Arie Widowati
Alhamdulillah, akhirnya buku itu sampai juga di tangan saya.
Buku yang bukan sekadar kumpulan cerita pendek, tetapi juga menjadi saksi perjalanan ribuan penulis dari berbagai penjuru Indonesia yang memiliki semangat yang sama, menyuarakan nilai-nilai antikorupsi melalui karya sastra.
Saat pertama kali melihat nama saya tercantum sebagai salah satu penulis yang lolos kurasi, rasanya campur aduk. Bahagia, haru, sekaligus tidak percaya. Cerpen saya yang berjudul “Kejujuran yang Tak Pernah Dijual” ternyata berhasil menjadi bagian dari antologi yang begitu istimewa ini.
Awalnya saya tidak pernah membayangkan bahwa sebuah lomba menulis cerpen akan menghasilkan sesuatu yang begitu besar. Saya hanya ingin menulis sebuah cerita sederhana tentang kejujuran, sebuah nilai yang sering terdengar biasa tetapi sesungguhnya sangat mahal harganya. Saya ingin mengingatkan diri sendiri dan para pembaca bahwa tidak semua hal bisa dibeli, termasuk harga diri dan integritas.
Ketika proses penulisan selesai dan naskah dikirimkan, saya tahu bahwa persaingannya tidak mudah. Ribuan penulis dari seluruh Indonesia ikut berpartisipasi. Masing-masing membawa gagasan, pengalaman, dan sudut pandang yang berbeda tentang antikorupsi.
Karena itulah, saat mengetahui bahwa cerpen saya termasuk dalam karya yang terpilih, saya merasa sangat bersyukur. Bukan hanya karena berhasil lolos kurasi, tetapi karena mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari gerakan literasi yang memiliki tujuan mulia.
Lomba Penulisan Cerpen Antikorupsi yang digagas oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Yayasan Rumah Indonesia Menulis dan SIP Publishing ternyata mencatatkan pencapaian yang luar biasa.
Sebanyak 1.581 cerpen berhasil dihimpun dari para penulis di seluruh Indonesia. Setelah melalui proses seleksi, 1.448 karya dinyatakan layak terbit dan kemudian dibukukan menjadi 40 jilid Antologi Cerpen Antikorupsi.
Puncaknya, antologi tersebut berhasil meraih penghargaan Rekor MURI untuk kategori penulisan cerpen antikorupsi terbanyak.
Mendengar kabar itu, saya kembali terdiam beberapa saat.
Betapa tidak. Di antara ribuan karya yang masuk, cerpen yang saya tulis kini menjadi bagian dari sebuah karya kolektif yang tercatat dalam sejarah Museum Rekor Indonesia.
Sebuah pencapaian yang mungkin tidak pernah saya bayangkan ketika pertama kali mengetik paragraf demi paragraf cerita tersebut.
Bagi saya, penghargaan ini bukan sekadar soal rekor atau angka. Lebih dari itu, ini adalah bukti bahwa literasi masih memiliki kekuatan yang besar untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan. Melalui cerita pendek, nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, keberanian, dan integritas dapat ditanamkan dengan cara yang lebih dekat kepada masyarakat.
Saya percaya bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari hal-hal kecil. Dari sebuah cerita yang dibaca seseorang. Dari sebuah pesan yang menyentuh hati pembacanya. Atau dari sebuah keputusan sederhana untuk tetap jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Karena itulah saya merasa bangga bisa menjadi bagian dari Antologi Cerpen Antikorupsi yang berhasil meraih Rekor MURI. Sebuah pencapaian yang akan selalu saya kenang sebagai bagian dari perjalanan literasi sekaligus perjalanan menjaga nilai-nilai integritas.
Allah Swt. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Cerpen yang saya tulis berjudul “Kejujuran yang Tak Pernah Dijual” lahir dari keyakinan bahwa kejujuran bukanlah sesuatu yang bisa ditukar dengan jabatan, harta, ataupun keuntungan sesaat. Nilainya jauh lebih tinggi daripada semua itu.
Seperti sebuah kutipan yang sangat saya sukai:
“Integritas adalah melakukan hal yang benar, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.” (C.S. Lewis)
Terima kasih kepada KPK, Yayasan Rumah Indonesia Menulis, SIP Publishing, para kurator, serta seluruh penulis yang telah menjadi bagian dari gerakan literasi antikorupsi ini. Semoga setiap cerita yang tertulis mampu menyalakan kesadaran, menguatkan karakter, dan menginspirasi lahirnya generasi yang jujur serta berintegritas.
Kejujuran memang tidak pernah untuk dijual, tetapi selalu layak untuk diperjuangkan.

