Semangat menjaga kelestarian alam menggema dari dua momentum berbeda yang sama-sama menyoroti pentingnya perlindungan lingkungan hidup di Indonesia.
Dalam sebuah forum internasional di Denpasar, Dedi Mulyadi menyampaikan pidato penuh makna dalam ajang WCH Royal Summit ke-8 yang digelar di UC Silver and Gold Gallery. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak seluruh peserta untuk menjaga warisan leluhur dan kekayaan alam sebagai tanggung jawab bersama lintas generasi.
“Alam bukan hanya untuk dimanfaatkan, tetapi harus dijaga dan diwariskan dalam kondisi terbaik,” menjadi pesan kuat yang disampaikan dalam pidatonya, yang mendapat perhatian dari peserta internasional.
Sementara itu, gelombang kepedulian terhadap lingkungan juga muncul dari aksi masyarakat di Tretes. Melalui gerakan Gerakan Masyarakat Peduli Hutan (GEMA DUTA), ratusan massa menggelar aksi akbar menolak alih fungsi hutan yang dinilai mengancam kelestarian alam dan kehidupan masyarakat sekitar.
Aksi yang berlangsung pada Minggu, 29 Maret 2026 ini dimulai dari pertigaan Dung Biru dan dilanjutkan dengan long march menuju Jalan Limas Tretes. Massa membawa berbagai atribut dan seruan keras, menegaskan sikap mereka: “Bersatu Lawan Perusak Hutan!”
Koordinator aksi menegaskan bahwa alih fungsi hutan demi kepentingan segelintir pihak dapat berdampak besar terhadap lingkungan, termasuk potensi bencana dan hilangnya sumber kehidupan masyarakat lokal.
Dua peristiwa ini menunjukkan satu benang merah yang kuat—kesadaran akan pentingnya menjaga alam semakin menguat, baik di forum internasional maupun di tingkat akar rumput. Seruan dari Bali hingga aksi nyata di Tretes menjadi pengingat bahwa menjaga hutan dan lingkungan adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
Red Irwan Hasiholan dan Tommy Karwur

