Senin | 16 Februari 2026 | Pukul | 07:20 | WIB
Mediapatriot.co.id | Rokan | Riau | Berita Terkini — Di tengah tantangan berat target produksi migas nasional, kabar menggembirakan datang dari jantung operasi hulu di Blok Rokan.
Sumur infill Libo SE#86 yang dioperasikan Pertamina Hulu Rokan mencatatkan hasil uji produksi sebesar 1.274 barel minyak per hari (BOPD), atau melonjak 13 kali lipat dari target awal yang dipatok 98 BOPD.
Laporan resmi tersebut disampaikan Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, kepada jajaran Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
“Ini kabar baik. Hasilnya 13 kali lipat dari target,” ujar Djoko dalam pernyataannya.
Namun capaian ini bukan sekadar soal angka produksi yang melampaui ekspektasi.
Di wilayah Rokan yang secara geologis dikenal memiliki tantangan water cut tinggi—yang kerap menggerus efisiensi dan keekonomian sumur—Libo SE#86 justru menunjukkan performa nyaris ideal.
Kandungan air tercatat 0 persen, sementara gas hanya 0,16 MMSCFD. Kombinasi ini menjadikan sumur tersebut sebagai anomali positif di lapangan mature yang telah lama berproduksi.
Reservoir Berkualitas Tinggi
Minyak yang dihasilkan berasal dari lapisan Top Menggala Sand pada kedalaman sekitar 5.680 kaki.
Dengan permeabilitas maksimum mencapai 2,2 Darcy, karakter batuan reservoir menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mengalirkan fluida hidrokarbon.
Dalam terminologi teknik perminyakan, angka ini merepresentasikan deliverability yang sangat menjanjikan.
Capaian tersebut tidak lahir dari keberuntungan semata.
Tim teknis menerapkan pendekatan berbasis presisi dan inovasi, antara lain melalui selective perforation pada zona yang jauh dari kontak air, instalasi Electric Submersible Pump (ESP) dengan rate rendah untuk menjaga stabilitas aliran, serta penambahan Advanced Gas Handling (AGH) dan gas separator guna memastikan efisiensi pemisahan fluida.
Strategi ini terbukti efektif:
tidak hanya mendongkrak produksi awal, tetapi juga menjaga keberlanjutan performa sumur dalam jangka panjang.
Realisme Produksi Jangka Panjang
Kendati uji awal menunjukkan angka di atas 1.200 BOPD, operator secara konservatif menargetkan produksi stabil di kisaran 500 BOPD untuk periode panjang.
Angka ini tetap lima kali lipat dari target awal—sebuah lompatan signifikan dalam konteks optimalisasi lapangan tua.
Pendekatan ini mencerminkan prinsip kehati-hatian industri hulu migas:
menjaga keseimbangan antara agresivitas produksi dan keberlanjutan reservoir.
Optimisme kian menguat karena masih terdapat empat sumur infill lain yang akan dibor di area serupa.
Apabila performanya mendekati Libo SE#86, kontribusi Lapangan Libo terhadap lifting nasional berpotensi meningkat signifikan.
Sinyal Strategis bagi Lifting Nasional
Keberhasilan ini memberi pesan strategis yang kuat.
Di tengah tuntutan peningkatan produksi nasional dan dinamika transisi energi global, optimalisasi lapangan eksisting tetap menjadi tulang punggung ketahanan energi Indonesia.
Infill drilling—yang kerap dipandang sebagai strategi tambahan di lapangan mature—ternyata masih menyimpan potensi besar bila dikombinasikan dengan desain completion yang tepat serta pemilihan artificial lift yang adaptif terhadap karakter reservoir.
Djoko menutup laporannya dengan nada optimistis yang menggema sebagai refleksi semangat sektor hulu: “Lifting naik — bisa, bisa, bisa.”
Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika, melainkan representasi dari kerja teknis yang terukur dan disiplin operasional yang konsisten.
Dalam lanskap industri yang penuh tekanan—mulai dari volatilitas harga minyak, tantangan teknis lapangan tua, hingga target ambisius produksi nasional—Libo SE#86 menjadi bukti bahwa inovasi dan ketepatan strategi mampu menghadirkan kejutan produktif.
Lebih dari itu, keberhasilan ini menghadirkan harapan. Bahwa dari kedalaman 5.680 kaki di perut bumi Rokan, optimisme bagi kedaulatan energi nasional kembali menyembur ke permukaan.
(RML | Redaksi | Mediapatriot.co.id)




















