereka jalani sehari-hari.

Pemandangan yang terlihat menggambarkan sebuah potret kemiskinan yang nyata dan masih berlangsung di tengah masyarakat.
Di dalam gubuk kecil itu, hampir tidak ada perabotan yang dapat menunjang kehidupan yang layak.
Lantai tanah menjadi alas tempat mereka beraktivitas, beristirahat, sekaligus menjalani hari-hari yang dipenuhi keterbatasan.
Tidak ada tempat tidur yang layak, tidak ada lemari penyimpanan, bahkan tidak ada fasilitas yang dapat memberikan rasa aman dari dinginnya malam ataupun derasnya hujan.
Bertahan dari Kebun Kecil yang Nyaris Tak Menghasilkan
Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, Edi Sumiran dan Nuraini hanya mampu membeli sekitar satu kilogram beras setiap hari.

Bagi kebanyakan orang, membeli beras dalam kemasan lima hingga sepuluh kilogram mungkin merupakan hal biasa.
Namun bagi pasangan lansia ini, jumlah tersebut terasa terlalu besar untuk dijangkau oleh kemampuan ekonomi mereka.

Keterbatasan penghasilan membuat mereka harus mengatur pola makan dengan sangat sederhana.
Dalam banyak kesempatan, lauk yang tersedia hanyalah sayuran dari kebun kecil yang mereka tanam sendiri di sekitar gubuk.
Kebun sederhana itu menjadi sumber penghidupan utama bagi pasangan lansia tersebut.
Di lahan kecil tersebut mereka menanam daun ubi serta kacang putih atau kacang tunggak, yang kemudian dijual kepada warga sekitar dalam jumlah yang sangat terbatas.
Namun hasil yang diperoleh dari kebun itu jauh dari mencukupi. Dalam waktu tiga hari, penghasilan yang mereka dapatkan terkadang hanya mencapai sekitar Rp20 ribu.
Jumlah tersebut tentu sangat kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan hidup, terlebih bagi pasangan lansia yang kondisi fisiknya tidak lagi sekuat masa muda.
Meski demikian, keduanya tetap menjalani kehidupan dengan kesabaran dan keteguhan hati.
Setiap hari mereka tetap merawat kebun kecil itu, seolah menanam harapan di tengah keterbatasan yang terus mengiringi hidup mereka.
Luput dari Program Bantuan Sosial
Yang membuat kondisi ini semakin memprihatinkan adalah kenyataan bahwa pasangan lansia tersebut belum pernah menerima bantuan dari program perlindungan sosial pemerintah.
Baik BPJS Kesehatan, bantuan sosial bagi lansia, maupun berbagai program bantuan lainnya yang seharusnya menjangkau masyarakat rentan, hingga kini belum pernah mereka rasakan.
Fakta tersebut menimbulkan pertanyaan serius tentang akurasi pendataan dan distribusi program bantuan sosial, khususnya di tingkat desa dan daerah.
Dalam berbagai kebijakan pembangunan sosial, kelompok lanjut usia dengan kondisi ekonomi lemah seharusnya menjadi prioritas utama dalam perlindungan sosial.
Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih ada warga yang luput dari jangkauan sistem pendataan dan distribusi bantuan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan tidak selalu semata-mata disebabkan oleh keterbatasan ekonomi, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh ketidaktepatan sistem birokrasi dalam menjangkau kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
Penderitaan Bertambah karena Anak Mengidap Epilepsi
Cobaan hidup yang dihadapi pasangan lansia ini tidak berhenti pada persoalan ekonomi saja.
Salah satu anak mereka, Amin, diketahui menderita penyakit epilepsi yang membutuhkan penanganan medis secara berkala.
Penyakit tersebut membuat Amin memerlukan perhatian dan perawatan kesehatan yang tidak sedikit.
Namun keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini kesulitan untuk memperoleh layanan kesehatan yang memadai.
Tanpa akses terhadap jaminan kesehatan dan tanpa kemampuan finansial yang cukup, kondisi tersebut menjadi beban tambahan yang semakin memperberat kehidupan pasangan lansia ini.
Di tengah keterbatasan tersebut, mereka hanya bisa berharap adanya perhatian dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap sesama.
Sebuah Cermin Ketimpangan Sosial
Kisah kehidupan Edi Sumiran dan Nuraini bukan sekadar cerita tentang kemiskinan individu.
Lebih dari itu, kisah ini merupakan cermin dari ketimpangan sosial yang masih terjadi di berbagai daerah.
Di satu sisi, pembangunan terus bergerak dengan berbagai proyek infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi.
Namun di sisi lain, masih ada warga yang menjalani kehidupan dalam kondisi yang jauh dari standar kesejahteraan minimum.
Realitas seperti ini menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang sejauh mana negara mampu memastikan bahwa setiap warganya memperoleh kehidupan yang layak dan bermartabat.
Menunggu Hadirnya Kepedulian
Dengan kondisi kehidupan yang jauh dari kata layak, keluarga Edi Sumiran berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat memberikan perhatian nyata terhadap nasib mereka.
Bantuan yang mereka harapkan bukan hanya sekadar bantuan pangan, tetapi juga akses terhadap layanan kesehatan serta perbaikan tempat tinggal agar mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih aman dan manusiawi.
Bagi pasangan lansia ini, sebuah rumah yang layak, akses kesehatan, serta jaminan pangan bukanlah kemewahan.
Itu adalah hak dasar yang seharusnya dapat dirasakan oleh setiap warga negara.
Kisah hidup Edi Sumiran dan Nuraini menjadi pengingat bahwa di balik statistik pembangunan dan angka-angka pertumbuhan ekonomi, masih ada manusia yang berjuang dalam kesunyian kemiskinan.
Bagi banyak pihak, kisah ini bukan sekadar cerita tentang keterbatasan hidup. Ia adalah panggilan moral bagi seluruh elemen masyarakat dan pemangku kebijakan untuk menghadirkan keadilan sosial yang lebih nyata.
Sebab pada akhirnya, nilai kemanusiaan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kemajuan pembangunannya, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu melindungi mereka yang paling lemah di antara warganya.
(Kabiro Langkat | Mediapatriot.co.id)

