Sabtu | 03 Januari 2026 | Pukul | 16:50 | WIB
Mediapstriot.co.id | Jakarta | Berita Terkini — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan optimisme tinggi terhadap pencapaian target produksi siap jual (lifting) minyak nasional tahun 2025 sebesar 605 ribu barel per hari (bph).
Keyakinan ini disampaikan di tengah proses konsolidasi data akhir yang saat ini masih dilakukan bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas).
Wakil Menteri ESDM Yuliot menegaskan bahwa secara fundamental, kinerja sektor hulu migas nasional masih berada pada jalur yang sesuai dengan perencanaan pemerintah.
Meski sempat dihadapkan pada sejumlah kendala teknis, ia meyakini target lifting 2025 dapat direalisasikan.
“Untuk capaian lifting 2025, saat ini masih dalam proses konsolidasi data oleh SKK Migas.
Target kita kan 605 ribu barel per hari. Insya Allah, capaian tersebut bisa tercapai tahun ini,” ujar Yuliot saat ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (2/1/2026).
Gangguan Teknis Sempat Tekan Produksi
Yuliot tidak menampik bahwa realisasi lifting minyak nasional sebelumnya sempat mengalami tekanan akibat gangguan teknis di beberapa fasilitas produksi.
Salah satu insiden terjadi di wilayah kerja ExxonMobil Cepu, Jawa Timur, yang mengalami kebocoran sehingga berdampak pada penurunan sementara produksi.
Namun demikian, gangguan tersebut bersifat temporer dan telah ditangani secara cepat oleh operator.
“Kemarin memang ada kendala kebocoran di ExxonMobil Cepu. Tapi itu hanya dua hari dan sudah berhasil diperbaiki.
Sekarang produksinya kembali normal,” jelasnya.
Pemulihan cepat tersebut menjadi salah satu indikator bahwa sistem produksi migas nasional dinilai semakin responsif dalam menghadapi gangguan operasional, sekaligus memperkuat optimisme pemerintah terhadap capaian target tahunan.
Tiga Jurus Pemerintah Kejar Lifting Minyak
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah memaparkan secara terbuka strategi pemerintah dalam mengejar target lifting minyak 605 ribu bph.
Strategi tersebut menitikberatkan pada optimalisasi aset yang ada, percepatan proyek, serta pemanfaatan teknologi.
1. Intervensi Teknologi EOR di Sumur Eksisting
Strategi pertama adalah penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR) pada sumur-sumur minyak yang telah berproduksi.
Teknologi ini dinilai menjadi solusi strategis untuk meningkatkan perolehan minyak dari lapangan-lapangan tua yang produksinya mulai menurun.
“Sumur-sumur yang ada sekarang harus kita intervensi dengan teknologi. Salah satunya EOR.
Ini menjadi pilihan utama untuk meningkatkan produksi,” kata Bahlil dalam Investor Daily Summit 2025, Kamis (9/10/2025).
2. Percepatan Produksi Lapangan Ber-POD
Strategi kedua adalah mempercepat realisasi produksi dari lapangan-lapangan migas yang telah memperoleh persetujuan Plan of Development (POD).
Saat ini, terdapat lebih dari 300 lapangan migas yang telah atau sedang dalam proses persetujuan POD.
Bahlil menyoroti lambannya realisasi produksi pada sejumlah proyek besar, termasuk Blok Masela yang telah lama mendapatkan persetujuan namun belum juga berproduksi.
Pemerintah bahkan tidak segan mengambil langkah tegas terhadap kontraktor yang dinilai tidak menunjukkan progres signifikan.
“Kalau tidak mau jalan, saya cabut izinnya. Surat peringatan sudah saya keluarkan.
Begitu surat itu keluar, langsung tender FEED-nya. Target produksi kita 2028–2029. Mengelola energi tidak bisa hanya ingin disukai semua orang,” tegas Bahlil.
3. Optimalkan Sumur Tua dan Sumur Idle
Strategi ketiga adalah mengaktifkan kembali sumur-sumur tua serta sumur idle yang masih memiliki potensi produksi.
Data Kementerian ESDM mencatat Indonesia memiliki hampir 40 ribu sumur minyak, namun yang aktif berproduksi baru sekitar 16.700–17.000 sumur.
“Sebagian besar sumur kita ini usianya lebih tua dari saya. Banyak yang sudah ada sejak zaman Belanda, bahkan sebelum Indonesia merdeka,” ungkap Bahlil.
Selain itu, terdapat sekitar 14 ribu sumur idle, dengan 7.000–8.000 sumur di antaranya telah terverifikasi memiliki potensi untuk kembali dioptimalkan.
Fondasi Menuju Ketahanan Energi Nasional
Pemerintah menilai pencapaian target lifting minyak bukan semata soal angka produksi, melainkan bagian dari upaya strategis memperkuat ketahanan energi nasional di tengah tantangan global, fluktuasi harga minyak, serta peningkatan kebutuhan energi domestik.
Dengan kombinasi intervensi teknologi, ketegasan kebijakan, dan optimalisasi sumber daya yang selama ini terabaikan, Kementerian ESDM optimistis sektor hulu migas dapat kembali menjadi pilar penting dalam menopang perekonomian nasional.
Optimisme tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak lagi mentolerir stagnasi, baik dari sisi teknologi maupun komitmen investor, demi memastikan kedaulatan energi Indonesia terus terjaga.
(Redaksi | Mediapatriot.co.id)












Komentar