MENGARUNGI WAKTU, MELINTASI SEJARAH Memoar Perjalanan Hidup Tommy Karwur, M.A.

BAB 1
AKAR KELUARGA DAN PERPINDAHAN KE LEMBAH PALU

Saya lahir dan tumbuh dalam kehangatan sebuah keluarga yang berlandaskan iman, pengabdian, dan nilai-nilai kehidupan yang kuat. Ayah saya, David Charel Karwur, dan ibu saya, Wilhelmina Mapaliey, merupakan sosok yang menjadi pelindung sekaligus teladan bagi kami anak-anaknya.

Dalam keluarga, saya bertumbuh bersama kakak-kakak tercinta, yakni Rossali Karwur, Betsy Karwur, Piet Yan Karwur, dan Lusye Karwur.

Perjalanan keluarga kami mengalami perubahan besar pada tahun 1954 ketika kami meninggalkan Kota Poso menuju Kota Palu. Perjalanan dilakukan melalui jalur laut melintasi Teluk Tomini dan dilanjutkan jalur darat dengan singgah semalam di Kota Parigi.

Setahun kemudian, tepatnya tahun 1955, ayah menerima amanah penting di Kota Palu sebagai Kepala Pendidikan Masyarakat (PENMAS). Selain itu, beliau juga mengabdikan diri sebagai Pendeta GPID (Gereja Protestan Indonesia Donggala).

Di kota inilah masa kecil dan remaja saya mulai terbentuk. Saya turut melayani gereja sebagai Kostor, menggantikan Bapak Kusoy yang telah dipanggil Tuhan. Tugas saya antara lain membersihkan gereja, mempersiapkan ibadah Minggu dan berbagai kegiatan gereja lainnya, membunyikan lonceng gereja pada masa ketika listrik belum tersedia, serta merawat halaman gereja dengan mencangkul rumput-rumput liar. Dari pekerjaan itu saya menerima upah Rp200 per bulan.

Pendidikan dasar saya tempuh di SDN 1 Kota Palu dan kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Palu.

BAB 2
DESINGAN PELURU PERMESTA DAN PENGUNGSIAN KE KULAWI

Masa remaja saya berubah drastis ketika pergolakan PERMESTA melanda Sulawesi. Saat duduk di kelas tiga SMP sekitar tahun 1956–1957, ketegangan politik dan militer memuncak.

Kota Palu yang sebelumnya tenang berubah menjadi wilayah yang mencekam. Di jembatan peninggalan Belanda yang membelah kota, pasukan bersenjata saling berhadapan. Di sisi timur berjaga pasukan setempat dan CPM, sementara di sisi barat terdapat pasukan pusat Batalion R di bawah Letkol Franz Karangan.

Ketegangan juga terjadi di langit Donggala ketika kapal tentara pusat yang berlabuh dibom oleh pesawat Permesta yang dipiloti Alan Pope.

Keluarga kami yang tinggal di Jalan Maesa berada di tengah pusaran konflik. Ketika pertempuran semakin memanas, kami mengungsi menggunakan mobil PU-2 yang dikemudikan Alm. Arnold Pongoh menuju Sibalaya.

Dalam kondisi penuh lumpur dan genangan air, kami bersembunyi di sebuah gubuk kecil bersama keluarga Nelwan dan keluarga Sahetapi.

Perjalanan pengungsian berlanjut melewati Kalawara, Pandere, Jembatan Gumbasa, Omu, hingga mendaki Gunung Potong menuju Kulawi. Setelah bermalam di Matauwe, kami berpindah ke lokasi yang lebih tersembunyi di kaki lembah berhutan.

Suatu hari suasana kembali tegang. Dari arah Gunung Potong terdengar rentetan tembakan yang menggema di langit. Saat itu kami menduga sedang terjadi pertempuran antara Pasukan Brawijaya 501 di bawah Mayor Sumadi dan pasukan Permesta pimpinan Mayor Palar.

Namun di kemudian hari kami mengetahui bahwa suara tembakan tersebut ternyata merupakan salam perpisahan simbolis antara kedua perwira yang memilih menyelesaikan situasi melalui jalan damai.

Karena tidak mengetahui hal tersebut, para pengungsi berlarian panik mencari perlindungan. Banyak keluarga terpisah satu sama lain. Orang tua, anak-anak, dan kerabat tersebar di berbagai tempat persembunyian.

Setelah situasi mereda, kami saling mencari dan akhirnya dapat berkumpul kembali.

Kerinduan untuk pulang ke Palu semakin besar. Ayah saya bersama keponakan kami, Johny (Oni) Wangkanusa, berjalan kaki selama kurang lebih dua hari dari Kulawi menuju Palu untuk memastikan keamanan kota.

Setelah memastikan kondisi sudah aman, kami sekeluarga kembali ke Palu dan memulai kehidupan seperti biasa.

BAB 3
MERANTAU, PENDIDIKAN DAN DUNIA JURNALISTIK

Tahun 1959 menjadi awal babak baru kehidupan saya. Setelah lulus dari SMP Negeri 1 Palu, saya merantau ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan di STM.

Salah satu momen yang paling membekas dalam hidup saya adalah ketika ayah mengantar saya menuju Pelabuhan Donggala. Dari dalam rumah, ibu yang sedang sakit berdiri memandangi saya dengan tatapan yang sulit saya lupakan.

Saat itu saya belum memahami bahwa tatapan tersebut menjadi salam perpisahan terakhir dari seorang ibu kepada anaknya.

Pada tahun 1965 saya melangkah lebih jauh ke Jakarta dan diterima di Akademi Pimpinan Perusahaan (APP) Kementerian Perindustrian Ringan RI yang saat itu berada di bawah Menteri Jenderal M. Jusuf.

Perjuangan selama kuliah tidak mudah. Saya tinggal di kawasan Manggarai dan harus menempuh perjalanan jauh menuju kampus di Karanganyar, Sawah Besar.

Karena keterbatasan biaya, saya sering menumpang kereta api tanpa tiket. Bahkan saya harus melompat turun karena kereta tidak berhenti tepat di lokasi kampus.

Demi bertahan, saya tinggal diam-diam di ruang kosong kampus tanpa diketahui mahasiswa lain. Mereka mengira saya mahasiswa yang sangat rajin karena selalu terlihat berada di kampus pagi hingga malam.

Di tengah perjuangan itu, saya menerima kabar duka yang menghancurkan hati. Ibu tercinta meninggal dunia.

Saya merasa gagal membalas kasih sayang kedua orang tua saya. Kesedihan itu semakin dalam ketika kemudian ayah juga meninggal dunia di Manado saat saya tidak berada di sisinya.

Peristiwa tersebut menjadi luka yang terus saya kenang hingga hari ini.

Dalam masa kuliah saya juga aktif dalam Perjuangan Angkatan 1966, bermarkas di JON Suprapto Pasar Baru Jakarta dan terlibat di Radio Swanara Perjuangan bersama Alm. Max Sopacua.

Saya bertugas membantu operasional radio dengan menjual kartu suara pendengar guna mendukung kegiatan siaran selama 24 jam.

Karena pernah membantu keluarga Letnan Malawere dalam perjalanan kapal Aru Marinir dari Manado ke Jakarta, saya kemudian mendapat kesempatan tinggal di Asrama KOSTRAD Jalan Banteng dan dipercaya menjadi Wakil Ketua RT di lingkungan asrama tersebut.

Sebelum lulus, saya juga menjalani tugas KKL di PT Angkasa Pura Kemayoran pada tahun 1967–1968.

Saya mengucapkan terima kasih kepada kakak saya Lusye Karwur (Almh.) dan Om Umar Allaydrus (Alm.) yang telah membantu membuka jalan sehingga saya dapat melanjutkan pendidikan di Jakarta.

Setelah menyelesaikan pendidikan, saya mulai aktif di dunia jurnalistik yang memperluas wawasan, jaringan, dan pengalaman hidup saya.

BAB 4
KIPRAH PROFESIONAL DI INDUSTRI OIL & GAS DAN MASA PENSIUN

Tahun 1970 menjadi titik awal perjalanan profesional saya di sektor industri minyak dan gas bumi.

1970
Bergabung dengan Dowell Schlumberger (Eastern) Inc. di Cirebon sebagai Manager West Java Out Post. Di kota inilah saya bertemu dengan seorang wanita bernama Suyati Suradiradja yang kemudian menjadi pendamping hidup saya sejak tahun 1972 hingga sekarang.

1973
Bergabung dengan PT Indonesia Petroleum Industry (IPI) yang mengelola Pelabuhan Merak-Tanjung Sekong sebagai Liaison Officer.

1975–1980
Menjadi Exclusive Representative pada perusahaan perdagangan Jepang, Toyo Menka Kaisha Ltd.

1980–2000
Mengabdi selama dua puluh tahun di PT Imeco Inter Sarana sebagai Oil & Gas Section Head yang menangani 32 produk pabrikan internasional.

2000–2004
Menjabat Direktur Pengembangan dan Teknologi PT Cintra Insulindo Abadi (CIA), sekaligus menangani berbagai produk dan kerja sama internasional dari Amerika Serikat, Kanada, China, dan CNOOC.

2004–2006
Menjadi Administration Manager di New Zealand International School (NZIS) sambil tetap menangani berbagai keagenan peralatan Oil & Gas dari Amerika Serikat, Kanada, dan China.

Setelah puluhan tahun berkarya di dunia korporasi dan industri energi, saya memilih tetap aktif sebagai konsultan bisnis.

Perjalanan panjang dari Poso, Palu, Kulawi, Makassar, Jakarta, perjuangan Angkatan 66, dunia jurnalistik, hingga industri Oil & Gas telah membentuk karakter dan pandangan hidup saya.

Saya bersyukur atas setiap langkah yang telah Tuhan tuntun sepanjang perjalanan hidup ini.

Akhir kata, saya mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesempatan, pengetahuan, dan kekuatan untuk menjalani kehidupan ini.

Terima kasih kepada seluruh keluarga, sahabat, rekan seperjuangan, dan para pembaca yang telah meluangkan waktu untuk membaca kisah perjalanan hidup saya.

Tommy Karwur, M.A.

( Sumber: mediapatriot.co.id )


Wartawan di lapangan dibekali Kode Sandi untuk membuka DAFTAR WARTAWAN Dibawah ini: DAFTAR WARTAWAN >>>

Tentang Kami

Mediapatriot.co.id adalah portal berita online nasional yang menyajikan informasi aktual, terpercaya, dan berimbang.

Didirikan oleh jurnalis senior Hamdanil Asykar, Mediapatriot.co.id berkomitmen menjaga integritas jurnalistik sesuai Kode Etik Dewan Pers.

Misi kami adalah menjadi media digital yang membangun kesadaran publik melalui berita edukatif, mendalam, dan bebas hoaks.

Untuk pertanyaan, saran, atau kerja sama media, silakan kunjungi halaman Kontak .

📲 Simak Berita Terpercaya Langsung di Ponselmu!

Ikuti MediaPatriot.CO.ID lewat WhatsApp Channel resmi kami:
Klik di sini untuk bergabung