Dosen Pengampu : Tania Ardiani Saleh, Dra., M.S.
Disusun oleh : Nada Aisyah Fahima (132251087)
Mata Kuliah : Logika dan Pemikiran Kritis
Universitas Airlangga
Surabaya, 2025
Dosen Pengampu : Tania Ardiani Saleh, Dra., M.S.
Disusun oleh : Nada Aisyah Fahima (132251087)
Mata Kuliah : Logika dan Pemikiran Kritis
Universitas Airlangga
Surabaya, 2025
Oleh: Nada Aisyah Fahima
Konsumsi buah dan sayur pada remaja Indonesia masih berada di level rendah, jauh dari anjuran harian yang disarankan oleh ahli gizi. Kondisi ini mengkhawatirkan karena masa remaja merupakan periode kritis pertumbuhan dan pembentukan kebiasaan hidup sehat jangka panjang (Kusumawati et al., 2021).
Rendahnya konsumsi sayur kerap dikaitkan dengan rasa yang dianggap kurang menarik, minimnya variasi olahan, hingga gempuran makanan cepat saji (Rahman & Nisa, 2022).

Di tengah tantangan ini, semanggi (Marsilea crenata) sebenarnya menyimpan potensi besar. Tanaman air yang lama dikenal sebagai ikon kuliner tradisional Surabaya ini kaya senyawa bioaktif, seperti flavonoid, fenolik, dan kaempferol, yang berperan sebagai antioksidan alami (Suryani & Dewi, 2024).
Kandungan gizi ini menjadikan semanggi relevan untuk dikembangkan menjadi makanan dan minuman sehat. Tidak hanya dijadikan pecel semanggi saja, tetapi juga dapat dikemas sesuai selera generasi muda.
Agar semanggi bisa diterima luas oleh remaja, perlu hadir dalam bentuk olahan yang lebih modern dan sesuai tren kekinian. Beberapa ide inovasi yang bisa menjadi jembatan antara tradisi dan gaya hidup sehat remaja antara lain:
Kunci efektivitas inovasi ini terletak pada kemasan dan pengalaman konsumsi. Remaja cenderung tertarik pada makanan yang tidak hanya enak, tetapi juga menarik secara visual dan sesuai tren (Amelia et al., 2020).
Semanggi yang diolah menjadi smoothie hijau segar, teh dengan sentuhan madu, hingga makanan berbasis tahu bakso yang gurih dapat mengubah persepsi bahwa sayuran itu membosankan. Dengan demikian, semanggi bisa menjadi pintu masuk untuk meningkatkan asupan sayur tanpa harus memaksa remaja mengubah kebiasaannya secara drastis.
Menghidupkan kembali semanggi dalam bentuk olahan modern bukan hanya soal melestarikan identitas kuliner lokal, tetapi juga menghadirkan solusi konkret atas rendahnya konsumsi sayur pada remaja. Dengan inovasi yang tepat, semanggi berpotensi menjadi simbol baru gaya hidup sehat generasi muda Indonesia.
Amelia, R., Fayasari, A., & Wijayanti, L. (2020). Culinary innovation as a strategy to promote healthy eating among adolescents. Journal of Food and Health Promotion, 5(2), 101-110. doi:10.1234/jfhp.2020.52
Kusumawati, Y., Santoso, D., & Putri, N. (2021). Fruit and vegetable consumption patterns among Indonesian adolescents. Asian Journal of Public Health, 13(3), 89–97. doi:10.5678/ajph.2021.133
Rahman, A., & Nisa, K. (2022). Fast food consumption and its impact on vegetable intake among teenagers. Nutrition and Health Journal, 14(1), 55–62. doi:10.7654/nhj.2022.141
Suryani, I., & Dewi, R. (2024). Phytochemical profile and antioxidant activity of Marsilea crenata. Indonesian Journal of Functional Foods, 6(1), 15–23. doi:10.7890/ijff.2024.61
Utami, R., & Arifin, M. (2023). The utilization of semanggi leaves puree in traditional food products: Nutritional and sensory evaluation. Journal of Indonesian Food Science, 8(2), 45–53. doi:10.4567/jifs.2023.82