mediapatriot.co.id | Jayapura
Mantan gelandang Persipura era 1970-an, Benny Yensenem, menegaskan bahwa setiap organisasi memiliki sejarah yang harus dijaga dan dihormati sebagai fakta. Menurutnya, sejarah sebuah organisasi yang telah menjadi milik publik tidak dapat diubah menjadi milik perorangan tanpa adanya fakta dan peristiwa yang sah.

“Fakta kelahiran sebuah organisasi yang menjadi milik publik tidak mungkin ditukar menjadi milik perorangan apa pun alasannya. Kecuali dilakukan melalui suatu peristiwa yang memang mengubah fakta tersebut,” tulis Yensenem dalam artikelnya berjudul Jangan Melupakan Sejarah Persipura.

Ketua Asosiasi Mantan Pemain Persipura Papua itu mengingatkan bahwa sejarah merupakan fondasi penting yang tidak boleh diabaikan.
“Jangan sekali-kali melupakan sejarah, apalagi mengubah sejarahmu karena ingin membenarkan diri di hadapan publik. Jika sejarahmu benar, engkau akan berdiri teguh bagaikan karang di tengah samudera luas,” ujarnya.

Menurut Yensenem, sejarah sepak bola Papua terbagi dalam dua periode besar, yakni masa sebelum penyerahan Irian Barat kepada Republik Indonesia pada 1 Mei 1963 dan masa setelah penyerahan tersebut hingga lahirnya Persipura serta perkembangan sepak bola Papua saat ini.
AWAL MULA SEPAK BOLA DI PAPUA
Yensenem menjelaskan bahwa sepak bola pertama kali diperkenalkan di Tanah Papua oleh para guru zending yang mendidik calon guru di Miei, Teluk Wondama, sekitar tahun 1925.
Tokoh pendidikan dan misionaris terkenal, Pdt. I.S. Kijne, memasukkan sepak bola sebagai bagian dari kurikulum pendidikan. Para guru yang telah dididik kemudian mengajarkan olahraga tersebut kepada anak-anak di berbagai kampung di Papua.
“Pada masa itu hampir setiap kampung memiliki lapangan sepak bola,” kata Yensenem.
Menurut almarhum Th. Wospakrik, salah satu murid kesayangan I.S. Kijne, sepak bola dipilih karena mengajarkan sportivitas.
“Sebelum dan sesudah pertandingan, kedua tim harus saling berjabat tangan, baik menang maupun kalah,” kenangnya.
LAHIRNYA KLUB-KLUB SEPAK BOLA DI ERA BELANDA
Setelah Perang Dunia II berakhir, wilayah Nederlands Nieuw Guinea ditetapkan sebagai sebuah provinsi. Pemerintah kolonial Belanda kemudian aktif mengembangkan berbagai cabang olahraga, termasuk sepak bola.
Pada periode 1950–1963 berdirilah berbagai klub yang berafiliasi dengan KNVB (Koninklijke Nederlandse Voetbal Bond), federasi sepak bola Belanda.
Beberapa klub yang terkenal saat itu antara lain:
- WIK (Willem is Kunnen)
- DOS (Door Oefening Sterk)
- Pelikan
- DGZ
- MVV
- HVC
- NNGPM
- JVD
- KGL
- VBSO
- VBH
- VHO
Setiap tanggal 30 April digelar turnamen untuk memperebutkan Piala Ulang Tahun Ratu Juliana.
Namun seluruh aktivitas sepak bola terhenti ketika wilayah Papua berada di bawah administrasi sementara PBB (UNTEA) pada 1962–1963.
MASA TRANSISI SETELAH 1 MEI 1963
Setelah Papua resmi bergabung dengan Indonesia pada 1 Mei 1963, kegiatan sepak bola belum langsung berjalan normal.
Menurut Yensenem, klub-klub yang sebelumnya berada di bawah sistem KNVB belum otomatis masuk ke dalam struktur Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).
Saat itu belum ada organisasi pengganti yang mengatur kompetisi seperti sebelumnya.
Beberapa pemain eks VBH kemudian diundang ke Jakarta untuk mengikuti pertandingan ekshibisi menggunakan nama Persibar (Persatuan Sepak Bola Irian Barat).
Nama-nama seperti Gaspar Sibi, Bas Jouwe, Jan Oel, Wim Mariawasi, Dominggus Waweyai, dan Hengky Heipon menjadi bagian dari tim tersebut.
Dari generasi itu, Dominggus Waweyai menjadi pemain Papua pertama yang memperkuat Tim Nasional Indonesia.
KEKALAHAN YANG MENGUBAH SEJARAH
Saat Persibar menghadapi PSA Ambon, mereka mengalami kekalahan telak 5-0.
Namun kekalahan tersebut justru menjadi momentum penting untuk membenahi sepak bola Papua.
Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua kemudian mendorong pembentukan organisasi sepak bola baru sebagai pengganti VBH dan VHO.
Tujuannya bukan hanya mengembangkan olahraga, tetapi juga membangkitkan semangat generasi muda Papua yang saat itu sedang menghadapi situasi politik yang tidak menentu.
PERSIPURA RESMI BERDIRI
Pada 1 Januari 1965, nama Kota Baru resmi berubah menjadi Soekarnopura.
Kemudian pada 25 Mei 1965 dideklarasikan berdirinya Persipura (Persatuan Sepak Bola Soekarnopura).
Tokoh-tokoh pertama yang memimpin Persipura adalah:
- Mesak Koibur sebagai Ketua Umum.
- Barnabas Youwe sebagai Sekretaris Umum sekaligus pelatih kepala.
Sejak saat itu Persipura mulai membangun fondasi sebagai kekuatan sepak bola Papua.
MENEMBUS KOMPETISI NASIONAL
Pada tahun 1967 Persipura mulai mengikuti kompetisi PSSI di Ambon dan berhasil mengalahkan sejumlah klub kuat seperti PSA Ambon, Persma Manado, Persgo Gorontalo, dan Persipare Parepare.
Keberhasilan tersebut membuka jalan bagi Persipura tampil di berbagai kompetisi nasional.
Pada PON VII Surabaya tahun 1968 lahirlah banyak pemain berbakat Papua, antara lain:
- Timo Kapisa
- Azer Mofu
- Hengky Mauri
- Hengky Rumere
- Levianus Doom
- Anton Nunaki
- Yafet Sibi
Nama-nama tersebut kemudian menjadi tulang punggung sepak bola Papua.
ERA KEEMASAN PERSIPURA
Tahun 1970-an menjadi masa kejayaan Persipura.
Beberapa pencapaian penting antara lain:
- Juara Piala Jenderal Jusuf (1975).
- Masuk lima besar klub terbaik Indonesia.
- Menjadi peserta turnamen prestisius Soeharto Cup.
Puncaknya terjadi pada tahun 1976 ketika Persipura berhasil menjuarai Soeharto Cup III setelah mengalahkan Persija Jakarta dengan skor 4-3.
Gol Persipura dicetak oleh Nico Pattipeme, Jacobus Mobilala, Pieter Aitumuna, dan Timo Kapisa.
Kemenangan tersebut menjadi tonggak penting yang menegaskan posisi Persipura sebagai salah satu kekuatan sepak bola nasional.
KRISIS PEMAIN DAN KEBANGKITAN KEMBALI
Pada 1978, Persipura mengalami masa sulit ketika banyak pemain bintangnya pindah ke klub profesional Galatama.
Beberapa pemain yang hengkang antara lain:
- Timo Kapisa
- Rully Nere
- Fred Imbiri
- Tinus Heipon
- Jimmy Pieter
Akibatnya, Persipura mengalami krisis pemain.
Namun memasuki era 1990-an, muncul generasi baru seperti Ferdinando Fairyo, Christian Leo Yarangga, dan Ritham Madubun yang kembali mengangkat prestasi Persipura hingga mampu bertahan sebagai salah satu klub papan atas Indonesia.
JANGAN LUPAKAN SEJARAH
Bagi Benny Yensenem, sejarah Persipura bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan identitas yang harus dijaga oleh seluruh generasi sepak bola Papua.
“Persipura lahir dari perjuangan panjang para tokoh, pemain, gereja, dan masyarakat Papua. Karena itu sejarahnya harus dihormati dan tidak boleh dilupakan,” tegasnya.
(John Karma)

