mediapatriot.co.id | Kota Jayapura | Berita Terkini | – Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Pendidikan terus memperkuat upaya pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah sebagai bagian penting dari identitas budaya masyarakat Port Numbay. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Kota Jayapura, Grace Lina Yoku, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa terdapat sedikitnya delapan bahasa ibu atau bahasa daerah yang masih digunakan oleh masyarakat di berbagai kampung adat di wilayah Port Numbay. Bahasa-bahasa tersebut menjadi bagian penting dari identitas budaya yang perlu terus dilestarikan melalui dunia pendidikan.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahasa daerah tidak mengalami kepunahan. Oleh karena itu, Dinas Pendidikan Kota Jayapura terus menjalin kerja sama dengan Balai Bahasa dalam berbagai program pelestarian bahasa daerah yang menyasar peserta didik tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Sebagai pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan, kami mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melestarikan bahasa ibu atau bahasa daerah. Karena itu kami terus bekerja sama dengan Balai Bahasa guna memastikan bahasa-bahasa daerah ini tidak terancam punah di tengah perkembangan zaman,” ujar Grace Lina Yoku kepada mediapatriot.co.id, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, salah satu program yang terus diperkuat adalah kegiatan Sekolah Kampung yang mengintegrasikan pembelajaran seni budaya dan bahasa daerah, khususnya Bahasa Tobati. Program ini menjadi ruang edukatif bagi peserta didik untuk mengenal, memahami, dan mempraktikkan bahasa daerah secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mengingatkan generasi muda tentang pentingnya menjaga bahasa daerah yang menjadi bagian dari jati diri masyarakat Port Numbay,” tambahnya.
Grace juga mengungkapkan bahwa antusiasme peserta didik terhadap pembelajaran bahasa daerah menunjukkan perkembangan yang positif. Dalam berbagai kegiatan pelestarian bahasa ibu, banyak siswa yang mampu membaca dan mengucapkan Bahasa Tobati dengan baik. Menariknya, sebagian peserta yang menunjukkan kemampuan tersebut justru berasal dari kalangan non-Papua atau pendatang.
“Kami terus memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan kampung bahasa ibu. Banyak peserta didik yang sudah sangat mahir membaca dan mengucapkan Bahasa Tobati. Bahkan sebagian peserta yang aktif dan terampil berasal dari siswa non-Papua atau pendatang. Hal ini menjadi motivasi bagi kita semua untuk semakin mencintai dan mempelajari bahasa daerah,” tuturnya.
Berbagai kegiatan edukatif terus digelar untuk menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa daerah, di antaranya lomba pidato Bahasa Tobati, lomba mendongeng, lomba membaca dan menulis cerpen berbahasa Tobati, hingga lomba menyanyi tunggal menggunakan Bahasa Tobati. Kegiatan tersebut dirancang untuk membuat pembelajaran bahasa daerah lebih menarik dan mudah dipahami oleh peserta didik.
Melalui program tersebut, Dinas Pendidikan Kota Jayapura berharap peserta didik tidak hanya mengenal bahasa daerah sebagai mata pelajaran, tetapi juga memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, bahasa daerah dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya secara berkelanjutan.
Grace menegaskan bahwa Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa utama dan pemersatu bangsa. Namun, bahasa ibu atau bahasa daerah juga memiliki peran penting dalam memperkuat identitas budaya yang harus dijaga bersama di tengah kemajuan teknologi dan pengaruh budaya luar.
“Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa pemersatu bangsa, tetapi bahasa ibu juga harus terus dilestarikan. Ini bagian dari identitas dan warisan budaya yang harus dijaga oleh generasi muda,” tegasnya.
Pemerintah Kota Jayapura optimistis bahwa upaya pelestarian bahasa daerah melalui dunia pendidikan akan menjadi benteng budaya yang kuat dalam menjaga eksistensi warisan leluhur masyarakat Port Numbay di masa mendatang.(John Karma)

