*Jakarta* – Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) DKI Jakarta menggelar *Forum Group Discussion* (FGD) bertajuk *Strategi Kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Sinergi Pemuda dalam Pengelolaan Sampah Kota yang Berkelanjutan*, Jumat (24/4/2026), di Halaman Kantor DPD Partai Golkar DKI Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat.
Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk membahas persoalan pengelolaan sampah di Ibu Kota sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam menciptakan solusi berkelanjutan. Hadir sebagai narasumber Ketua Pansus Pengelolaan Sampah DKI Jakarta Judistira Hermawan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Dudi Gardesi Asikin, praktisi lingkungan Gun Gun Saptari Hidayat, serta Founder Waste4Change Mohamad Bijaksana Junerosano.
FGD dipandu oleh Edith Pingkan selaku Wakil Ketua AMPG DKI Jakarta Bidang Energi dan Lingkungan.
Dalam paparannya, Kepala DLH DKI Jakarta *Dudi Gardesi Asikin* menegaskan bahwa persoalan sampah Jakarta, khususnya di TPST Bantargebang, tidak hanya menyangkut tata kelola limbah, tetapi juga persoalan kemanusiaan, keselamatan kerja, dan sanitasi.
Ia mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar *4.000 pemulung* yang terdata di kawasan Bantargebang dan telah mendapatkan perlindungan BPJS. Namun menurutnya, kondisi di lapangan masih jauh dari ideal.
“Yang saya pikirkan sekarang bukan hanya soal teknis sampah, tapi bagaimana memanusiakan mereka. Mereka bekerja di lingkungan berisiko tinggi, sementara fasilitas dasar seperti sanitasi, toilet, hingga tempat istirahat yang layak masih sangat minim,” ujar Dudi.
Dudi menjelaskan, salah satu fokus pembenahan adalah sistem antrean truk sampah yang selama ini menyebabkan waktu tunggu (*dwelling time*) mencapai empat jam. Dalam waktu tersebut, banyak sopir maupun pekerja yang bertahan di dalam kabin kendaraan tanpa fasilitas memadai.
Karena itu, Pemprov DKI melalui DLH akan menyiapkan sejumlah fasilitas baru seperti *toilet umum, hanggar tempat tunggu, kantin, serta penataan area pengepul* dengan sistem identifikasi yang lebih tertib.
“Selama empat jam mereka menunggu di dalam kabin truk. Ini harus dibenahi. Saya ingin ada toilet umum, tempat tunggu yang layak, kantin, dan sistem yang lebih manusiawi,” katanya.
Selain itu, Dudi juga menyoroti ancaman bencana lingkungan di Bantargebang, mulai dari longsor saat musim hujan, kebakaran saat musim kemarau panjang, hingga potensi ledakan gas metana akibat timbunan sampah organik dan anorganik yang masih bercampur.
Ia menegaskan bahwa ke depan larangan merokok di area tertentu akan diperketat demi mencegah risiko kebakaran.
“Kalau musim hujan ada risiko longsor, kalau kemarau panjang ancamannya kebakaran. Gas metana sangat berbahaya. Karena itu tata kelola harus segera dirapikan,” tegasnya.
Dudi menargetkan pembenahan awal tata kelola Bantargebang dapat dilakukan hingga *1 Agustus 2026*, termasuk merespons sanksi administrasi dari Kementerian Lingkungan Hidup yang kini meningkat menjadi perhatian serius terkait aspek pidana.
Tak hanya fokus pada hilir, DLH DKI juga menyiapkan langkah pengurangan sampah dari sumbernya. Salah satunya dengan mendorong penggunaan alat pengolah sampah organik rumah tangga, serta program pembagian ember pemilahan sampah kepada warga di kawasan permukiman.
“Nanti sampah organik rumah tangga dikumpulkan di titik tertentu, diambil setiap hari, lalu diolah menjadi bubur organik untuk kebutuhan lain. Jadi pengurangan sampah dimulai dari rumah,” jelasnya.
Melalui forum ini, AMPG DKI Jakarta berharap lahir gagasan dan rekomendasi nyata yang mampu memperkuat kebijakan pengelolaan sampah di Jakarta, sekaligus melibatkan generasi muda sebagai motor perubahan menuju kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Red Irwan Hasiholan

