Dr. Opik Meluncurkan Buku Medstud’s Traveler Berisi Tips & Trik Edukatif Untuk Mahasiswa Indonesia

MEDIAPATRIOT.CO.ID – Jakarta, Desember 2022. Priyo Group bersama Gramedia Central Park mengadakan launching buku ” Medstud’s Traveler” oleh Taufik Supriyana Trisaputra (penulis buku) di Gramedia Central Park Jakarta pada Senin, 5 Desember 2022.

Dr. Taufik Supriyana Trisaputra sebagai penulis buku memberikan keterangan pers kepada media elektronik bahwa; “
Jadi buku Medstud’s Traveler ini sebenarnya berbeda dengan buku traveller-traveller lainnya yang sudah cukup banyak. Saya mencoba membagi buku ini menjadi satu buku pergerakan yang didalamnya ini ada tips & trik untuk menjadi mahasiswa penggerak seperti apa. Lalu di situ di dalamnya juga memberikan tips & trik untuk menjadi mahasiswa yang bisa haus akan ranah internasional. Jadi ada cara-cara biar kisi-kisi agar bisa aktif di acara internasional itu bagaimana caranya bahkan seperti hal-hal detail kayak mengurus visa dan mengurus paspor ada di dalam buku ini.

Selain itu buku ini juga membahas mengenai keindahan-keindahan negara yang saya kunjungi ada totalnya sekitar 16 negara yang di tiap negara itu selain dari nilai historisnya, ada yang melatarbelakangi historis negara tersebut apa yang saya temui itu saya kupas dan yang cukup menarik negara-negara ini bukan yang seutuhnya negara-negara tujuan travelling pada umumnya. Seperti contoh negara Slovenia yang mungkin banyak orang yang tidak tahu, saya mengambil dari sudut itu. Harapan saya karena saya dulu menjadi aktivis dan mahasiswa, saya berharap dari buku ini bisa membuat mahasiswa-mahasiswa itu makin termotivasi untuk bisa bergerak baik itu di ranah organisasi, ranah akademisi, dan seluruh ranah yang mungkin masih bisa banyak sekali yang harus digerakkan.

Karena sejatinya di tiap perjalanan pergerakan itu pasti akan dapat manfaat dan hikmah dibalik itu. Untungnya saya punya mentor jadi awalnya sebelum punya mentor itu saat menulis saya masih agak liar dalam cara penulisannya, tapi setelah tahu disitu saya coba gali lebih dalam lagi dan ternyata banyak sekali yang support saya baik itu dari segi Dekanat maupun dari segi orang-orang yang pernah menulis yaitu ada Dr. Nuri dan Prof Ali Ghufron. Tapi saat awal itu memang sangat susah untuk membuat pertama niat ingin menulis. Saat sudah ada tulisannya bahwa tulisan yang baik seperti apa dan yang kurang baik apa itu saya konsul ke beberapa orang yang udah pernah menulis. Karena menulis traveller itu berbeda dengan cara menulis lainnya.

Saya mahasiswa kedokteran dulu baku kata-katanya. Di buku ini harus dikemas dengan kata-kata yang menarik, kata-kata yang kira-kira penafsirannya itu bisa membuat orang ini seolah ada di sana. Pembaca butuh cerita yang lebih menarik. Saya mulai menulis 2019 bukunya sudah mulai selesai itu dalam waktu 1 tahun 2 bulan. Tetapi karena pandemi dan waktu itu kami pertimbangkan satu dan lain hal baru hari ini kami launching. Bukunya ada di Gramedia itu sejak bulan September sudah ada dan kami jadwalkan launching hari ini. Dulu waktu Bukunya sudah jadi kita masih coba pasar dulu Itu ada kami dari pihak penerbit itu juga menawarkan dari media online. Karena sebenarnya aku ini kalau dilihat proyeksinya sangat besar dan sangat luas bahkan kalau dari sekian banyak buku traveller dia hanya menjelaskan keindahan saat bertravelling. Buku ini edukatif banget, jadi edukatif karena disini mengajarkan banyak cara agar bisa mencapai misalkan mau jadi mahasiswa kedokteran yang cukup ahli di bidang tertentu sehingga harus mengikuti acara di luar negeri. Ada caranya dan toolsnya, kalau buku traveller yang lain mungkin menjabarkannya keindahan travelling hanya sebatas itu. Jadi dulu bahkan saat saya menggagas ada temen yang bilang ini harusnya bisa di filmkan.

Harapan saya semoga ada beberapa dari production house ataupun pihak yang lain lah yang bisa melirik buku ini bukan hanya sebatas travelling, tapi juga bisa ada sisi edukatifnya. Sekarang generasi yang mulai aktif ini generasi Z generasi yang saat ini generasi yang kayak tadi saya jabarkan yaitu generasi yang realistis. Tetapi jangan mengesampingkan optimisme kita bahwa Gen Optimis ini perlu terlahir untuk bisa mencapai tujuan dari suatu bangsa atau bahkan tujuan dari kita masing-masing. Jika terlalu realistis menyebabkan tidak banyak pergerakan jadi dia tidak dinamis. Harapannya dengan buku travelling ini artinya bergerak-bergerak dan artinya dinamis ini bisa menjadi langkah generasi Z khususnya. Dia bisa aktif bergerak untuk kemajuan Indonesia ini bisa punya peranan sekitar, ada sumbangsihnya, dan siapa kontraktornya sudah terhitung.

Buku ini itu spesialnya seperti yang saya bilang ada sisi edukatifnya karena di dalam buku ini juga memberi tips & trik yang ternyata saat jadi mahasiswa kita bisa traveling ke banyak negara itu tidak harus dari duit sendiri bahkan bisa mencari sendiri nanti itu ada dijabarkan di buku ini. Buku ini membahas seperti cara dapat beasiswa, lalu biar kita berangkat ke luar negeri itu tercover dan dari institusi seperti apa itu ada penjelasannya. Pada umumnya kalau orang dengar kata-kata mahasiswa kedokteran method medical student yang ada di benaknya waktunya habis sudah tidak ada waktu untuk main-main atau jalan-jalan. Sehingga itu bagi orang-orang kok bisa-bisanya sehingga buku itu dengan pengalaman saya pribadi bukan hanya sebatas saya travellingnya saja. Bahkan waktu itu saya sedang berat-beratnya punya amanah karena saya jadi mahasiswa kedokteran dan Presiden Mahasiswa Kedokteran Indonesia dari SMKI itu beban yang sangat berat tapi saya buat cara buku ini menarik. Ternyata kalau kita ada kemauan pasti ada jalan dan jalannya untuk bisa menjadi traveler bahwa kita seorang mahasiswa – mahasiswa kedokteran itu ada yang bisa dan dari 16 negara itu saya dari dana yang bukan dari dana pribadi. Strukturnya pergerakan – pergerakan kalau di Asia Tenggara yang dekat tetangga yaitu Malaysia, Singapore, Thailand habis itu Korea Selatan, Hongkong, Taiwan habis itu Eropa, Turki Lalu ada lagi Italia habis itu Perancis, Jerman, Belanda habis itu Kroasia, Inggris lalu Slovenia dan sekitar Eropa sisanya.

Jadi kebetulan Saya sedang S2 dan ada program dan rencana saya berangkat ke Amerika yang merupakan bagian dari presiden periode 2018-2019 itu sebagai Presiden Mahasiswa Kedokteran itu terpilih lalu 2019-2020 saya selaku presiden mahasiswanya presiden SMKI. Lalu 2020-2021 saya jadi Majelis Pertimbangan Agung. Jadi kalau ini jadi dewan penasehat saya kebetulan juga aktif di bidang itu pertama kali event saya ikut kegiatan internasional karena perlombaan HUT acaranya yang di Malaysia. Total Eksemplar Buku yang tersebar di seluruh Indonesia itu sekitar 1500 bagian penerbit. Rencana kedepan karena tujuan saya buat buku ini untuk pergerakan sosial dan bukan ujug-ujug karena ingin mendapat keuntungan komersil. Bahkan kalau memang bisa pemasukan dengan cara itu rencananya kita akan ke Perpustakaan Nasional.

Harapan kedepannya agar milenial bisa kembali baca buku. Cobaan dan tantangannya sekarang era digital semua menganggap bahwa digital menjadi dimanjakan yang biasanya baca sekarang nonton. Sehingga harapan saya kepada generasi milenial, generasi Z, bahkan generasi baby boomers setelahnya ya, semoga mereka tidak lupa bawa tetap selalu harus membaca karena dalam agama pun mengajarkan bahwa yang pertama adalah Iqra membaca. Level berikutnya setelah kita senang membaca, kita bisa menulis. Membaca itu sekarang mungkin oke ada digital harus nonton tapi membacanya membaca apa, membaca dari tontonan dan ambil hikmah intisarinya apa kalau yang baik diambil yang jelek untuk pembelajaran agar kita tidak terjerumus di hal itu”, tutupnya.

(red Irwan)