Balochistan Berdarah: Tangis Anak dan Dentuman Senjata Mengoyak Pakistan, Puluhan Nyawa Melayang dalam Gelombang Kekerasan Terkoordinasi

Judul Halaman

Minggu | 1 Februari 2026 | Pukul | 09:58 | WIB

Mediapatriot.co.id | Jakarta | Indonesia | Berita Terkini – Provinsi Balochistan, wilayah terbesar sekaligus termiskin di Pakistan, kembali berubah menjadi ladang duka.

📲 Simak Berita Terpercaya Langsung di Ponselmu!

Ikuti MediaPatriot.CO.ID lewat WhatsApp Channel resmi kami:
👉 Klik di sini untuk bergabung

Dentuman senjata dan ledakan menggema di sejumlah kota dan distrik, menandai salah satu eskalasi kekerasan paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir.

Bentrokan sengit antara pasukan keamanan dan kelompok militan, Sabtu (31/1/2026) waktu setempat, dilaporkan menewaskan sedikitnya 67 militan, serta merenggut nyawa aparat dan warga sipil yang terjebak di tengah konflik.

Empat pejabat keamanan Pakistan, sebagaimana dikutip Reuters, Minggu (1/2/2026), menyebut serangan berlangsung serentak di berbagai titik strategis Balochistan bagian barat daya.

Kota-kota utama seperti Quetta dan pelabuhan Gwadar menjadi sasaran, memicu operasi besar-besaran oleh tentara, kepolisian, dan unit antiteror.

Dalam kekerasan terkoordinasi tersebut, sekitar 10 petugas kepolisian dan keamanan dilaporkan tewas, bersama 11 warga sipil.

Sedikitnya 24 aparat lainnya mengalami luka-luka. Rumah sakit di sejumlah distrik ditempatkan dalam status darurat, menyiapkan ruang perawatan bagi korban yang terus berdatangan dari lokasi bentrokan.

Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, mengutuk keras serangan tersebut.

Dalam pernyataan resminya, ia memuji pasukan keamanan yang dinilai berhasil memukul mundur kelompok militan dan menewaskan puluhan penyerang.

Namun, di balik klaim keberhasilan itu, derita warga sipil meninggalkan luka sosial yang kian dalam di wilayah yang telah lama terperangkap dalam lingkaran kekerasan.

Serangan Terpadu dan Klaim Tanggung Jawab

Kelompok separatis yang menamakan diri Tentara Pembebasan Baloch (Baloch Liberation Army/BLA) mengklaim bertanggung jawab atas serangan pada Sabtu tersebut.

Dalam pernyataan mereka, BLA menyebut operasi dilakukan secara bersamaan di seluruh provinsi dan mengklaim telah menewaskan 84 personel keamanan Pakistan. Klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Serangan itu terjadi sehari setelah militer Pakistan mengumumkan telah menewaskan 41 militan dalam operasi terpisah di wilayah yang sama.

Balochistan, yang berbatasan langsung dengan Iran dan Afghanistan, telah menjadi episentrum pemberontakan separatis selama beberapa dekade, dipicu oleh ketegangan politik, ekonomi, dan tuduhan marginalisasi terhadap masyarakat etnis Baloch.

Gwadar: Kamp Pekerja Migran Jadi Target

Salah satu episode paling memilukan terjadi di kota pelabuhan Gwadar. Kelompok militan menyerang sebuah kamp yang menampung pekerja migran.

Perwira polisi senior setempat, Atta-ur-Rehman, mengonfirmasi sedikitnya 11 orang tewas, termasuk lima pria, tiga perempuan, dan tiga anak-anak.

Jumlah ini merevisi laporan awal yang menyebutkan lima korban.

Pasukan keamanan merespons cepat dan menewaskan enam militan di lokasi.

Namun, bagi keluarga korban, operasi balasan itu tak mampu menghapus trauma mendalam akibat kehilangan orang-orang tercinta.

Penculikan dan Ketegangan di Quetta
Situasi kian genting di distrik Noshki setelah kelompok bersenjata dilaporkan menculik administrator sipil tertinggi setempat.

Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan sang pejabat mengaku berada dalam tahanan militan.

Reuters menyatakan belum dapat memverifikasi keaslian video tersebut.

Di ibu kota provinsi, Quetta, kelompok bersenjata sempat memblokir sejumlah ruas jalan, sementara sebuah ledakan terdengar di dekat area keamanan.

Aparat kemudian menyatakan situasi berhasil dikendalikan, meski operasi pembersihan masih berlangsung hingga malam hari.

Luka Lama di Tanah Balochistan

Balochistan merupakan provinsi terbesar secara geografis, namun termasuk yang paling tertinggal secara ekonomi di Pakistan.

Selama puluhan tahun, wilayah ini dilanda pemberontakan oleh kelompok militan etnis Baloch yang menuntut otonomi lebih besar dan pembagian sumber daya yang dianggap adil.

Pemerintah Pakistan menuding adanya keterlibatan aktor asing dalam kekerasan tersebut, tuduhan yang dibantah oleh India.

Di tengah klaim dan bantahan geopolitik, warga sipil kembali menjadi korban paling rentan.

Anak-anak kehilangan orang tua, keluarga kehilangan tempat tinggal, dan masyarakat hidup dalam ketakutan yang terus berulang.

Seruan untuk Perdamaian

Para analis keamanan menilai eskalasi kekerasan ini mencerminkan kompleksitas konflik di Balochistan, yang tak hanya bersifat militer, tetapi juga sosial, ekonomi, dan politik.

Tanpa pendekatan komprehensif yang melibatkan pembangunan, dialog, dan perlindungan hak sipil, kekerasan dikhawatirkan akan terus menjadi siklus tanpa akhir.

Di antara dentuman senjata dan kabut ketidakpastian, tangis korban sipil menjadi pengingat bahwa di balik setiap angka korban, terdapat nyawa dan masa depan yang terenggut. Balochistan kembali berdarah, dan dunia menanti langkah nyata untuk menghentikan tragedi kemanusiaan yang terus berulang di tanah Pakistan.

(RML | Redaksi | Mediapatriot.co.id)


Wartawan di lapangan dibekali Kode Sandi untuk membuka DAFTAR WARTAWAN Dibawah ini: DAFTAR WARTAWAN >>>





Tentang Kami

Mediapatriot.co.id adalah portal berita online nasional yang menyajikan informasi aktual, terpercaya, dan berimbang.

Didirikan oleh jurnalis senior Hamdanil Asykar, Mediapatriot.co.id berkomitmen menjaga integritas jurnalistik sesuai Kode Etik Dewan Pers.

Misi kami adalah menjadi media digital yang membangun kesadaran publik melalui berita edukatif, mendalam, dan bebas hoaks.

Untuk pertanyaan, saran, atau kerja sama media, silakan kunjungi halaman Kontak.

📲 Simak Berita Terpercaya Langsung di Ponselmu!

Ikuti MediaPatriot.CO.ID lewat WhatsApp Channel resmi kami:
👉 Klik di sini untuk bergabung