Pemilik Wakafkan untuk Penghafal Al-Qur’an
Senin | 15 Desember 2025 | Pukul | 12:00 | WIB
Mediapatriot.co id | Padang | Sumatera Barat | Berita Terkini — Di tengah puing-puing kehancuran akibat banjir bandang yang melanda kawasan bantaran Sungai Batang Kuranji, Sumatera Barat, sebuah kisah yang menggetarkan nurani dan menggugah kesadaran spiritual masyarakat muncul ke permukaan.
Sebuah rumah berwarna putih milik seorang warga bernama Josti dilaporkan selamat secara utuh dari terjangan banjir bandang, tanpa sedikit pun air memasuki bangunan, sementara puluhan rumah di sekelilingnya hancur, roboh, dan terendam lumpur serta kayu gelondongan.
Peristiwa ini terjadi saat banjir bandang datang secara tiba-tiba dengan arus deras yang menyeret apa saja yang dilaluinya.
Kesaksian warga sekitar menyebutkan bahwa air bah menghantam kawasan pemukiman dengan kekuatan luar biasa.
Namun, di antara kehancuran itu, rumah Josti berdiri kokoh, seolah menjadi “pulau keselamatan” di tengah samudra bencana.
Yang lebih mengejutkan, menurut penuturan warga dan dokumentasi video, air banjir berhenti tepat di sisi rumah tersebut.
Tidak satu pun perabot, kayu, atau barang di dalam rumah yang basah atau terendam.
Fakta ini memperkuat keyakinan masyarakat bahwa air sama sekali tidak masuk ke dalam rumah tersebut—sebuah kondisi yang secara logika sulit dijelaskan, mengingat posisi rumah berada persis di tepi sungai yang meluap hebat.
“Semua rumah di sekitar habis, rata-rata rusak parah.
Tapi rumah ini tidak kemasukan air sama sekali,” ujar salah seorang warga setempat yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut.
Bagi Josti, keselamatan rumahnya bukanlah sekadar keberuntungan semata.
Ia memaknainya sebagai tanda kebesaran Allah SWT, sebuah ayat kauniyah yang hadir di tengah musibah besar.
Dalam pandangannya, apa yang dialaminya merupakan mukjizat kecil yang menguatkan iman, sekaligus amanah yang harus dijaga dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat.
“Atas izin Allah, rumah ini selamat.
Saya merasa ini bukan milik saya sepenuhnya lagi,” ungkap Josti dengan penuh haru.
Berangkat dari rasa syukur yang mendalam, Josti mengambil keputusan yang dinilai mulia dan sarat nilai keislaman.
Ia berencana mewakafkan atau menghibahkan rumah tersebut untuk kepentingan ibadah dan sosial, baik sebagai fasilitas keagamaan, masjid, maupun tempat pembinaan bagi para penghafal Al-Qur’an. Niat tersebut disambut hangat oleh masyarakat dan tokoh setempat, yang menilai langkah itu sebagai wujud nyata dari spirit hablun minallah dan hablun minannas.
Dalam konteks Islam, wakaf merupakan amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa salah satu amalan yang tidak terputus setelah kematian adalah sedekah jariyah.
Keputusan Josti pun dipandang sebagai refleksi ketakwaan dan kesadaran bahwa harta sejatinya adalah titipan Allah SWT.
Saat ini, rumah yang menjadi satu-satunya bangunan utuh di kawasan tersebut telah difungsikan sebagai posko kebencanaan.
Rumah itu menjadi tempat berlindung sementara bagi warga terdampak, sekaligus pusat koordinasi bantuan.
Di tengah duka dan kehilangan, rumah tersebut menghadirkan rasa aman, harapan, dan keteguhan iman bagi masyarakat sekitar.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa bencana tidak selalu hanya menghadirkan kehancuran, tetapi juga membuka ruang refleksi spiritual dan solidaritas kemanusiaan.
Di balik derasnya air yang merobohkan bangunan, masih ada nilai-nilai keimanan yang berdiri tegak—sebagaimana rumah putih di tepi Batang Kuranji itu, yang kini menjelma menjadi simbol harapan dan keberkahan.
Informasi mengenai peristiwa ini bersumber dari video di kanal Okezone berjudul “Mukjizat, Rumah Ini Selamat dari Banjir Bandang dan Dihibahkan untuk Penghafal Al-Qur’an.”
(Redaksi | Mediapatriot.co.id | Ramlan)










