Mediapatriot.co.id Jakarta 15 Januari 2026
Pada hari Rabu kemarin 14 Januari Diadakan Presconf tentang Laporan dan SengketanKonsumen selama 2025 oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Dalam sesi tersebut pihak YLKI yang diwakili oleh Ketua YLKI Niti Emiliana, dimana banyak menyoroti Sengketa dan Laporan Masyarakat Indonesia yang seringkali dirugikan oleh pihak tertentu mus: Pihak Seller atau Distrubutor tertentu, terlihat adanya kenaikan signifikan dalam masalah Laporan Dan Sengketa tersebut ujar Niti Emilia dalam sesi Presconf Media tersebut.
Ketua YLKI Niti Emiliana menyoroti lambatnya penyelesaian sengketa konsumen di Indonesia, dengan total hampir 2.000 laporan.
Ketua YLKI, Niti Emiliana. Total hampir 2.000 laporan konsumen masuk ke YLKI. Sektor keuangan, telekomunikasi, dan perumahan tetap menjadi masalah klasik yang belum tuntas. (Istimewa)
Advertisement
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menerima 1.977 pengaduan konsumen dari berbagai sektor yang terdiri dari 1.011 laporan individu dan 966 laporan kelompok. Jasa keuangan dan belanja daring mendominasi laporan, mencerminkan rapuhnya sistem perlindungan konsumen di tengah tekanan ekonomi masyarakat.
Ketua YLKI Niti Emiliana mengatakan, konsumen laki-laki paling banyak mengadu selama tahun 2025. Catatan ini dianggap cermin dari masih rapuhnya sistem perlindungan konsumen di Indonesia.
“Data pengaduan individu tahun 2025 menunjukkan bahwa konsumen laki-laki lebih banyak tercatat mengajukan pengaduan dibandingkan konsumen perempuan,” katanya dalam keterangan, Rabu (14/1/2026).
Ia menyampaikan, dibandingkan dengan data sejak 2021, jumlah pengaduan konsumen terus meningkat setiap tahunnya, yang mencapai puncaknya pada 2025. Pihaknya memandang bahwa kenaikan pengaduan pada 2025 berkaitan erat dengan meningkatnya kebutuhan hidup masyarakat, yang tidak sebanding dengan kondisi ekonomi dan kemampuan finansial rumah tangga.
Bahkan, pengaduan yang masuk seringkali bermotif hak konsumen diabaikan, pengaduan tidak ditanggapi, dan penyelesaian sengketa berjalan lambat serta tidak berkeadilan.
Tren Kenaikan pengaduan mengalami peningkatan yang cukup significant.
Sepanjang 2025, ia melanjutkan, masyarakat dihadapkan pada berbagai tekanan ekonomi, mulai dari pemutusan hubungan kerja (PHK), ketidakpastian pendapatan, hingga kenaikan biaya hidup. Dalam kondisi tersebut, banyak konsumen terdorong untuk menggunakan jasa keuangan. Seperti perbankan, pembiayaan, maupun pinjaman daring, sebagai strategi bertahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Tren pengaduan menunjukkan kenaikan signifikan selama lima tahun terakhir,” ucapnya.
Ia menguraikan, sepuluh besar pengaduan konsumen sepanjang 2025 masih didominasi oleh sektor-sektor yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar dan layanan esensial masyarakat.
Kontributor : ( Andhika )

