mediapatriot.co.id | Makassar | Berita Terkini | – Sri Santi, peraih Juara Pengusaha Muda Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2015, terus menunjukkan kiprahnya sebagai pelaku usaha kreatif yang berhasil mengangkat nilai budaya Indonesia melalui produk kerajinan tangan bernuansa adat. Usaha yang dirintis sejak tahun 2012 tersebut berkembang dari skala kecil hingga mampu menembus pasar internasional dengan mengandalkan kreativitas, inovasi, dan pemanfaatan bahan daur ulang.


Perjalanan usaha Sri Santi dimulai dari tekad untuk membangun usaha secara mandiri dengan modal yang terbatas. Berbekal keyakinan, ketekunan, dan kerja keras, ia mulai mengembangkan berbagai produk kerajinan tangan yang mengangkat kekayaan budaya Nusantara. Salah satu produk unggulannya adalah souvenir miniatur baju adat yang dibuat dengan detail dan karakteristik khas dari berbagai daerah di Indonesia.
Tidak hanya memproduksi souvenir baju adat Bali dan kebaya, Sri Santi juga menghadirkan souvenir baju adat dari 34 provinsi di Indonesia. Produk tersebut dibuat untuk memperkenalkan keberagaman budaya Nusantara kepada masyarakat luas, sekaligus menjadi alternatif cendera mata yang praktis dan memiliki nilai edukatif.
Menurut Sri Santi, ide pembuatan souvenir baju adat berawal dari banyaknya teman dan relasi bisnis yang ingin memiliki atau membawa pulang baju adat khas daerah tertentu sebagai kenang-kenangan. Namun, ukuran dan bentuk pakaian adat yang relatif besar sering menjadi kendala dalam proses penyimpanan maupun pengiriman. Dari kebutuhan tersebut lahir gagasan untuk menghadirkan baju adat dalam bentuk souvenir yang lebih sederhana, mudah dibawa, dan tetap memiliki nilai budaya yang kuat.
Dalam proses produksinya, Sri Santi juga menerapkan konsep ramah lingkungan. Sebagian bahan baku yang digunakan berasal dari sisa-sisa kain dan berbagai material bekas yang masih layak pakai. Melalui sentuhan kreativitas, bahan-bahan tersebut diolah menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai seni dan nilai ekonomi yang tinggi.
Pendekatan tersebut tidak hanya membantu mengurangi limbah, tetapi juga memberikan contoh bahwa barang bekas dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai jual. Hasil karya yang dihasilkan memiliki ciri khas tersendiri karena memadukan unsur budaya, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kemampuan Sri Santi dalam menguasai tujuh bahasa turut menjadi faktor pendukung dalam pengembangan usahanya. Kemampuan komunikasi tersebut memudahkannya menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri. Melalui jaringan yang dibangun selama bertahun-tahun, produk kerajinan yang dihasilkannya kini telah dikenal dan dipasarkan ke berbagai negara.
Pemasaran ke pasar internasional menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan usahanya. Souvenir baju adat yang diproduksi tidak hanya diminati sebagai cendera mata, tetapi juga digunakan sebagai media pengenalan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia. Keunikan desain serta keberagaman model yang mewakili berbagai daerah di Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen mancanegara.
Di tengah perkembangan usahanya, Sri Santi tidak hanya berfokus pada aspek bisnis. Ia juga aktif melakukan pembinaan kepada generasi muda melalui berbagai kegiatan pelatihan dan pendampingan keterampilan. Sasaran pembinaannya meliputi anak-anak muda, anak jalanan, anak terlantar, hingga mereka yang pernah terlibat dalam pergaulan yang kurang baik.
Melalui pembinaan tersebut, para peserta diberikan kesempatan untuk belajar keterampilan kerajinan tangan, mengembangkan kreativitas, serta membangun semangat kemandirian. Langkah ini dilakukan sebagai upaya memberikan alternatif kegiatan positif yang dapat membantu mereka meningkatkan kualitas hidup dan membuka peluang usaha di masa depan.
Sri Santi menilai bahwa kreativitas dapat menjadi sarana pemberdayaan yang efektif bagi generasi muda. Dengan memiliki keterampilan dan kepercayaan diri, mereka diharapkan mampu menciptakan peluang serta berkontribusi positif di lingkungan masyarakat.
Komitmennya terhadap kegiatan sosial juga diwujudkan melalui pengelolaan hasil usaha. Sebanyak 30 persen dari pendapatan yang diperoleh dialokasikan untuk membiayai kebutuhan dan pembinaan anak-anak yang berada dalam program pendampingannya. Dana tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan pelatihan, kebutuhan pendidikan, serta berbagai program pengembangan diri.
Sementara itu, sebagian pendapatan lainnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional usaha dan kebutuhan hidup sehari-hari. Prinsip yang dipegang Sri Santi adalah menjadikan usaha sebagai sarana untuk berbagi manfaat kepada sesama, khususnya kepada mereka yang membutuhkan dukungan dan kesempatan untuk berkembang.
Keberhasilan Sri Santi membangun usaha kerajinan berbasis budaya sekaligus menjalankan kegiatan sosial menunjukkan bahwa sektor ekonomi kreatif dapat menjadi wadah pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat secara bersamaan. Melalui karya-karya yang dihasilkannya, berbagai ragam busana adat Indonesia terus diperkenalkan kepada masyarakat luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
(Sumber: Sri Santi)

