Senin | 23 Maret 2026 | Pukul | 09:50 | WIB
Mediapatriot.co.id | Jakarta | Berita Terkini – Di tengah tekanan krisis global yang kian menghimpit dan memaksa banyak negara melakukan pengetatan anggaran, Presiden Prabowo Subianto justru mengambil sikap yang berani sekaligus penuh risiko politik.
Ia memastikan bahwa program makan bergizi gratis (MBG) tetap berjalan, bahkan menjadi prioritas utama dalam kebijakan nasional.
Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika kebijakan, melainkan cerminan dari pilihan moral yang tegas: antara efisiensi anggaran atau keberlangsungan masa depan generasi bangsa.
Dalam diskusi bersama jurnalis dan pengamat yang ditayangkan melalui kanal YouTube resminya pada Minggu (22/3/2026), Prabowo menegaskan bahwa pemenuhan gizi rakyat, khususnya anak-anak, tidak boleh dikorbankan oleh tekanan ekonomi global.
Dalam suasana diskusi yang serius namun sarat emosi, Prabowo mengungkap pengalaman pribadinya selama masa kampanye.
Ia mengaku menyaksikan langsung realitas pahit yang selama ini hanya menjadi angka statistik:
Anak-anak dengan kondisi stunting yang memprihatinkan.
“Saya akan bertahan sedapat mungkin. Daripada uang-uang dikorupsi, lebih baik rakyat saya bisa makan,” tegasnya.
Pernyataan itu bukan hanya kritik terhadap praktik korupsi, tetapi juga menjadi sindiran halus terhadap tata kelola anggaran yang selama ini dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kebutuhan dasar rakyat.
Dalam konteks ini, program MBG bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan simbol keberpihakan negara terhadap kelompok paling rentan.
Prabowo bahkan menggambarkan secara lugas kondisi anak-anak yang ia temui di pelosok desa.
Gambaran tersebut menjadi refleksi nyata bahwa persoalan gizi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi bangsa ini.
“Anda enggak lihat anak-anak yang stunting. Saya lihat. Umur 11 tahun, badannya seperti anak 4 tahun,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Pernyataan tersebut menyentuh dimensi kemanusiaan yang lebih dalam.
Bahwa di balik angka pertumbuhan ekonomi dan stabilitas fiskal, masih ada realitas sosial yang membutuhkan intervensi nyata dan berkelanjutan.
Lebih jauh, Prabowo menunjukkan keyakinan penuh terhadap kemampuan negara dalam menjaga keberlanjutan program tersebut.
Ia menegaskan bahwa anggaran negara masih mencukupi, asalkan dialokasikan secara tepat dan bebas dari kebocoran.
“Saya haqul yakin saya berada di jalan yang benar. Uang kita ada. Kita mampu,” ujarnya optimis.
Pernyataan ini sekaligus menjadi bentuk komitmen politik yang jarang disampaikan secara eksplisit oleh seorang kepala negara.
Bahkan, Prabowo secara terbuka menyatakan kesiapannya mempertaruhkan kepemimpinannya hingga tahun 2029 sebagai bukti keseriusannya dalam menjalankan program tersebut.
Langkah ini tentu tidak lepas dari tantangan.
Di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada harga energi dan stabilitas ekonomi dunia, banyak pihak mendorong pemerintah untuk lebih selektif dalam pengeluaran negara.
Namun, bagi Prabowo, efisiensi bukan berarti mengorbankan kebutuhan dasar rakyat.
Ia justru mengisyaratkan bahwa penghematan harus dilakukan pada sektor lain yang tidak bersentuhan langsung dengan kesejahteraan masyarakat.
Dalam perspektif kebijakan publik, keputusan ini mencerminkan pendekatan human-centered development, di mana pembangunan tidak hanya diukur dari indikator ekonomi makro, tetapi juga dari kualitas hidup manusia, terutama generasi muda sebagai aset bangsa.
Program makan bergizi gratis sendiri dipandang sebagai investasi jangka panjang.
Selain mengatasi masalah stunting, program ini juga diyakini mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia, produktivitas, serta daya saing Indonesia di masa depan.
Di sisi lain, komitmen ini juga menjadi ujian nyata bagi integritas tata kelola anggaran negara.
Transparansi, akuntabilitas, serta pengawasan yang ketat menjadi kunci agar program strategis ini tidak justru menjadi celah baru bagi praktik korupsi.
Pernyataan Prabowo tersebut akhirnya menempatkan publik pada satu pertanyaan mendasar:
Apakah bangsa ini siap menempatkan kebutuhan dasar rakyat sebagai prioritas utama di atas kepentingan lainnya?
Di tengah kompleksitas tantangan global, sikap yang diambil Presiden Prabowo menjadi pesan kuat bahwa keberanian dalam memimpin bukan hanya soal menghadapi tekanan ekonomi, tetapi juga tentang keberpihakan yang jelas kepada rakyat.
Dan dalam hal ini, pilihan itu telah ditegaskan—bahwa tidak boleh ada anak Indonesia yang tumbuh dalam kelaparan di negeri yang kaya akan sumber daya.
(RML | Redaksi | Mediapatriot.co.id)

