Kota Bekasi | mediapatriot.co.id – Dampak konflik global antara Iran dan Amerika Serikat mulai dirasakan hingga ke sektor ekonomi lokal. Salah satu imbas yang paling terasa adalah melonjaknya harga bahan baku plastik yang kini membebani para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di berbagai daerah.
Kenaikan harga plastik terjadi akibat terganggunya pasokan bahan baku impor, khususnya jenis plastik berbahan PE dan PP. Kondisi ini memicu lonjakan harga yang cukup signifikan di pasar domestik, bahkan terjadi secara bertahap setiap pekannya.
Mengutip laporan IDN Times, Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Reynaldi Sarijowan, menyebutkan bahwa kenaikan harga plastik berkisar antara Rp500 hingga Rp700 per pekan. Bahkan dalam beberapa kasus, lonjakan harga mencapai 50 persen hingga 100 persen sejak awal periode kenaikan.
Dampak ini dirasakan langsung oleh pelaku UMKM, salah satunya Arsyad Kamal, pengusaha kuliner ayam geprek di Kecamatan Batangkuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Ia mengaku kenaikan harga plastik kali ini merupakan yang paling tinggi dibandingkan sebelumnya.
“Harga plastik sudah naik sejak sebelum Natal dan Tahun Baru, tapi bertahap. Dan sekarang ini yang paling tinggi,” ungkap Kamal saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Jumat (17/4/2026).
Kamal menjelaskan, sebagai pelaku usaha kuliner yang sangat bergantung pada kemasan plastik sekali pakai, kenaikan harga tersebut sangat berdampak pada biaya operasional usahanya.
Ia merinci kenaikan harga yang terjadi di tingkat grosir. Untuk satu bal styrofoam yang sebelumnya seharga Rp22.000 kini menjadi Rp31.000. Plastik asoi yang awalnya Rp25.000 naik menjadi Rp38.000, sementara plastik klip dari Rp35.000 melonjak menjadi Rp50.000 per bal.
Kondisi ini memaksa pelaku usaha seperti dirinya untuk mengambil langkah strategis agar tetap bertahan. Salah satunya dengan menyesuaikan harga jual produk, meski dilakukan dengan penuh pertimbangan.
“Dengan berat hati kami menaikkan harga demi menjaga kualitas. Alhamdulillah pelanggan mengerti dengan kondisi saat ini,” ujarnya.
Namun di balik itu, Kamal juga menyoroti adanya kemungkinan praktik yang tidak wajar di balik kenaikan harga bahan pokok dan bahan baku. Ia berharap pemerintah dapat turun tangan untuk menelusuri penyebab utama lonjakan tersebut.
“Harus diusut siapa yang bermain di balik ini. Banyak kebutuhan pokok seperti beras, minyak, dan tepung juga ikut naik. Jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan situasi ini, karena yang paling terdampak adalah UMKM,” tegasnya.
Situasi ini menjadi tantangan serius bagi pelaku UMKM yang harus berjuang di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat. Dukungan serta kebijakan yang tepat dari pemerintah diharapkan mampu menjaga stabilitas harga dan keberlangsungan usaha kecil di Indonesia.
Sumber: IDN Times & Wawancara Narasumber

