Ketika Bumi Menjerit: Dari Sumatera hingga Afrika, Al-Qur’an Sudah Mengingatkan 14 Abad Lalu tentang Krisis yang Kini Nyata

Judul Halaman

Mingu | 22 Februari 2026 | Pukul | 10:00 | WIB

Mediapatriot.co.id |Langkat | Sumatera Utara | Berita  Terkini — Tahun 2025 menjadi penanda getir bagi peradaban modern. Rentetan bencana ekologis menghantam berbagai belahan dunia tanpa jeda.

📲 Simak Berita Terpercaya Langsung di Ponselmu!

Ikuti MediaPatriot.CO.ID lewat WhatsApp Channel resmi kami:
👉 Klik di sini untuk bergabung

Banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Sumatera, kebakaran hutan meluas di Amerika Serikat, sementara kekeringan ekstrem melumpuhkan sebagian kawasan di Afrika.

Dunia seakan dipaksa menyaksikan kenyataan pahit: bumi yang selama ini dieksploitasi tanpa kendali kini memberikan responsnya.

Di Indonesia, banjir bandang yang meluluhlantakkan kawasan permukiman bukan lagi sekadar fenomena musiman.

Intensitas hujan yang tinggi berpadu dengan degradasi hutan dan alih fungsi lahan memperparah dampak.

Infrastruktur rusak, aktivitas ekonomi lumpuh, dan ribuan warga terdampak secara langsung.

Di sisi lain, kebakaran hutan yang meluas di sejumlah negara bagian di Amerika Serikat menimbulkan kerugian miliaran dolar serta memperburuk kualitas udara lintas wilayah.

Sementara itu, kekeringan panjang di beberapa negara Afrika menyebabkan krisis pangan dan memperbesar angka kerentanan sosial.

Krisis yang Menyentuh Sendi Ekonomi Global

Krisis lingkungan bukan lagi sekadar isu ekologis, melainkan telah menjelma menjadi persoalan ekonomi dan geopolitik.

Perubahan iklim meningkatkan biaya produksi sektor pertanian dan energi. Gangguan rantai pasok akibat bencana alam memicu inflasi.

Perusahaan-perusahaan global kini menghadapi risiko finansial yang semakin kompleks akibat ketidakpastian iklim.

Sebagai respons, dunia bisnis dan lembaga keuangan internasional mengarusutamakan standar keberlanjutan seperti ESG (Environmental, Social, dan Governance).

Konsep ini menempatkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola sebagai parameter utama dalam pengambilan keputusan investasi.

Namun, di tengah diskursus modern tentang ESG dan transisi energi, sesungguhnya nilai-nilai keberlanjutan bukanlah gagasan baru dalam peradaban manusia.

Peringatan yang Telah Lama Disampaikan

Jauh sebelum dunia mengenal istilah “sustainability” atau “climate crisis”, Al-Qur’an telah menegaskan prinsip keseimbangan (mizan) dalam penciptaan alam semesta.

Dalam Surah Ar-Rum ayat 41 disebutkan:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ayat ini menegaskan relasi sebab-akibat antara tindakan manusia dan kerusakan lingkungan.

Krisis ekologis bukan sekadar fenomena alamiah, melainkan konsekuensi dari eksploitasi yang melampaui batas.

Dalam Surah Al-A’raf ayat 56 juga ditegaskan:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya…”
Konsep ini menempatkan manusia sebagai khalifah—pemegang amanah untuk menjaga bumi, bukan merusaknya.

Amanah tersebut bersifat moral sekaligus spiritual.

Amanah Peradaban dan Tanggung Jawab Kolektif

Dalam perspektif teologis, bumi diciptakan dalam keseimbangan. Ketika keseimbangan itu diganggu—melalui deforestasi, polusi, eksploitasi tambang yang berlebihan, serta pembakaran bahan bakar fosil tanpa kendali—maka dampaknya tidak hanya bersifat lokal, tetapi global.

Krisis yang terjadi hari ini menjadi refleksi atas model pembangunan yang lebih mengedepankan pertumbuhan ekonomi jangka pendek dibanding keberlanjutan jangka panjang.

Paradigma “ekstraktif” yang menempatkan alam sebagai objek eksploitasi semata terbukti rapuh menghadapi realitas perubahan iklim.

Para pakar lingkungan menegaskan bahwa tanpa perubahan perilaku kolektif, frekuensi dan intensitas bencana akan semakin meningkat. Adaptasi dan mitigasi iklim menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi pilihan.

Momentum Refleksi Global

Bencana demi bencana yang terjadi pada 2025 seharusnya menjadi momentum refleksi mendalam. Krisis ini bukan hanya persoalan teknologi atau kebijakan, tetapi juga persoalan etika dan kesadaran.

Dunia modern boleh saja merumuskan standar ESG, merancang transisi energi, atau memperkuat regulasi lingkungan. Namun tanpa kesadaran moral bahwa bumi adalah amanah, semua kebijakan akan kehilangan ruhnya.

Al-Qur’an, lebih dari 14 abad silam, telah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut adalah akibat ulah manusia.

Peringatan itu kini terasa semakin relevan.

Ketika banjir melanda, ketika api membakar hutan, dan ketika tanah retak karena kekeringan, barangkali yang sedang terjadi bukan sekadar krisis iklim—melainkan krisis kesadaran.

Bumi sedang berbicara.

Pertanyaannya, apakah manusia masih mau mendengar?

(Kabiro Langkat| Redaksi | Mediapatriot.co.id)


Wartawan di lapangan dibekali Kode Sandi untuk membuka DAFTAR WARTAWAN Dibawah ini: DAFTAR WARTAWAN >>>





Tentang Kami

Mediapatriot.co.id adalah portal berita online nasional yang menyajikan informasi aktual, terpercaya, dan berimbang.

Didirikan oleh jurnalis senior Hamdanil Asykar, Mediapatriot.co.id berkomitmen menjaga integritas jurnalistik sesuai Kode Etik Dewan Pers.

Misi kami adalah menjadi media digital yang membangun kesadaran publik melalui berita edukatif, mendalam, dan bebas hoaks.

Untuk pertanyaan, saran, atau kerja sama media, silakan kunjungi halaman Kontak.

📲 Simak Berita Terpercaya Langsung di Ponselmu!

Ikuti MediaPatriot.CO.ID lewat WhatsApp Channel resmi kami:
👉 Klik di sini untuk bergabung