Sabtu | 03 Januari 2026 | Pukul | 07:50 | WIB
Mediapatriot.co.id | Jakarta Pusat | Berita Terkini – Tahun 2025 dicatat sebagai salah satu fase paling menentukan dalam perjalanan sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional.
Di bawah koordinasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), industri hulu migas Indonesia menunjukkan kebangkitan signifikan, baik dari sisi realisasi proyek strategis, penerapan teknologi tingkat lanjut, maupun perbaikan iklim investasi.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, pada Jumat (2/1/2026) resmi merilis tayangan bertajuk “Rekap Capaian SKK Migas Tahun 2025”.
Dalam visualisasi data yang diterima ruangenergi.com, Djoko memaparkan bahwa sepanjang 2025, sektor hulu migas tidak hanya berhasil mengejar ketertinggalan proyek-proyek besar yang sempat tertunda, tetapi juga berhasil menanamkan optimisme baru menuju target ambisius produksi nasional.
“2025 adalah tahun konsolidasi dan akselerasi. Kita tidak sekadar mengejar angka produksi, tetapi membangun fondasi jangka panjang bagi ketahanan energi nasional,” tegas Djoko dalam laporannya.
Panen Proyek Strategis Nasional
Salah satu narasi utama yang disorot dalam rekap tersebut adalah keberhasilan eksekusi proyek strategis nasional yang mendapat perhatian langsung dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sebagai bagian dari agenda besar ketahanan energi.
Momentum penting tercipta pada Mei 2025, saat Presiden meresmikan produksi perdana Lapangan Forel dan Lapangan Terubuk, dua lapangan minyak besar yang lama dinantikan kontribusinya terhadap pasokan energi nasional.
Tonggak ini berlanjut pada Juni 2025 dengan peresmian tambahan produksi dari proyek Banyu Urip Infill Clastic (BUIC) yang menyumbang sekitar 30.000 barel minyak per hari (BOPD), atau lebih dari 25 persen terhadap produksi nasional saat itu.
Tidak hanya sektor minyak, subsektor gas bumi juga menunjukkan akselerasi signifikan.
Proyek raksasa Abadi Masela secara resmi memasuki tahap Front End Engineering Design (FEED) pada September 2025, menandai keseriusan pemerintah dalam menggarap potensi gas laut dalam Indonesia.
Selain itu, dimulainya fabrikasi Tangguh UCC serta peresmian fasilitas Floating LNG (FLNG) pertama dan terbesar di Indonesia milik Genting Oil di Teluk Bintuni menjadi simbol kemajuan infrastruktur gas nasional yang semakin berdaya saing global.
WK Rokan dan Teknologi sebagai Tulang Punggung Produksi
Dalam tayangan rekapitulasi tersebut, Wilayah Kerja (WK) Rokan kembali ditegaskan sebagai tulang punggung produksi migas nasional.
Melalui kolaborasi SKK Migas dan Pertamina Hulu Rokan (PHR), pendekatan berbasis teknologi tinggi menjadi kunci menjaga keberlanjutan produksi dari lapangan migas yang tergolong mature.
Sepanjang 2025, eksplorasi Migas Non-Konvensional (MNK) terus digencarkan, disertai pengoperasian New Pematang Substation serta peresmian proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Minas Area A pada penghujung Desember.
Salah satu pencapaian teknis yang mendapat sorotan adalah keberhasilan pengeboran Sumur Ampuh, yang mencatatkan produksi 2.098 BOPD tanpa kandungan air.
Capaian ini dinilai sebagai bukti keberhasilan penerapan teknologi dan rekayasa reservoir yang presisi, sekaligus mendongkrak optimisme terhadap capaian lifting nasional ke depan.
Iklim Investasi Hulu Migas Kembali Bergairah
Capaian strategis lainnya adalah membaiknya iklim investasi hulu migas Indonesia.
Berdasarkan data S&P Global, skor investor attractiveness Indonesia meningkat menjadi 5,35, mencerminkan pulihnya kepercayaan investor global.
Realisasi investasi hulu migas pada pertengahan 2025 tercatat mencapai US$ 7,19 miliar, melonjak 28,6 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Peningkatan ini dinilai sebagai sinyal positif bahwa reformasi kebijakan, kepastian hukum, serta stabilitas nasional mulai memberikan dampak nyata.
Masuknya investasi tersebut juga diiringi dengan komitmen kuat terhadap agenda keberlanjutan.
Indonesia memposisikan diri sebagai pionir pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS/CCUS) di kawasan ASEAN, sekaligus mengamankan kesepakatan strategis pemanfaatan Gas Andaman antara Mubadala Energy dan PLN untuk menopang ketahanan energi Aceh dan Sumatera Utara.
Transformasi Digital dan Arah Masa Depan Energi Nasional
Menutup laporannya, Djoko Siswanto menegaskan bahwa SKK Migas tidak semata berfokus pada pencapaian fisik proyek, tetapi juga pada transformasi tata kelola industri.
Sepanjang 2025, SKK Migas meluncurkan Data Platform terintegrasi serta mulai menerapkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) melalui kerja sama strategis dengan perusahaan teknologi asal Abu Dhabi, AIQ.
“Digitalisasi dan AI menjadi instrumen penting untuk meningkatkan efisiensi, akurasi pengambilan keputusan, dan transparansi pengelolaan sektor hulu migas,” ujarnya.
Rangkaian capaian sepanjang 2025 tersebut kini menjadi fondasi strategis bagi Indonesia dalam mengejar target jangka menengah dan panjang, yakni produksi 1 juta barel minyak per hari dan 12 BSCFD gas, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain energi yang berdaulat, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
(Redaksi | Mediapatriot.co.id)












Komentar