Banten, 24 Januari 2025 — AFAIR UI 2026 resmi membuka rangkaian acaranya melalui talkshow perdana bertajuk “Can Gen Z Ever Own A House: Membongkar Makna Rumah Bagi Generasi Muda”, yang diselenggarakan pada Sabtu Menghadirkan pakar desain, urban studies, dan penggerak kolaborasi kota, acara ini menyoroti tantangan besar yang dihadapi Generasi Z dalam memperoleh hunian layak di tengah harga properti yang terus melambung.
Talkshow menghadirkan tiga pembicara utama: Kamil Muhammad (Design Director pppooolll), Elisa Sutanudjaja (Co-Founder Rujak Center for Urban Studies), serta Alyssa Fadhilla (Managing Director Urun Daya Kota). Diskusi dipandu oleh Amira Paramitha, dosen Universitas Indonesia, yang memastikan percakapan berjalan kritis dan relevan bagi audiens muda.
Inovasi Partisipasi Publik dalam Merancang Kota — Paparan Alyssa Fadhilla
Alyssa menekankan pentingnya partisipasi warga, terutama generasi muda, dalam membentuk masa depan kota. Menurutnya, praktik kolaborasi kini tidak lagi terbatas pada forum formal, tetapi muncul melalui berbagai medium kreatif seperti festival kota, instalasi publik, hingga aktivitas komunitas.
Ia mencontohkan Jakarta Future Festival dan program Community Hub, yang membuka ruang bagi warga untuk menyuarakan kebutuhan dan keresahan mereka melalui peta partisipatif, lokakarya kreatif, hingga pertunjukan suara.
Alyssa menegaskan bahwa partisipasi publik mampu mendorong regulator untuk memperbaiki kebijakan hunian. “Generasi muda punya hak untuk hunian yang layak. Tantangannya adalah memastikan suara kita tidak diam,” ujarnya, seraya menyebut pentingnya advokasi, literasi kebijakan, serta konsistensi dalam menyuarakan hak atas tempat tinggal.
Rumah sebagai Hak Dasar—Analisis Elisa Sutanudjaja
Elisa memulai dengan menegaskan bahwa rumah adalah hak dasar manusia, bukan sekadar komoditas. Ia menolak anggapan bahwa satu-satunya solusi hunian murah adalah rumah susun, karena hal itu menyederhanakan kompleksitas kebutuhan warga.
Elisa menjelaskan prinsip “hunian layak”, yaitu:
- Keamanan dan kepastian bermukim (tidak harus selalu berbentuk sertifikat BPN).
- Keterjangkauan: pengeluaran hunian tidak lebih dari 30% pendapatan.
- Aksesibilitas: dekat dengan pekerjaan, transportasi, dan fasilitas publik.
- Kualitas bangunan: tahan cuaca, tidak bocor, sirkulasi baik.
- Kesetaraan akses bagi seluruh kelompok masyarakat.
Melalui data Rujak Center for Urban Studies, ia menyoroti jurang besar antara pendapatan rata-rata warga Jakarta dan harga median rumah, yang kini mencapai 20–24 kali pendapatan tahunan. “Ketika biaya hunian melebihi batas wajar, warga dipaksa memilih antara kebutuhan dasar lain dan tempat tinggal,” tegasnya.
Elisa juga memaparkan kisah sukses Rumah Mikro (MRQ)—sebuah proyek hunian kolektif yang berhasil diwujudkan melalui kolaborasi komunitas di tengah minimnya opsi hunian terjangkau di perkotaan.
Perspektif Generasi Z dan Realitas Pasar Properti — Pandangan Kamil Muhammad
Kamil mengajak peserta untuk melihat persoalan hunian bukan sebagai masalah generasi Z semata, tetapi sebagai dampak panjang dari kebijakan ekonomi dan urbanisasi. Ia menyoroti tingginya rasio harga rumah terhadap pendapatan yang membuat generasi muda merasa mustahil memiliki rumah.
Menurutnya, generasi Z adalah generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya dalam era digital, sehingga kebutuhan ruang, cara berkomunitas, dan bentuk hunian yang mereka cari pun berbeda. Meski begitu, tekanan sosial untuk “punya rumah” tetap diwariskan dari generasi sebelumnya.
Kamil menekankan perlunya melihat hunian sebagai ruang aman, bukan sekadar aset visual atau estetika desain. Ia mengingatkan para calon arsitek bahwa perancangan hunian harus berangkat dari pengalaman hidup, kondisi ekonomi, hingga cara komunitas merawat ruang. “Desain bukan sekadar gambar indah; ia menentukan dapat atau tidaknya seseorang hidup dengan aman,” ujarnya.
Mendorong Generasi Muda Menjadi Agen Perubahan
Penutup talkshow menegaskan bahwa krisis hunian bukan persoalan tanpa solusi. AFAIR UI 2026 berharap diskusi ini membuka ruang dialog yang lebih luas, sembari mengajak generasi muda untuk:
- memahami hak atas hunian layak,
- terlibat dalam proses perencanaan kota,
- mendorong kebijakan yang lebih adil dan berpihak pada warga.
Dengan semakin mahalnya harga rumah dan dinamika urban yang cepat, talkshow ini menjadi pengingat bahwa masa depan hunian perlu dibicarakan sejak sekarang—dengan keberanian, solidaritas, dan kreativitas dalam mencari jalan keluarnya.
(Red Irwan Hasiholan)









