Kota Bekasi | mediapatriot.co.id – Sosok dr. Ferdinand F Tumewu semakin dikenal sebagai dokter spesialis mata yang berdedikasi tinggi dalam mendukung program pemerintah, khususnya di bidang kesehatan mata. Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, ia terus berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, khususnya di wilayah Jakarta dan Jawa Barat.
Selama pengabdiannya, dr. Ferdinand telah menangani berbagai kasus gangguan penglihatan, di antaranya katarak, glaukoma, pterygium, strabismus, ptosis, retinopati diabetik, hingga retinopati hipertensi. Dari berbagai penanganan tersebut, hasil pengobatan yang diberikan dinilai cukup memuaskan dan membantu banyak pasien dalam meningkatkan kualitas penglihatan mereka.
Ia menyoroti bahwa angka kebutaan di Indonesia masih menjadi perhatian serius. Dengan jumlah penduduk yang mendekati 280 juta jiwa, sekitar lebih dari 1 persen di antaranya mengalami gangguan kebutaan. Namun demikian, sebagian besar kasus tersebut sebenarnya masih dapat ditangani, terutama katarak, glaukoma, serta gangguan saraf mata seperti retinopati dan degenerasi makula.
Dalam menjalankan tugasnya, dr. Ferdinand aktif melayani di sejumlah fasilitas kesehatan seperti RSUD Cabangbungin, Kartini Hospital, serta Klinik Utama Assomadiah. Melalui berbagai layanan tersebut, ia berupaya memaksimalkan penanganan pasien guna menekan angka kebutaan, khususnya di daerah Bekasi dan sekitarnya.
Tidak hanya fokus pada pengobatan, dr. Ferdinand juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat. Kegiatan penyuluhan dan pemeriksaan mata gratis kerap dilakukan melalui posyandu, pelayanan publik, hingga kegiatan nasional dan keagamaan. Langkah ini dinilai efektif untuk mendeteksi lebih dini kasus gangguan penglihatan, sehingga penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
Dalam keterangannya, dr. Ferdinand berharap pemerintah terus memberikan dukungan terhadap pelayanan kesehatan mata. Ia juga mengakui bahwa masih terdapat beberapa pasien yang belum dapat pulih secara maksimal, terutama akibat komplikasi maupun keterlambatan dalam melakukan pemeriksaan.
Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap glaukoma yang dikenal sebagai “pencuri penglihatan”. Penyakit ini sering berkembang tanpa gejala awal yang jelas dan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata. Risiko glaukoma dapat meningkat akibat diabetes, hipertensi, trauma, miopia tinggi, hingga faktor genetik.

Selain itu, katarak yang tidak segera ditangani juga dapat menimbulkan komplikasi serius seperti glaukoma yang berujung pada kebutaan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk rutin memeriksakan kondisi mata, terutama bagi yang berusia di atas 35 tahun atau mengalami gangguan penglihatan.
Melalui berbagai kegiatan pelayanan dan edukasi yang dilakukan di wilayah Jakarta, Bekasi, hingga Cikarang, dr. Ferdinand F Tumewu berharap kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mata semakin meningkat. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, angka kebutaan di Indonesia diharapkan dapat ditekan secara signifikan.(Red)

